Sunday, February 5, 2012

Menghidupkan Kembali Klab Baca yang Sempat ‘Mati Suri’


Setiap Rabu Sore, Pk. 17.00 (mulai Rabu, 8 Februari 2012)
Di Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung

Rabu sore di Tobucil akan jadi Rabu yang kosong. Melihat ada kekosongan jadwal itu, tobucilers berniat menghidupkan kembali Klab Baca yang dulu menjadi tonggak awal kemunculan klab-klab di tobucil.
Sebagai langkah awal, karya Puthut EA akan disuguhkan di meja beranda tobucil. Pemilihan karya-karya Puthut EA pun bukan tanpa sebab, selain ketertarikan subjektif dari pengusul, karya penulis muda Indonesia dipercaya mampu merangsang anak-anak muda untuk berkarya, setidaknya mengapresiasi sebuah karya.

Sistematikanya sampai saat ini belum rampung dan mapan karena klab ini terbilang baru (dihidupkan kembali). Meski begitu, setidaknya untuk Rabu ini, teman-teman cukup datang untuk membaca bersama sebuah karya (pada tahap awal ini, akan coba dimulai dengan cerpen) kemudian kita bersama-sama mengapresiasi karya tersebut. Hasilnya boleh jadi sebuah kritik, resensi, ataupun menuliskan karya sendiri.

Tidak perlu persiapan khusus, teman-teman cukup datang dengan niat yang lurus. Tidak juga harus mengerti sastra, ekonomi, politik, ataupun budaya, yang penting bisa membaca. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis. Ateis boleh hadir, asal bukan kader parpol apalagi MLM.

Sekilas Mengenal Puthut EA*



Saya: Puthut EA. Tidak mewakili siapa-siapa, selain diri saya sendiri. Saya takut naik pesawat terbang, susah tidur malam, tidak menyukai kerumunan manusia, dan saya punya selera yang buruk tentang musik, senirupa dan bahkan sastra. Saya tergolong pelupa yang akut, terutama untuk mengingat nama-nama, nomor telepon, nama jalan, alamat surat elektronik, istilah-istilah, rumus-rumus, termasuk kutipan-kutipan di dalam buku-buku dan kitab-kitab suci. Pengetahuan saya buruk sekali menyangkut otomotif dan komputer.

Saya suka membaca buku, dan suka menulis. Buku-buku yang saya sukai adalah buku-buku sejarah, termasuk biografi, dan buku-buku ekonomi-politik. Saya menulis beragam tema, bahkan tema-tema yang tidak saya ketahui, sebab di proses itulah saya bisa belajar. Seorang penulis yang baik, menurut saya, adalah seorang pekerja keras dan mau belajar, terutama belajar mengenal dirinya sendiri dan batas-batas kemampuannya. Jika mengerjakan proyek penulisan, saya suka tenggat yang mepet. Di saat seperti itulah, di dalam tekanan waktu dan tanggungjawab, saya merasa menemukan diri saya dan kekuatan-kekuatan yang saya miliki, yang kerap kali tidak saya sadari. Saya tidak suka proyek-proyek jangka panjang, karena kadang-kadang saya gila kerja, dan tidak punya cukup kesabaran untuk mengikuti itu semua.

Saya bukan jenis orang yang bisa melakukan sesuatu dengan serbaserempak. Saya tidak bisa makan sambil membaca koran atau menonton televisi. Bahkan saya tidak bisa menulis sambil mendengarkan musik atau membaca sambil mendengarkan musik.

Saya penikmat kopi, terutama kopi hasil racikan saya sendiri. Saya suka memasak apalagi jika berbahan ikan laut. Tempat favorit saya adalah kamar saya sendiri dan stasiun kereta api. Saya tahan berminggu-minggu berada di dalam kamar, sendirian. Saya juga sangat menikmati kesendirian di stasiun kereta api, bisa sampai beberapa hari, terutama di stasiun kereta api Gubeng, Surabaya.

Saya gampang sekali suntuk. Jika sudah seperti itu, paling-paling yang bisa saya kerjakan hanyalah menonton televisi dan film di dalam kamar, atau pergi ke toko buku, berkeliling dari satu rak ke rak yang lain, berbelanja buku sebanyak-banyaknya, capek, lalu pulang.

Saya menyukai perjalanan, terutama dengan menggunakan moda transportasi darat dan laut. Saya suka naik kereta api dan kapal laut. Di dalam hal ini, saya suka kelambatan, saya menikmati perjalanan itu sendiri dan bukan tujuan, peristiwa-peristiwa di sekitar, dan momen-momen yang bergerak lambat.

Untuk menjaga kesehatan, saya hanya melakukan dua hal: rajin minum air putih dan rajin melakukan yoga. Tentu saja, dua hal itu kadang tidak cukup untuk menghadang datangnya penyakit ke tubuh saya. Sejak kecil, saya selalu terobsesi kepada orang-orang yang sedang merokok, dan dalam usia yang relatif muda saya sudah menghisap kretek. Sampai sekarang saya masih merokok, dan tidak pernah punya sedikit pun keinginan untuk berhenti melakukannya.

Saya penggemar tontonan sepakbola yang saya nikmati lewat layar kaca. Dan saya punya hubungan emosional yang kuat dengan kesebelasan AS Roma, Italia. Jika AS Roma berlaga, perasaan saya berkecamuk. Dan jika AS Roma memenangi pertandingan, saya merasa hidup saya luar biasa, sebaliknya jika kalah, saya merasa hidup ini menyedihkan.

Saya percaya kepada pengaruh energi positif, kebaikan manusia dan solidaritas sosial demi masa depan kehidupan yang lebih baik, juga kebalikannya. Saya percaya kepada karma, dan kadang-kadang saya percaya kepada reinkarnasi. Saya suka berkenalan dan bekerjasama dengan orang, terutama yang merasa punya tanggungjawab dan agenda sosial. Saya suka berkenalan dengan orang-orang baru yang berenergi positif, sekaligus saya tidak pernah menyesal untuk meninggalkan orang-orang lama yang saya anggap berenergi negatif dalam hidup saya. Di dalam hidup ini, saya berusaha menjaga sikap optimistis sekalipun saya kerap didera pesimistis. Sebagaimana banyak manusia yang lain, di dalam diri saya mengeram ironi, paradoks dan ambiguitas. Merenangi itu semua, kutub-kutub yang berseberangan serta wilayah yang mendua, sering kali membuat saya letih dan sedih. Tetapi saya yakin, keletihan dan kesedihan itu bisa membuat saya dewasa secara spiritual.

Sejak kecil sampai sekarang, entah kenapa, saya selalu menyimpan sejenis cita-cita untuk menjadi seorang detektif sekaligus seorang pembunuh bayaran.
*) Diambil dari website pribadi Puthut EA http://www.puthutea.com

Beberapa Karya Puthut EA

Karya Tulis

The Show Must Go On Bencana Ketidakadilan (2010) 154 Questions for Alfie (2010)Menanam Padi di Langit (2008)

Kumpulan Cerpen

Dua Tangisan pada Satu Malam (2005) Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006) Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001) Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (2009) Sarapan pagi penuh Dusta (2004)  Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar (2009)

Novel

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (2009) Bunda (2005) berdasarkan screen play Cristantra Beli Cinta dalam Karung

Naskah Drama

Orang-orang yang Bergegas (2004) Jam Sembilan Kita Bertemu (2009) Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta (2009)

Prosa Liris

Tanpa Tanda Seru

Biografi

Jejak Air (Biografi Politik Nani Zulminarni)
Google Twitter FaceBook

Warung


Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012 oleh Syarif Maulana

Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok. Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja."

Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai "type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia." Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata bawah sekalipun. Tentunya juga secara fisik ukurannya harus relatif kecil. Karena kita semua tidak menyebut Alfamart, Circle K, atau Indomaret sebagai warung meskipun menjual barang-barang harian. Dekat rumah saya pun syahdan ada warung namanya Warung Ibu Yana, tapi ketika dalam perkembangannya ia menjadi ekspansif, memakan lahan lebih, kami menamakannya: Toko Ibu Yana.

Kesadaran saya tentang warung dimulai pada suatu pagi sekitar setahun lalu ketika mencari-cari tempat yang asyik untuk mengerjakan tesis. Saya memilih sebuah kafe di Burangrang yaitu Ngopi Doeloe. Sebelum masuk ke kafe tersebut, ada pemandangan lucu tepat di depan pagar kafe itu. Ada warung kopi teronggok dengan nama yang sama: Ngopi Doeloe. Bedanya jelas jauh, yang satu besar yang satu kecil. Yang satu menunjukkan identitas via plang menjulang ditopang tiang, satu lagi hanya dicat saja di dinding kayunya. Tanpa harus membandingkan, common sense saya langsung tahu: harganya juga jelas beda berjauhan. Tapi satu hal yang saya tidak berani melakukan penilaian buru-buru adalah: Apakah "Ngopi Doeloe besar" rasa kopinya lebih enak dari "Ngopi Doeloe kecil"? Apakah "Ngopi Doeloe besar" pelayanannya lebih ramah dari "Ngopi Doeloe kecil"?

Kapitalisme menjawab itu semua. Bahwa memang yang besar belum tentu lebih enak dari yang kecil, memang yang besar belum tentu lebih ramah dari yang kecil, tapi satu hal yang pasti: Yang besar bergaya hidup lebih eksklusif, yang besar lebih menunjukkan kamu punya uang dan citarasa daripada yang kecil. Eksklusifisme itu, entah dibangun dari mana, bisa jadi dari tembok beton dan plang yang menjulang, atau memang harga yang sekalian dimahalkan. Saudara saya yang kerja di Starbucks mengatakan, "Tidak masuk akal kopi tubruk pakai mesin 40.000 per gelas." Ada fakta yang tak bisa diganggu gugat: Orang tetap minum seharga 40.000 meski rasanya sama dengan yang 2.000. Meski secara hitung-hitungan ekonomi jelas tidak masuk akal!

Tak hanya itu, kapitalisme juga mengadopsi "sari-sari" warung. Warung, karena ukurannya yang kecil, tidak bisa tidak penjual dan pembeli bertemu bertatap muka. Ada trust disana, ada pembacaan gestur menyeluruh, ada kegiatan yang sama sekali tidak mereduksi hubungan kemanusiaan, seperti kata Levinas, "Wajah adalah aku yang lain." Di "warung besar" hal seperti itu juga dilakukan. Para pelayan wajib ramah, menampilkan wajah yang sumringah, dan bersikap seolah-olah ini semua adalah warung keseharian, warung rakyat Indonesia yang bermodalkan kejujuran.

Dalam balutan keangkuhan kapitalisme, warung-warung besar menampilkan sisi "kiri" dan "proletariat"-nya justru lewat para pelayan. Padahal kita semua tahu, para pelayan restoran pastilah bisa ramah hingga terlihat alamiah karena di-training berbulan-bulan. Sedangkan pemilik warung bisa ramah karena memang ingin ramah, bisa juga kalau dia ingin judes. Bisa saja jika pemilik warung cantik dan dia digoda pria bujang, maka sang pemilik menampakkan muka jutek untuk menolak godaan. Tapi di warung besar itu mustahil, semerasa dilecehkan apapun pelayan perempuan, ia haruslah punya cara menampik yang tidak merugikan pasaran perusahaan. Keramahan macam ini jelas mengasyikkan bagi para konsumen yang tidak suka realita. Tapi sekaligus kita juga tahu bahwa keramahan para pelayan yang sedang dalam posisi proletariat, selalu atas nama perusahaan, bukan atas dasar hati nuraninya yang paling dalam.

Warung kecil, pada titik ini, punya martabat kemanusiaan yang adiluhung. Tidak ada suatu kepalsuan serius di dalam lingkup transaksinya. Bahkan banyak ibu-ibu warung makan yang tidak pernah mengecek apa saja yang konsumen makan, ia hanya bertanya langsung dan berharap kejujuran. Konsumen bohong bisa saja, tapi si ibu tak ambil pusing, ia pasti berpikir, "Kejujuran selalu menang. Yang dusta pasti ada balasannya." Hanya warung kecil yang punya kemungkinan seseorang dapat gratis rokok karena bisa memberikan suatu obrolan memikat di petang itu, yang punya kemungkinan dua manusia ribut oleh sebab problem tatapan mata yang nyalang antara keduanya, yang punya kemungkinan dihutangi dengan jaminan kepercayaan semata. Dalam warung kecil ada dinamika kehidupan yang mini, yang memang pada kenyataannya hidup sekompleks itu. Yang sungguh disederhanakan persoalannya di warung besar. Di warung besar kamu tinggal bayar maka segala-gala realitas kehidupan disembunyikan. Hidup itu manis ketika kamu bayar!

Harusnya kita sedikit berkaca pada proses kelahiran dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Mereka lahir bukan dari kepalsuan warung-warung kapitalistik, tapi di sebuah warung kecil bernama Café de Flore. Kafé, sebelum dimiskonsepsikan jadi sarang para borjuis, dulunya menjadi tempat para proletar bertukar pikir dan melahirkan ide-ide brilian. Harusnya, dengan harga makanan murah dan tampilan dunia apa adanya, sudah seyogianya warung kecil menjadi tempat orang membangun fondasi untuk merubah dunia. Di warung kapitalistik, orang tak bisa melihat dunia, orang tak bisa berpikir terlalu jauh. Mereka terhalang tembok yang terlalu tinggi, mereka sibuk memikirkan citra apa yang melekat.
Google Twitter FaceBook

Kelas Filsafat Tobucil: Ideologi



Gambar diambil dari sini

Hujan yang cukup deras mengguyur Bandung sore ini tidak membuat kelas filsafat sepi. Rudi, Grace, Harun dan Ami sebagai mentor tetap semangat hadir untuk membicarakan suatu tema yang suka tidak suka merupakan tema penting bagi pemetaan perkembangan arus pemikiran dunia. Rosihan Fahmi kali ini hadir sendiri sebagai mentor yang akan memandu kelas filsafat, sementara Syarif Maulana kabarnya sedang sakit atau barangkali menjaga agar tidak sakit karena tanggal sakral baginya tinggal hitungan hari. Lalu, apa kiranya yang membuat keputusan Ami untuk tetap mengajar meskipun hujan deras, sementara Syarif dan beberapa peserta kelas filsafat lainnya memutuskan untuk menjaga kondisi di rumah? Apakah suatu keputusan ideologis atau semata-mata hanya pertimbangan skala prioritas? Jika sebuah alasan ideologis, apa sebenarnya ideologi itu sehingga mampu menggerakan manusia hari-hari ini?

Melalui kacamata paling awam, kita seringkali memahami ideologi dan agama dengan suatu kerangka pandang yang barangkali sama. Tidak jarang kita melihat kisruh dua kepentingan yang saling bertolakbelakang di media massa—yang sejauh pengamatan awam saya—merupakan ‘perang ideologis’ bahkan ‘perang ideologi-agama’. Mungkin kita bisa menengok kembali bagaimana kerasnya Front Pembela Islam (FPI) dalam setiap aksinya. Atau yang masih hangat, Alex Aan—begitu ia dipanggil— yang dihajar massa karena mengaku dirinya ateis. Juga masih banyak lagi konflik-konflik horizontal yang terjadi antar elemen masyarakat lainnya hari-hari ini.

Maka dari itu, mari kita lihat lebih dekat. “Ideologi, sejak kemunculannya merupakan suatu sistem pemikiran dan atau gagasan yang dibakukan melalui suatu kerangka ilmiah. Secara sederhana, ideologi dapat kita artikan sebagai ajaran, paham, atau –isme. Sementara Agama, sejak lahirnya sudah memberanikan diri merangkul segenap aspek kehidupan manusia. Agama pada titik ini bisa diartikan sebagai way of life yang tentu saja di dalamnya terdapat beberapa sisi ideologis juga.” Begitu tutur Ami saat membuka kelas sore ini.

Beberapa filsuf mendefinisikan kelahiran ideologi sebagai bentuk resistensi terhadap paham-paham agama yang mereka anggap sudah dekaden, tidak memanusiakan manusia, mandek pada suatu tatanan paham yang bersumber pada eksistensi supra-rasional. Apalagi semenjak renaissance, manusia modern semakin alergi dengan sesuatu yang tidak rasional. Di masa inilah ideologi mengalami puncaknya setelah sekian lama masa inkubasi di abad pertengahan, dimana gereja (agama) begitu berkuasa sehingga membuat para pemikir mati suri.

Sejak masa itu, kita bisa mengenal dan melihat bagaimana ideologi menjadi begitu jumawa. Semua berebut posisi—alih-alih legitimasi—untuk menjadi pemegang tunggal otoritas kebenaran. Bahkan di masa ini juga lah agama seolah kalah pamor dibanding ideologi-ideologi besar seperti kapitalisme, marxisme, eksistensialisme, positivisme, dan segerombolan geng-geng berkuasa nan jumawa lainnya.

Lalu Ami melanjutkan dengan pembahasan beberapa arus besar ideologi yang sempat (dan masih) berkuasa hingga saat ini. Ijal, seorang peserta yang merangkap sebagai notulen untuk blog tobucil menambahkan contoh menarik tentang rasionalitas, “Saya ingat petikan dialog didalam buku Ayu Utami; Bilangan FU bahwa harga marmer seratusribu di kota tidak membuat tukang batu marmer di Sewugunung dapat menjual marmernya lebih dari seribu. Harga seratus ribu di kota bagi tukang batu di Sewugunung adalah sesuatu yang tidak rasional, begitupun sebaliknya. Kita kadung percaya pada suatu suprastruktur yang terspesialisasi, seperti ketika akan naik pesawat, kita—orang yang mengatakan dirinya rasional dan modern—tidak pernah khawatir akan kemampuan pilot. Pada titik ini, jika memakai kerangka rasional, kita sudah tidak bisa dikatakan rasional lagi. Ini kembali pada ‘percaya’, menggantungkan sesuatu pada hal diluar diri.” Lalu, apa sebenarnya yang dinamakan rasional itu?

Ami menambahkan cerita nyata dari temannya yang seorang misionaris sempat kuliah diluar negeri yang dibiayai oleh gereja. Ketika ia pulang ke Indonesia, ia ditempatkan di Gunung Halu, Cililin- Kab.Bandung Barat untuk berbaur dengan petani setempat (lebih tepatnya buruh tani). Setelah dua tahun disana, ia mengalami banyak peristiwa ‘irrasional’ yang mempertemukannya dengan petualangan spiritual. Setelah selesai tugasnya di Gunung Halu, Ami dan kawan-kawan lainnya sempat mengunjungi ke rumah misionaris tersebut. Hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah “ideologi apa lagi yang kalian bawa? sudahlah!”

Ketika cara berpikir kita dibentuk melalui suatu institusi pendidikan yang sama, maka yang dinamakan rasional akan sama pula. Bagi sebagian kalangan terpelajar, adalah tidak rasional melihat pawang hujan mampu mencegah atau menggeserkan hujan. Tapi bagi pawang hujan, adalah tidak rasional melihat kaum terpelajar melalukakan tindakan anarkis di jalanan untuk membela masyarakat tertindas. Mereka akan bertanya “Masyarakat mana yang dibela?” karena ketika kaum terpelajar itu sibuk orasi, buruh dan petani tetap adem saja di ladang dan pabriknya. Itu semua tidak rasional bagi kalangan tertentu dan sangat rasional bagi yang lainnya.

“Ya memang, setiap pola penalaran punya cara rasionalisasinya sendiri.” Begitu simpul Ami sambil menghisap Dji Sam Soe nya yang bagi sebagian orang tidak rasional untuk menghabiskan cukup banyak rokok kretek dalam beberapa jam saja.
Lalu jika begitu, jangan-jangan agama—sebagaimana dipandang hari ini oleh beberapa orang yang anti-agama— menjadi buruk karena kurang luasnya cara pandang yang mengakibatkan kekeliruan kesimpulan. Kekeliruan menemukan rasionalisasi yang tepat. Maka barangkali benar adanya bahwa manusia yang tidak berpikir akan tumpul, yang berpikir tanpa metode dan perspektif yang tepat akan limbung, dan manusia yang cerdas adalah mereka yang mampu menggunakan metode dan perspektif sesuai dengan kajiannya.

Begitupun Syarif, baginya akan lebih rasional untuk istirahat dirumah saat cuaca sedang buruk. Karena beberapa hari lagi ia akan melepas masa lajangnya. Selamat jalan Syarif, semoga galaunya sembuh oleh pernikahan ya.

--------------------------------------

Google Twitter FaceBook

Monday, January 30, 2012

Kelas Filsafat: Manusia Dalam Kajian Modernisme


Menurut pemahaman yang paling awam, manusia bisa diartikan sebagai mahluk hidup yang berpikir. Benarkah manusia merupakan satu-satunya mahluk hidup yang berpikir? Dengan itukah spesies bernama manusia membangun peradabannya? Lantas bagaimana isu-isu modern pada kajian manusia dapat kita bedah?

Kelas filsafat hari ini cukup meriah meskipun tidak digawangi langsung oleh kedua mentornya, Rosihan Fahmi berhalangan hadir. Hari ini hanya ada Syarif Maulana yang berusaha mengupas manusia dalam prespektif modern.
Jauh sebelum zaman dikatakan modern, manusia telah mengenal semesta raya dengan caranya, zaman itu bisa ditandai dengan satu kata kunci: teosentris. Semua gejala-gejala alam seringkali dikaitkan dengan tangan tuhan yang ikut berperan, alih-alih tuhan jadi segalanya, tuhan jadi pusatnya. Puncaknya pada abad pertengahan dimana gereja berkuasa, praktis para pemikir zaman itu mengalami ‘mati suri’. Belum lagi holocaust yang menjadi dampak begitu digjayanya gereja (agama) saat itu membuat manusia menjadi geram dengan agama dan premis-premis supra-rasional. Dalam filsafat sendiri, lahirnya Descartes dengan cogito ergo sum nya digadang-gadang sebagai godam yang membangunkan para filsuf dari tidur panjangnya, Descartes sebagai bapak filsafat modern.

Manusia di era modern dijadikan pusat segalanya, antroposentris. Pemikiran-pemikiran besar dan penemuan-penemuan mutakhir pun mengalir dengan deras. Manusia menjadi bebas, bebas melakukan apapun tanpa takut lagi pemikiran dan penemuannya bertentangan dengan doktrin agama. Jika kita lihat kebelakang, kita bisa melihat bagaimana Copernicus yang dibakar gereja karena teori Heliosentrisnya.

Lahirnya kebebasan itu pun membawa konsekuensi logis bagi manusia, sejak era modern para tokoh besar mulai berani mengumumkan dirinya ateis di depan publik. Sebut saja lima tokoh ateist terbesar sepanjang zaman (Franz Magnis Suseno): Fuerbach, Marx, Freud, Nietzsche, Sartre. Kelima tokoh ini meskipun dalam ‘pembunuhan’ tuhannya memiliki berbagai argumen yang berbeda, namun nadanya kurang lebih sama. Bahwa manusia merdeka dan bebas maka tidak ada yang namanya tuhan. Nietzsche mengatakan lebih lanjut bahwa orang yang beragama berarti ia masih kekanak-kanakan yang ketika keinginannya tidak tercapai, ia akan merengek pada orangtuanya sebagai simbol kekuatan yang lebih besar.

Pembahasan berlanjut dengan terfokus pada gagasan-gagasan kelima tokoh ateis tersebut, Syarif Maulana mengupasnya satu-persatu dengan cermat. Membandingkannya dan mencari narasi besar yang menaunginya. Karena memang di era modern ini, semua isu memiliki grand narative yang dibangun demi otoritas kebenaran. Termasuk kita perlu mencurigai narasi besar itu, jangan-jangan memang kekuasaanlah yang justru paling berperan dalam membangun otoritas kebenaran tersebut. Rasio, sebagaimana sering dijadikan tuhan baru jangan sampai menjadi berhala seperti halnya tuhan di abad pertengahan. Karena sesungguhnya pengetahuan rasional tentang harga marmer seratus ribu di kota tidak membuat tukang batu di desa bisa menjual marmer kampung halaman dengan harga lebih daripada seribu.

Seperti halnya kelas filsafat sore ini di beranda Tobucil, jangan sampai Syarif Maulana lah yang memiliki kekuasaan atas kebenaran membuat para peserta lumpuh dan mati suri, karena sedari awal tujuan filsafat modern sesungguhnya hanyalah pembebasan dan memanusiakan manusia.


25 Januari 2012
Google Twitter FaceBook

Sunday, January 29, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Shoegaze, Sikap atau Style?

Minggu, 29 Januari 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang hari itu diisi oleh sebuah topik tentang musik shoegaze. Diecky K. Indrapraja selaku koordinator mengundang Riyan Hidayat untuk membicarakan topik yang bagi sebagian dari anak-anak KlabKlassik tergolong asing. Yang hadir pada diskusi itu ada sekitar enam orang.

My Bloody Valentine, contoh band shoegaze yang melakukan gaya khas "melihat sepatu". Gambar diambil dari sini.


Riyan yang cukup aktif di komunitas KlabJazz ini, memulai presentasinya dengan membicarakan sejarah shoegaze itu sendiri. Riyan menyebutkan awal berkembangnya shoegaze dimulai dari sekelompok band yang tampil dalam satu kafe. Seorang pengamat yang duduk di antara penonton dengan jeli melihat kesamaan diantara kelompok band yang tampil tersebut, yaitu: Semuanya beraksi panggung dengan diam, melihat ke bawah, seolah pada sepatunya sendiri! Itulah cikal bakal kenapa disebut dengan shoegaze. Pertanyaan berikutnya: Apakah shoegaze itu sikap (melihat sepatu) atau suatu style (punya ciri musikal)?

Pertanyaan ini mengemuka setelah Riyan menemukan bahwa band shoegaze kontemporer tidak lagi bersikap "melihat sepatu", artinya suatu musik disebut shoegaze pastilah punya ciri khas musikal. Untuk mendiskusikan ini, Riyan memutar empat contoh musik shoegaze dari empat kelompok yang berbeda, salah satunya yang terkenal adalah My Bloody Valentine. Berdasarkan apa yang didengarkan, diperoleh beberapa kesimpulan tentang apakah shoegaze itu, misalnya Diecky, "Ada riff gitar yang diulang-ulang.", lalu Afifa, "Vokal yang terdengar seperti mengawang-awang," Galih menyebutkan, "Sedikit monoton."

Apapun itu, tapi setidaknya pengetahuan tentang shoegaze mulai terfondasikan pada para peserta. Sebelum datang ke tempat diskusi, Rahar dan Afifa mengeluhkan hal yang sama, "Pengetahuan tentang shoegaze nol banget nih." Loh, bukannya hanya gelas kosong yang bisa diisi?

Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat: Status Online

Senin, 23 Januari 2012

Sesuai kesepakatan sebelumnya, Klab Filsafat edisi kedua membahas "status online". Ini tidak lepas dari pembahasan Kelas Filsafat untuk Pemula hari Selasa yang tengah membahas subtopik "agama". Kata Bang Iqbal, sang pengusul, status online adalah semisterius wahyu, kita tidak bisa tahu darimana datangnya, namun ia terpampang di hadapan sebagai fenomena yang dibaca dan diwartakan. Meski demikian, Bang Iqbal sang pengusul tidak datang di hari diskusi, maka itu pembahasan tentang status online ini menjadi tidak terbatas dikaitkan dengan agama.

Klab hari itu dihadiri delapan orang, masing-masing mulai bercerita tentang apa yang mendasari dirinya menulis status online, dimulai dari jaringan sosial Facebook. Diecky punya jawaban menarik, "Aku ingin dengan orang membaca status-status aku, orang jadi tahu siapa aku." Artinya, Diecky menjadikan status sebagai identitas diri. Sedangkan beberapa lainnya tidak punya pakem tentang status itu harus seperti apa. Grace misalnya, "Gue sih kadang status pendek, kadang panjang. Tergantung mood aja."

Pembicaraan mulai masuk pada pembedaan antara status di Facebook dengan Twitter. Di Facebook, status bisa ditulis dengan ribuan karakter (kabar terakhir bahkan menyebutkan bisa hingga 63.206 karakter!) sedangkan Twitter hanya 140 karakter. Perbedaan jumlah karakter ini tentu saja membedakan cara berekspresi, ibarat sempit luasnya kanvas bagi seorang seniman. Kata Pirhot, "Keterbatasan twitter yang 140 karakter itu harusnya tidak dijadikan miss-use bagi sebagian orang yang suka membuat kultwit (kuliah twitter-red)." Maksudnya, masing-masing jaringan sosial punya fungsinya masing-masing. "Atau misalnya pengen bikin tulisan yang panjang, kan udah ada blog atau Facebook. Twitter harusnya memang difungsikan untuk menuangkan tulisan-tulisan pendek." Argumen Iyok ini mendapat pro dan kontra, menjadikan diskusi semakin hidup.

Meski demikian, di tengah-tengah pro dan kontra tentang "etika menulis status", Theo menyiratkan kerinduannya terhadap diari. Kenapa? "Karena diari itu adalah tempat curhat yang personal. Sekarang orang sudah tidak bisa lagi membedakan tempat curhat personal dan publik karena adanya status. Maka itu sebetulnya ada keuntungan tersendiri dari generasi orang yang pernah menulis diari, yaitu punya pengetahuan tentang mana yang harus dicurhatkan dan mana yang tidak." 

Generasi diari, hmmm.






Google Twitter FaceBook

Monday, January 23, 2012

Resital Empat Gitar


Kamis, 26 Januari 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Jam 19.30 - 21.00
Info Tiket:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Program acara:

Polonaise Concertante Op. 137 no. 2 (Mauro Giuliani) - Royke, Syarif
Brandenburg Concertos no.3 BWV 1048 (Johann Sebastian Bach, arr. Jeremy Sparks) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Danza Espanola no. 2 "Oriental" (Enrique Granados) - Bilawa, Widjaja
La Cumparsita (Matos Rodrigues, arr. Diecky K. Indrapraja) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja

Interval

Carawitta & Fugue (Fauzie Wiriadisastra) - Royke, Syarif
Danza de "La Vida Breve" (Manuel de Falla) - Bilawa, Widjaja
Carmen Suite: Introduction, Habanera, Entr'act (George Bizet) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Obituari (Bilawa Ade Respati) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja



Profil pemain:

Bilawa Ade Respati (Balikpapan, 24 Mei 1987) mulai belajar gitar klasik pada Benjamin Limanauw di sekolah musik Dita Corona Balikpapan dari tahun 2000-2002. Sempat belajar secara otodidak dan kemudian melanjutkan belajar gitar pada Ridwan B. Tjiptahardja di Bandung tahun 2005-2010. Selain belajar gitar, juga sempat mempelajari komposisi musik pada Fauzie Wiriadisastra. Beberapa kali mengadakan resital bersama grup trio Tiga Gitar dalam Resital Tiga Gitar (Bandung, 2008), dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu dalam Resital Tiga Gitar Plus Satu (Bandung, 2009), dan duet dengan Widjaja Martokusumo dalam Romantic Music at Kerkhoven (Bandung, 2009). Bilawa juga sering berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta baik sebagai solois atau duet dengan violinis Fiola Christina Rondonuwu. Masterclass yang pernah diikuti yaitu dengan Iwan Tanzil (2006) dan Miguel Trapaga (2010). Baru saja menyelesaikan studinya di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung tahun 2011, kini aktif di komunitas Klabklassik Tobucil, Ririungan Gitar Bandung, sebagai program manager Garasi 10 dan mengajar gitar klasik.

Royke Ng (Bandung, 11 Januari 1982) pertama kali belajar gitar klasik kepada Bapak Joko. Lalu ia belajar pula kepada Bapak John Korompis, Bapak Krishnan Mohammad, Bapak Kadar, dan Bapak Ridwan B. T. Prestasi yang pernah diraih oleh lulusan Matematika ITB ini adalah: Juara I BTC Guitar Competition kategori klasik senior (2003), Juara I BTC Guitar Competition kategori pop (2003 & 2005), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Jawa Barat (2003 & 2004), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Nasional (2004). Selain itu, ia adalah semifinalis Spanish Guitar Awards (2001) dan Singapore International Guitar Competition (2006). Selain mengajar gitar, ia juga menjadi juri di beberapa kompetisi musik dan penguji. Masterclass oleh gitaris dalam dan luar negeri pun ia ikuti. Royke Ng juga tampil dalam Acara Beasiswa Nias, ITB Untuk Indonesia, dan lain-lain. Pada tahum 2009, dia bersama rekan-rekannya malam ini menggelar Konser Tiga Gitar Plus Satu. Di tahun 2011 Royke Ng dan rekan-rekan mendirikan Stretto (klab hobi bermain musik klasik) dan Musici Parvi (2012, wadah untuk pemusik klasik anak dan remaja).

Syarif Maulana (Bandung, 30 November 1985), belajar gitar klasik sejak usia tiga belas tahun pada Kwartato Prawoto. Pada usia delapan belas, Syarif melanjutkan belajar gitar klasik pada Ridwan B. Tjiptahardja. Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara III BTC Guitar Competition Kategori Pop (2005), Semifinalis Festival Gitar Nasional Yogyakarta (2006), Juara III Yamaha Student Contest Tingkat Sekolah Musik (2007), dan Juara III Bandung Spanish Guitar Festival Kategori Senior (2007). Syarif juga sempat mengikuti masterclass oleh Iwan Tanzil dan Alessio Nebiolo. Aktif di komunitas KlabKlassik sejak 2005 dan mengajar gitar klasik di beberapa tempat. Syarif pernah mengadakan empat kali resital, yaitu Resital Gitar Klasik Syarif Maulana (2006), Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata (2007), Resital Tiga Gitar (2008) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (2009). Syarif juga lulus dari grade 8 ABRSM untuk praktek dan grade 5 ABRSM untuk teori.

Widjaja Martokusumo (Jakarta, September 1966) belajar gitar klasik pertama kali tahun 1978, kemudian 1979-1982 berguru pada David H. di Yayasan Pembinaan Musik Indonesia, Jakarta. 1982-1984 melanjutkan pendidikan musik di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) yang dikelola oleh pianis Rudi Laban. Di sini, dia belajar gitar pada Adis Sugata dan teori/sejarah musik pada Alex Paat, dan ikut pagelaran Konser 30 Tahun berdirinya YPM dan Sekolah YPM (Jakarta, 1983) dan Konser Musik Remaja YPM I (RRI Bandung, 1984). 1984-1986 ia belajar privat gitar klasik dengan Reiner Chaidir Wildt dan mengikuti beberapa masterclass gitaris Suzuki dan Julian Byzantine. Bergabung dengan Klabklassik sejak Classical Guitar Fiesta (CGF) Agustus 2006 dan menjadi anggota juri dalam CGF 2008. Sejumlah resital yang dilakukan meliputi Resital Tiga Gitar (Gramedia, Bandung, 2008), Quintet Gitar (acara International Year of Astronomy 2009) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (CCF Bandung, 2009). Ia juga bermain duet bersama Bilawa Ade Respati (Wisma Kerkhoven, Lembang, 2009) dan acara pembukaan Pameran Dua Arsitektur Jerman 1949-1989 (Campus Centre ITB, September 2011). Widjaja Martokusumo adalah dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik SAPPK.
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist #9: Dari OST Final Fantasy #8 sampai King Crimson

Minggu, 22 Januari 2012

Setelah berbulan-bulan edisi playlist tidak muncul, hari Minggu kemarin akhirnya muncul lagi. Yang hadir tidak terlalu banyak, namun pembahasan melebar hingga dua setengah jam. Ditambah lagi, di tengah-tengah kegiatan, operator Adrian Benn mempresentasikan hal yang menarik: Musik Video Game.

The Fragment of Memory Theme of Final Fantasy 8
Lagu yang dibawa oleh violinis Angsa dan Serigala, Afifa Ayu ini, adalah musik yang keluar dari format string quartet. Katanya, "Karena saya sering dengar kakak saya main game tersebut, jadi terngiang-ngiang." Mas Ismail Reza menyebutkan, "Final Fantasy memang selalu menggarap musik di game secara serius, sehingga impresi pemain menjadi kuat." Musik bawaan Afifa ini menimbulkan diskusi segar yang digagas Benn. Ternyata diam-diam ia membawa materi presentasi tentang evolusi musik dalam game mulai dari console Atari, Nes, SEGA, hingga PC. "Keterbatasan hardware," kata Benn, "Membuat musik pada mulanya hanya dua suara saja, hingga lanjut empat suara, dan akhirnya bisa digital recording." Presentasi Benn ini membuat para peserta playlist jadi diwawaas, ingat masa kecilnya.

 Presentasi Adrian Benn. Foto oleh Ismail Reza.

Nessun Dorma and Joy to the World (Twelve Girl Band)
Lagu yang diputar oleh Benn ini, menampilkan orkestra instrumen Cina yang tampil di Shanghai. Pembahasan menjadi masuk ke perbandingan orkestra instrumen Barat dan instrumen Cina. Kata Diecky, "Bagaimanapun orkestra Barat lebih kompleks daripada Cina. Namun perlu diingat bahwa Cina dalam satu oktaf punya 24 nada yang dua kali lipat lebih banyak dari Barat. Artinya, Cina punya kompleksitas yang lain daripada Barat."

Amazing Grace between Violin and Erhu Instruments
Lagu yang dibawa oleh saya ini adalah lagu Amazing Grace yang ditampilkan oleh dua instrumen yang berbeda dari dua peradaban yang berbeda, yaitu biola dan erhu. Meski sama-sama instrumen gesek, namun nuansa yang hadir berbeda. Kata Afifa, "Biola adalah instrumen ekspresif, namun erhu ternyata lebih ekspresif." Kedua instrumen tersebut memang terdengar berbeda, namun pertanyaan dalam forum itu adalah: apakah cuma bahan dan konstruksinya yang membuat berbeda, atau lebih dari itu, idiom, dialek, cengkok bangsanya juga menentukan instrumen musik apa yang dianggap pantas mewakilinya?

Red (King Crimson)
Menjelang tahun baru Imlek, Mas Reza memutar satu lagu yang mengambil esensi "merah" yang memang terasosiasi dengan perayaan Imlek. "Bedanya", kata Reza sambil menunjukkan sampul album King Crimson, "Di sampul album ini yang dominan justru warna hitam, warna merahnya hanya ada di tulisan Red." Yang ditampilkan oleh Reza adalah progressive rock yang katanya, "Satu dari seratus lagu gitar paling penting versi majalah Rolling Stones." Gara-gara diputarnya lagu ini, pembahasan menjadi melebar, yaitu membahas geliat progressive rock di Indonesia, termasuk keberadaan RIO alias Rock In Opposition yang sangat bersemangat untuk dibahas Diecky di bulan depan.

Minggu depan tanggal 29 Januari, KlabKlassik akan menghadirkan bintang tamu Riyan Hidayat untuk mempresentasikan apa itu musik "Shoegaze". Hadirilah!


 
Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat: Motivator

Senin, 16 Januari 2012

Klab Filsafat Tobucil edisi perdana, meski dihadiri enam orang saja, namun pembicaraan tetap menarik dan beragam. "Motivator" diangkat sebagai topik karena ada korelasi dengan bahasan Kelas Filsafat untuk Pemula hari Selasa, yaitu "Isu-Isu Modernitas". 

Motivator yang profesinya marak belakangan, ternyata tidak semuanya diterima secara positif. Belakangan ada semacam tagline yang mengritik keberadaan motivator, yaitu "Hidup itu Tak Semudah Cocot Mario Teguh". Plus minus kehadiran mereka inilah yang menjadi bahan diskusi Klab Filsafat edisi perdana. Satu per satu ditanyai tentang mengapa motivator ini, yang jelas-jelas melakukan hal yang positif yaitu memotivasi, tidak semuanya merasa senang dengan kehadirannya.

  • Theoresia Rumthe, yang juga tutor kelas Public Speaking, mengaku bahwa salah satu metode dalam menggali kepercayaan diri para peserta adalah curhat, membiarkan mereka mengeluarkan uneg-uneg dan keluhan. Ketika ditanya, "Apakah ini adalah sebentuk motivasi?". Jawab Theo, "Bukan, karena motivator biasanya tidak memberi kesempatan pesertanya untuk bicara, menggali ke dalam diri. Motivator menyamaratakan para peserta, seolah-olah masalahnya sama semua."
  • Permata Andika Rahardja alias Mata punya pendapat bahwa motivator seringkali tidak murni memberi motivasi untuk hidup. Para motivator biasanya ditunggangi kepentingan perusahaan. Ada banyak diantaranya yang memang disusupkan oleh perusahaan tertentu agar karyawannya menjadi lebih produktif. 
  • Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal berkata bahwa motivator bisa saja membuat orang bersemangat, tapi belum tentu sanggup menemukan potensi dalam diri seseorang, "Jika engkau ingin seseorang menjadi yang kamu inginkan, maka paling hebat adalah dia menjadi seseorang yang kamu inginkan. Namun jika engkau ingin seseorang menjadi diri sendiri, maka dia akan berkembang lebih hebat dari apa yang kau bayangkan."
Yang dicurigai berikutnya adalah, jangan-jangan motivator ini tidak disukai oleh sebab "tampilan kapitalisme"-nya. Kenyataan bahwa motivator selalu tampil dengan jas, setting panggung yang megah, massa yang banyak, serta harga untuk mengonsumsinya yang seringkali mahal, membuat motivator menjadi instrumen kapitalis yang baru. "Padahal," kata Mata, "yang mereka paparkan sangat normatif, tidak ada hal yang baru sama sekali."

Mari kita pertanyakan diri kita sendiri, perlukah motivator untuk menyemangati diri?


Syarif Maulana





Google Twitter FaceBook

Tuesday, January 17, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #9: Menyambut Tahun Baru Imlek



Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Waktu dan Tempat

KlabKlassik Edisi Playlist #9 akan dilakukan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 pada hari Minggu, 22 Januari 2012 pukul 15.00 - 17.00 (waktu berakhir bisa berubah tergantung jumlah peserta).

Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tersebut dikenal juga dengan nama "Spring Festival" (penanda berakhirnya musim dingin) atau "Lunar New Year" (karena penanggalan Tionghoa mengacu pada siklus bulan).

Alkisah, adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan bernama Nián (年), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. DIpercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián, yang berarti "menyambut tahun baru", secara harafiah berarti "mengusir Nian".

Di Indonesia sendiri perayaan Tahun Baru Imlek baru bebas dilaksanakan mulai tahun 2000, setelah puluhan tahun dilarang oleh rezim orde baru. Baru mulai tahun 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

Pertemuan KlabKlassik edisi Playlist turut menyambut hari raya Imlek yang jatuh pada keesokan harinya. Peserta dipersilakan membawa satu lagu favoritnya yang berhubungan (atau dihubung-hubungkan) dengan peringatan Tahun Baru Imlek, boleh tentang naga, merah, angpao, keluarga, hujan, ramalan, tahun baru, atau apapun yang asyik. Pertemuan dipandu oleh Adrian Benn, dan nantikan juga komentar-komentar seru dari Ismail Reza yang seringkali mencengangkan.
Google Twitter FaceBook

Sunday, January 15, 2012

KlabKlassik: Nonton Bareng "Amadeus" (1984)

Minggu, 15 Januari 2012


Pertemuan pertama KlabKlassik tahun ini diawali dengan nonton bareng. Sang koordinator, Mas Yunus memilih film Amadeus (1984) yang menceritakan tentang perjalanan dua komposer besar era Klasik yaitu W.A. Mozart dan Antonio Salieri. Film tersebut lebih menyoroti dari sudut pandang Salieri yang terjebak pada rasa bersalah karena merasa telah membunuh Mozart. Film Amadeus kemudian menjadi flashback, cerita bagaimana awal pertemuan Salieri dan Mozart, disertai perjalanan tumbuhnya rasa cemburu Salieri pada karir Mozart. Film berdurasi 161 menit yang disutradarai oleh Milos Forman itu sebetulnya diangkat dari karya drama tulisan Peter Shaffer. Pemeran Salieri yaitu F. Murray Abraham meraih Oscar karena penampilan gemilangnya.

Setelah film tersebut selesai diputar, ada diskusi singkat seputar film itu sendiri. Misalnya, Jazzy mengomentari logat para pemain dalam dialog tersebut yang seringkali terjebak pada logat American. Padahal biasanya jika latarnya Eropa, ketika dialog berbahasa Inggris biasanya menjadi agak British. Sedangkan Pirhot sangat suka dengan berbagai tagline dalam filmnya, seperti "Mediocrity is everywhere" atau "Kamu tidak bisa menulis ulang apa yang sudah sempurna". Kang Beben melihat Mozart yang dalam film itu digambarkan nyleneh dan bengal, sebagai hal yang dibutuhkan jika seseorang mau maju dan ingin menjadi sesuatu. Harus ada upaya mendobrak tatanan meski berisiko dimusuhi.

Perbincangan menjadi berkembang membahas opera, misa, serta perkembangan piano. Kemudian juga menjadi membahas hubungan antara seni dan kekuasaan. Dalam film itu terlihat adanya intervensi terlalu banyak dari Joseph II, Holy Roman Emperor kala itu, pada karya-karya Mozart. Artinya, agar kesenian itu diakui, barangkali akses terhadap kekuasaan harus ada. Seperti misalnya Salieri yang waktu itu menjadi salah satu orang dekat Joseph II, sehingga karya-karya begitu mudah diakui.

KlabKlassik minggu depan (tanggal 22 Januari) akan menampilkan edisi Playlist. Bawa satu lagu favoritmu apa saja, kita dengarkan sama-sama! 



Google Twitter FaceBook

Terima Kasih, Madfal!

Rabu, 11 Januari 2012

Madrasah Falsafah sore itu cukup seru. Tema yang diangkat adalah stand-up tragedy cetusan Lioni Beatrik. Pembahasan ini tidak lepas dari acara yang diadakan oleh Lioni sendiri di kafe Beat n Bite beberapa minggu sebelumnya dengan judul yang sama. Acara stand up tragedy tersebut persis kebalikan dari stand-up comedy yang cukup populer di Indonesia belakangan. Dari judulnya sudah kelihatan, stand-up comedy menampilkan orang melawak di atas panggung, stand-up tragedy menampilkan orang yang berkeluh kesah soal keburukan yang menimpa hidupnya.

Sayang sekali obrolan hangat yang berlangsung sekitar dua jam tersebut ternyata menjadi pertemuan terakhir Madfal. Madfal yang dicetuskan oleh Rosihan Fahmi dan Bambang Q-Anees pada tahun 2007 itu mengalami reformasi. Reformasi itu dilakukan sebagai bentuk penyegaran, sekaligus mengembalikan cita-cita Madfal ke awal mula pendiriannya: "Semua orang adalah filsuf". Adapun reformasi itu juga untuk menyinkronkan pertemuan semacam itu dengan Kelas Filsafat untuk Pemula yang hadir setiap Selasa. Kata Mba Tarlen, pemilik Tobucil, "Namanya akan diubah jadi Klab Filsafat dan diselenggarakan setiap Senin. Nah yang Selasa itu seperti kuliah, Senin itu ngobrol-ngobrolnya. Tapi keduanya punya keselarasan topik." Meski demikian, Tobucil tidak menutup kemungkinan bagi siapapun untuk berbincang secara bebas di Tobucil. Ada hari Jumat sore yang disediakan dengan nama "Klab Jumat Sore". Bebas untuk siapa saja selama tidak membicarakan MLM, doktrin agama, atau partai politik. 

Klab Filsafat sendiri akan dimulai Senin tanggal 16 Januari hari ini jam 17.00-19.00 dengan tema "Motivator". 
Terima kasih sekali lagi untuk Madfal yang sudah menghangatkan Rabu sore di Tobucil! Seperti kata status Kang Fahmi suatu hari: "Pesta Filsuf ke-2 sudah usai. Yang tersisa hanya rindu"







Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin