Sunday, December 20, 2009

Segudang Kehangatan Di Akhir Tahun



Mari kita kumpulkan kehangatan apa saja yang sudah maupun sedang di rasakan sepanjang tahun ini. Pasti kita akan terkejut-kejut sendiri. Betapa banyaknya, betapa luasnya kehangatan itu. Dari mulai kehangatan ibu yang tak pernah ada habisnya, teman-teman yang hadir menemani, kejutan-kejutan kecil  di hari-harimu yang jelas kehangatan selalu hadir, menyusup bahkan di tengah cerita getir tragedi kehidupan. Tak perlu bekecil hati, jika langit tampak selalu mendung, kesedihan demi kesedihan seperti tiada habisnya:
"No matter how cold the winter, there's a spring time ahead." 

Jadi mari kita membuat daftar kehangatan di sepanjang tahun 2009, apasaja yang sudah menyelimuti dan memberi hangat pada diri kita sepanjang tahun ini?

xoxo
tobucil & klabs

*) quote by Eddie Vedder 

Dua Tamu Istimewa Beryubiami di Tobucil

 
Kiri Dalena, Palupi dan Novi Kurnia sedang sibuk beryubiami 


Rabu, 16 Desember 2009

Hampir pk. 09.30, saat saya datang ke tobucil, dua orang tamu istimewa saya telah menunggu. Saya yang sedikit terlambat, seharusnya kami bertemu pk. 09.00. Dua tamu saya itu, nampak saling akrab satu sama lain. Ternyata masing-masing tidak menyangka akan bertemu di tobucil pada pagi itu. Yang satu bernama Kiri Dalena, seniman dan juga pembuat film dokumenter dari Filipina dan satunya Novi Kurnia yang sedang menyelesaikan studinya di Flinders University, Australia. Kiri sengaja datang, karena ia ingin sekali belajar merajut, sebelum kembali ke Filipina, sementara Novi sengaja datang dalam rangka penelitiannya tentang perempuan dan film sebagai tesisnya. Novi meminta saya sebagai salah satu narasumber yang perlu dia wawancarai.

Sepanjang siang itu, kami berbincang macam-macam, sambil tangan tak henti beryubiami (merajut dengan menggunakan jari-jari tangan). Kira-kira satu jam kemudian, Novi mulai menyerah dan memutuskan untuk menutup rajutannya. "Ini rekor loh, karena ini karya kerajinan tanganku yang pertama." Dengan bangga Novi mengikatkan hasil rajutan di rambutnya dan mengubahnya menjadi bando.

Menjelang tengah hari, Frino, teman tobucil dari AJI Bandung datang bergabung. Tak lama kamudian menyusul Adi Marsiela (Suara Pembaruan) dan Sandy (Tempo). Jadilah obrolan berubah menjadi ajang wawancara Kiri dengan teman-teman jurnalis. Teman-teman jurnalis ingin mengetahui lebih jauh tentang film dokumenter Kiri yang  bercerita tentang sebuah insiden yang terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika sebuah pembantaian terjadi di wilayah Maguindanao dan kemudian dikenal dengan insiden Pembantaian Maguindanao. Dalam insiden ini, sekitar 57 laki-laki dan perempuan dibunuh secara brutal.

Secara khusus, film ini berkisah mengenai orang-orang yang menjadi korban, termasuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam insiden ini, juga tercatat kematian 31 orang wartawan yang ikut menjadi korban pembantaian yang dilakukan secara dingin. Sambil menceritakan itu, jari-jemari Kiri, sibuk merajut sementara teman-teman jurnalis sibuk mencatat apa yang Kiri ceritakan.


Pertemuan ini berakhir menjelang pk. 15.00. Kiri dan teman-teman harus pergi, menghadiri pemutaran 'Under One Sky' yang diselenggarakan di tempat lain, pada pk. 15.00. Namun pindah tempat dan pindah acara, tidak membuat Kiri berhenti beryubiami. Sambil mendiskusikan filmnya, jadi-jemarinya semakin lincah merajut benang merah putih yang semakin panjang itu.


Under One Sky bisa kamu lihat di Youtube 
http://www.youtube.com/watch?v=rN6YM2d2TgM

Minggu Siang Di Kediaman Afifa, Azisa dan Ilham



Hari itu hari Minggu, dan Tobuciler mendapati undangan. Undangan yang sebenarnya dari Tobuciler juga. Undangan yang berisi soal makan-makan. Makan-makan yang merupakan syukuran atas konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang berlangsung tepat sebulan lalu, yakni tanggal 20 November. Makan-makan yang, tidak cuma itu, tapi juga merupakan syukuran atas ulang tahun keempat KlabKlassik. Yang sebetulnya jatuh pada tanggal 9 Desember, tapi tak apa-apa kan dirayakan terlambat?

Tobuciler dan KlabKlassik berkumpul, di kediaman Afifa, Azisa, dan Ilham. Maksudnya, mereka semua bersaudara, sehingga bukan artinya kami datang ke tiga rumah. Janjinya pukul sepuluh siang, tapi kebanyakan baru datang menjelang jam dua belas, termasuk Tobuciler. Disana ada seluruh anggota RGB kecuali Hin Hin yang tidak bisa hadir karena istrinya tengah mengandung di bulan kesembilan. Kang Trisna pun sama, tapi ia tetap hadir, entah karena dirinya adalah ketua dan pemrakarsa acara ini, atau memang sangat rindu berkumpul. Yang lainnya ada Mas Yunus, Mas Tikno, Ina, Royke, Iyok, Bilawa, Kelvin dan Kevin.

Di jam yang dinanti, yakni jam dua belas. Kami semua berkumpul, di hadapan meja yang penuh makanan. Alhamdulillah ada spaghetti, ayam goreng, asparagus, dan kentang goreng. Membuat Tobuciler sulit berkonsentrasi ketika memberi sambutan, ”Paling berat adalah memberi sambutan menjelang makan-makan, karena pasti diharapkan ingin cepat selesai. Jadi kita langsung berdoa aja ya.” Demikian kami berdoa, dan setelah itu kami makan.

Setelah makan, diadakan semacam rapat, mengenai agenda klab tahun 2010. Diskusi berlangsung renyah penuh tawa, sama sekali tidak serius. Akhirnya diputuskan, bahwa di tahun 2010, ada dua konser gitar dan satu konser biola. Sisanya? Kami mencoba memperbanyak diskusi-diskusi serta usulan baru: kunjungan ke saung angklung Mang Udjo untuk memperlebar apresiasi. Agenda 2010 tersebut menyiratkan bahwa klab siap untuk ”memperpanjang umur” dan tidak merasa cepat puas atas apa yang sudah dialami empat tahun ini. Ketika makan-makan dimulai, kami bersyukur bahwa klab ”sudah” empat tahun. Tapi kala rapat, mendadak semuanya dimaknai bahwa klab ”baru” menginjak empat tahun, sehingga amat penting untuk terus berkarya. Bach Memberkati. [Syarif Maulana]

Testimoni di Ulang Tahun Ke 4 Klab Klassik

Kemarin, ya kemarin, hari Minggu siang yang panas itu, Tobuciler dan KlabKlassik berkumpul merayakan hari jadinya yang keempat. Maka itu dibagikan semacam kertas, untuk diisi testimoni yang ditujukan bagi KlabKlassik. Berikut pengakuannya:

Yunus Suhendar: Mau menginjak usia lima tahun, KlabKlassik harus semakin matang, seperti mangga atau buah-buahan lainnya. Pasti enak rasanya kalau lebih matang, semoga KlabKlassik semakin jaya.

Nyimas Ina Winangsih: Disini ga kumpul terus main aja, tapi belajar juga. Gak cuma musik, tapi belajar yang lain juga. Udah kayak keluarga. Kereeen. (Awas galau) Hehe :D


Tikno Guntoro: Mudah-mudahan bisa jadi wadah dan tempat yang nyaman bagi teman-teman yang haus dan butuh info tentang teori, lagu, dan hal-hal yang berkaitan dengan musik klasik. Masukan tambahan:

· Eksplor musik lokal kalau bisa ditambah agar ada pembanding dan nuansa kedaerahan tidak dilupakan.

· Esensial bermusik ada tiga: wawasan, apresiasi dan diapresiasi. Mudah-mudahan KlabKlassik bisa jadi sarana dan jembatan buat orang-orang awam (selain mencerdaskan anggota KlabKlassik, moga-moga kita juga bisa mencerdaskan masyarakat umum).

· Jaga suasana kekeluargaan agar jadi tempat yang nyaman dan aman untuk berkumpul.

Afifa Ayu: Semoga KlabKlassik semakin maju dan established tapi tetap mempertahankan ciri-ciri KlabKlassik, misalnya galau (haha) dan kekeluargaan J. Semoga tahun 2010 semua kegiatan KlabKlassik berhasil dengan sukses. Yeah! J Loads of love for KlabKlassik J

Royke Ng: KlabKlassik sudah lebih maju. Orang-orangnya gokil-gokil. Yang baru ikutan sebentar lagi jadi ikutan error gokil (siap-siap aja). Maju terus klab. Terus berkarya ke dalam dan ke luar.


Mohammad Ilham Akbar: KlabKlassik bikin aku makin seneng main musik. Pokoknya KlabKlassik harus tetep ada. Mudah-mudahan nanti KlabKlassik lebih dikenal masyarakat, dalam dan bahkan luar negeri.

Sutrisna: KlabKlassik sekarang lebih berwarna, lebih segar, suasana kekeluargaan dan persahabatan terasa semakin kental. Terutama munculnya orang-orang baru membuat Klab semakin lengkap, rasanya semua ada di KlabKlassik.

Bilawa Ade Respati: Makin variatif dan menyenangkan. Apresiasinyan juga meningkat. Banyak wajah baru yang segar, sehingga klab semakin berwawasan (naon deui). Sukses marilah kita selalu.

Azisa Noor: KlabKlassik itu kayak warung yang nyaman dan rame J Kayak keluarga ketemu gede, Maju Terus KlabKlassik!

Kelvin Simeone Kwee: KlabKlassik kumpulan para galau’ers, keluarga baru dan komunitas galau. How lovely to join and wishing all the best.

Pirhot Nababan: Tobat! Lembaga ke progresif revolusioner yang sering berbenturan dengan feodalisme dan konservatisme akut. Agen penyebar galau: galau progresif revolusioner.

Hendy Reinaldo: Mantap, orangnya pada jago-jago, baik-baik, kacau-kacau hahaha. Sering-sering kabarin kalo ada acara ya.

Tobucil & Klabs: Klab Klassik, berhasil membuktikan kekonsistenannya dalam berkomunitas (termasuk galau dengan konsisten.. :D) selamat ulang tahun ..

Ammy C. Kurniawan dan Persiapan Konsernya


Di Bandung yang tercinta ini, ada seorang violinis. Violinis handal yang jam terbangnya sangat tinggi. Banyak orang mengenalnya, tapi juga barangkali banyak yang tidak. Karena ia, Ammy C. Kurniawan, lebih sering menjadi penyokong dan tulang punggung bagi musisi lainnya. Ia sering jadi additional player band-band ternama semisal Nidji, Hijau Daun, Mocca, dan She, tapi tentunya banyak publik yang lebih fokus pada band-band tersebut ketimbang dirinya. Tapi jika tahu band di Bandung yang bernama 4 Peniti, pasti dengan mudah mengenalnya. Pemain biola yang atraktif, yang dengan memejamkan mata berlenggak-lenggok tubuhnya mengikuti sayatan melodi sang biola.
Tapi lagi-lagi, sebentar lagi, ia kembali jadi tulang punggung. Ia tak mau lagi dikenal, ia memilih di belakang dan menyokong yang lain untuk tampil. Sekarang adalah murid-muridnya sendiri. 23 Desember nanti, ia yang mendirikan semacam lembaga pendidikan biola independen bernama Ammy Alternative Strings, akan mengadakan konser berjudul Let’s Play Violin. Acara diselenggarakan di CCF hari rabu ini, pukul 19.30-21.00. Alhamdulillah, KlabKlassik dan Tobucil ikut ambil bagian. Berikut petikan wawancara dengan Ammy C. Kurniawan.

Ceritakan singkat awal mula Kang Ammy belajar biola.

Mulai belajar biola dari kelas 5 SD, tapi ketika SMP malah lebih mendalami gitar, baru ketika memasuki bangku SMA mulai mendalami biola lagi.

Soal Alternative Strings. Memang ada gitu? Apa yang Kang Ammy ketahui tentang Alternative Strings?

Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Kenapa Kang Ammy memutuskan untuk mendalami Alternative Strings? Padahal mungkin belum seberapa populer dibanding fungsi string yang kebanyakan untuk musik klasik.
 
Karena menurut saya, kalau bermain musik itu harus dengan hati dan jiwa, alternative strings sesuai dengan jiwa saya, dengan alternative string saya bisa mendapatkan kebebasan bermusik dan bereksplorasi dengan permainan biola saya. Selain itu saya lebih sering memainkan musik dengan gaya seperti itu dalam kehidupan sehari-hari saya, kalau saya tampil di acara-acara atau kegiatan musik pun saya lebih banyak menampilkan musik-musik alternative bukan klasik.

Kang Ammy, apa saja yang Kang Ammy lakukan untuk menyosialisasikan Alternative Strings ini? Apakah memang iya perlu disosialisasikan, atau bisa untuk konsumsi pribadi saja?

Salah satunya dengan mendirikan Ammy Alternative String, sebagai wadah komunitas untuk belajar dan berkumpul. Selain itu dengan mengadakan home concert juga, workshop dan memperbanyak perform.

Kang Ammy, sepertinya tidak sedikit yang mengira Alternative Strings ini sebagai ajaran "sesat" hehe karena dianggap melenceng jauh dari kaidah-kaidah musik klasik. Bagaimana Kang Ammy menanggapi ini?

Kalau menurut saya pada dasarnya semua jenis musik di dunia ini baik dan tidak ada yang sesat, tergantung bagaimana musisi itu sendiri membawakannya, selama musik yang dibawakannya tidak merugikan orang lain.

Oke, terakhir, tanggal 23 ini Kang Ammy akan mengadakan konser Let's Play Violin yang merupakan cara Kang Ammy menyosialisasikan Alternative Strings. Jelaskan pada kami, kenapa sedemikian penting untuk menyaksikan konser tersebut?

Karena konser ini bertujuan untuk membuka wawasan bermusik terutama biola, bahwa di alternative string itu bermain biola tidak dipilah-pilah dalam genre musik tetapi lebih mengkaji teknik bahasa musik pelakunya. Dengan nonton konser ini mudah-mudahan orang akan lebih tertarik lagi terhadap biola, karena ternyata dengan biola pun segala jenis musik bisa dimainkan. Yang penting kan membuat orang tertarik dulu, suka dulu sama biolanya, kalau sudah menyukai biola, akan terasa lebih mudah untuk mempelajarinya. Nanti juga dia bisa memilih sendiri jenis musik apa yang lebih dia sukai, tidak dibatasi hanya pada satu jenis musik saja. [Syarif Maulana]

Surat Cinta Untuk Mama

Voor mama Ruth yang (lagi) di Samarinda:

dari kemarin aku ingat mama. ingat pertengkaran terakhir kita. sedih? iya. mama juga, kan? aku tahu mama pasti suka menangis diam-diam. karena kita sama. suka menangis diam-diam.

aku ingat foto aku lagi menangis di dalam kapal perjalanan ke Larat. di foto itu mama lagi gendong anak kecil keriting pake pelampung yang lagi menangis lebar-lebar. ah, mama tahu, aku ingin sekali jadi 'anak kecil itu' yang tidak malu menangis lebar-lebar.

mama itu selalu menjadi 'tukang dokumentasi' yang baik, untuk aku. foto-foto dari aku kecil sampai dewasa. tersusun dengan apik, di album-album itu. bahkan pertama kali aku pakai seragam TK sampai Mahasiswa, selalu tak lepas dari 'dokumentasimu'. mama selalu ada di waktu 'pertamaku'.

kalau masak, mungkin mama tak bisa. aku sendiri sampai heran, bagaimana mungkin? papa jatuh cinta padamu, padahal jaman itu, perut nomor satu. tapi untuk urusan rumah dan kamar rapih, aku tahu mama jagonya. bau seprei baru di kamar yang rapih, sampai menyiapkan kaos kaki yang matching untuk papa.

waktu kecil aku seringkali menangis, kalau mama dan papa akan kembali tugas di luar kota. mama tahu, aku kadang menangis diam-diam, di kamar mandi. aku sedih sekali, kalau harus dititipkan lagi ke oma atau tante. dan aku ingat sekali, waktu itu mama gendong aku sambil usap-usap rambut terus bilang "perginya ngga akan lama kok" padahal selepas itu, kadang aku masih suka menangis diam-diam.

kalau mama pulang tugas, aku pasti akan memilih untuk tidur bersamamu ketimbang tidur di kamarku sendiri. kenapa? aku suka saja menyentuhmu, aku suka mencium baumu, aku suka memeluk perutmu ketika tidur, karena aku suka hangatmu. mama itu hangat. mama pikir, kira-kira sifat supel yang aku punya sekarang, itu menurun dari mana? kalau bukan dari mama.

(terakhir kali mama ke Bandung, aku juga masih melakukannya, betul? dan akan selalu kangen baumu)

aku ingat pertama kali beli beha, itu juga sama mama. dan aku ingat aku menangis (lagi) karena 'harus' pake beha. anak yang aneh sekali aku ini. entahlah. mungkin itu masalah perubahan. dan ketika aku berubah ada mama disana.

sajak pertama kali yang aku bacakan untuk natal pun, ada mama disana. waktu itu umurku berapa ma? mungkin sekitar 4 tahun, dengan baju putih renda-renda, dan ditemani lilin di tangan kiriku. waktu itu juga dibantu sama mama kan? terimakasih sudah diajarkan berani sejak kecil.

sekitar umur 10 atau 12 aku lupa, tapi selalu saja ada kesempatan buatku untuk menyanyi di depan umum. padahal waktu itu aku masih malu-malu. tapi ada mama juga disana, yang selalu kasih kesempatan untuk 'tampil'. coba kalau tidak? pasti sampai sekarang aku terus malu-malu, dan 'harta karunku' terus tersembunyi. semuanya berkat mama.

bahkan mama waktu itu tidak marah, ketika kelas 3 SD, aku bahkan sudah berani memalsukan tanda tanganmu sendiri di raporku, karena ada beberapa nilai yang merah. ah, aku takut sekali waktu itu. tapi mama juga kan, yang tidak pernah absen atau bosan, mengambil rapor ke sekolah. aku tahu di hati mama yang paling dalam, mama sayang sekali denganku. walau kadang di raporku banyak nilai merahnya.

di doa pagimu selalu ada: aku. itu yang bikin aku aman, dan selalu baik-baik walau kita jauh.

aku ingat kalau mama, kadang tak punya waktu untuk ngobrol berdua denganku. sebagai seorang penulis khotbah yang baik. mama selalu tenggelam dengan buku-buku, mesin tik, kacamata yang melorot, dan kerut-kerut di sekitar matamu. aku juga tak mengerti, mengapa aku selalu iri dengan semua kesibukanmu itu. tapi akhirnya aku tahu betapa berdedikasinya dirimu pada pekerjaanmu. dan secara tidak langsung, aku juga belajar untuk berdedikasi pada apapun yang aku lakukan sekarang.

ya! sekarang aku memutuskan untuk tinggal di Bandung. padahal kemarin-kemarin aku tahu, kita berdua sempat ribut soal itu. aku masih ingat obrolan kita di 'teras belakang' dan suaraku meninggi. karena aku merasa, aku sudah menemukan jalanku sendiri. terus terang, bukan karena aku tidak mau menemani kalian berdua. hanya saja, bukankah semangat rantau itu yang ditanamkan sejak kecil. bukankah keberanian untuk menggapai sesuatu yang justru diajarkan.

dan kalau aku tidak mau pulang. bukan karena aku tidak sayang. bukan. aku tahu mama kangen dengan anak bungsu, putingbeliungmu ini, tapi biarkanlah aku berkarya. jerih 'penulis khotbah' dengan gaji kecilmu itu tidak akan aku lupa. itu yang menghidupi aku. itu yang selalu buat aku penuh. nilai-nilai luhurmu sebagai seorang ibu, yang buat aku kuat. memikirkanmu sering membuatku menangis diam-diam, beberapa minggu terakhir ini.

jadi izinkanlah 'si bontotmu' ini di luar dan berkarya.

ma, kita bisa tetap jauh tapi saling sayang, kan?

"jadi jang mara beta, karena sampai kapanpun mama tetap jadi beta pung mama. seng ada yang bisa ganti. dan beta seng mau ganti. beta sayang mama"

Peluk mama.


 

Theoresia Rumthe adalah penyiar Sky 90,50 FM yang menyukai warna-warni dan puisi. Puisi-puisinya bisa diintip di:
http://perempuansore.blogspot.com/

Patung dan Eksistensi


Sumber Gambar: Media Indonesia

Tentu anda semua sudah mendengar dan menyaksikan kabar tentang Patung Barack Obama di Taman Menteng. Konon, patung itu dibuat untuk mengenang masa kecil Barack Hussain Obama yang menghabiskan masa 4 tahun sekolah dasarnya di Menteng sana. Bahkan ada semacam joke yang bilang kalau semua sekolah internasional di Jakarta hampir kehilangan muridnya karena mereka semua ingin pindah ke SD Asisi Menteng tempat Obama bersekolah dulu.

Menurut hemat saya, patung ini menandai semakin eratnya hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat. Patung itu tidak hanya menjadi simbol eksistensi Obama semata. Lebih jauh, patung itu menjadi semacam monumen bagi pengakuan atas keberhasilan Amerika Serikat dalam menanamkan benih-benih demokrasi dan HAM di Indonesia. Bisa juga patung itu merupakan hadiah dari petinggi Kecamatan Menteng dan Gubernur DKI untuk Obama yang sukses membuat nama Menteng dan Jakarta mendunia sehingga memudahkan promosi pariwisata Enjoy Jakarta-nya DKI. Siapa tahu.

Rupanya bangsa ini telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang besar, dilihat dari bagaimana bangsa ini memperlakukan sejarah bangsanya sendiri. Memang, para tokoh pengisi sejarah bangsa ini punya monumennya masing-masing. Bung Karno dan Bung Hatta dibuatkan patungnya di Monumen Proklamasi dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Korban G30S PKI dibuatkan Monumen Lubang Buaya.

Namun, mengapa patung Panglima Besar Jenderal Sudirman ditempatkan di Jalan Sudirman sambil menghormat pada gedung-gedung pencakar langit simbol keberhasilan kapitalisme? Tidakkah mereka peduli pada hal ini? Kenapa bukan pahlawan asli Betawi macam Si Pitung itu atau malah Ali Sadikin, sang gubernur yang benar-benar membangun Jakarta dengan penuh kontroversi dibuatkan patungnya lalu ditempatkan di Taman Menteng sebagai landmark Jakarta.

Tidak ada muatan dan esensi lokal dari patung Obama itu. Sehingga kalau kini terdengar gugatan atasnya mudah-mudahan itu jadi tanda bahwa nurani kita masih hidup untuk menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa kita bukan sebagai penanda eksistensi belaka.

Siapakah Obama itu bagi Indonesia? Obama hanyalah Presiden Amerika Serikat yang belum pernah sekalipun mengunjungi Indonesia. Obama juga adalah seorang penerima Nobel Perdamaian yang penuh kontroversi karena ia juga yang menyetujui penambahan 30.000 pasukan NATO di Afghanistan. Mungkin karena itu juga ia menilai dirinya B+ untuk performancenya sejak mengambil alih jabatan dari Bush Jr tahun lalu. Pada KTT Asean yang berlangsung tahun ini di Singapura pun Obama tidak menyempatkan singgah di Indonesia.

Kalau ia nanti jadi singgah apalagi yang akan Negara ini buat? Masih ingat waktu Bush Jr mampir ke Istana Bogor sambil naik helikopter? Obama sempat bilang bahwa ia akan berkunjung ke Indonesia tahun depan pada saat anak-anaknya liburan sekolah. What a nice Daddy!

Kalau sekali nanti anda mampir ke kota Firenze di Italia sana yang ada patungnya Gabriel Omar Batistuta anda bisa lihat bahwa patung itu dibuat bukan karena alasan keberadaan dan eksistensi Batistuta yang melegenda di klub Fiorentina tetapi lebih sebagai simbol penghargaan dan penghormatan kepada Batigol (julukan Batistuta) yang telah membuat semarak kehidupan kota itu. Semarak kehidupan yang berasal dari euphoria sepakbola yang menembus celah-celah dan lorong-lorong gang kecil di setiap sudut kota Firenze.

Bahkan, Batistuta bisa dianggap sama sucinya dengan orang-orang macam Macchiavelli dan Dante yang juga lulusan Firenze. Maka, ketika Batistuta meninggalkan Fiorentina untuk bergabung dengan AS Roma tahun 2001, seluruh Firenze bersedih karena ditinggal pahlawannya. Sempat muncul wacana untuk menghancurkan patung tersebut namun batal karena mereka menghargai sejarah-terlebih kehidupan sejarah sepakbola mereka.

Saya kira, begitu juga yang terjadi dengan patung-patung lainnya yang ada di belahan dunia yang lain. Patung-patung itu dibuat dengan berbagai latar belakang dan sejarah yang menghiasinya. Patung Lenin di Leningrad, Patung Stalin di Stalingrad untuk memperingati aksi heroik Pasukan Merah Rusia ketika mengusir Tentara Jermannya Hitler, Patung Kim Jung Il di Korea Utara sana, Patung Napoleon, hingga Patung Pemain Sepakbola di Jalan Tamblong Bandung, bukannya patung seorang yang menunggu kekasihnya*) buatan Seno Gumira Ajidarma.


Pharmindo, Cimahi, 15 Desember 2009


*) Cerita tentang patung ini bisa dibaca pada kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Iblis Tidak Pernah Mati”, Galang Press, 2005.





Anggi Hafiz Al Hakam,
Pustakawan

Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 2)



Acara-Acara Berikutnya

Sejak Classicares, kami seperti yang ketagihan membuat even. Meski tidak sesering KlabJazz, tapi kami tetap mengupayakan setidaknya dalam setahun ada minimal tiga acara yang terselenggara. Berikut ini adalah even-even yang kami selenggarakan pasca Classicares:


Soiree Francaise: Malam Pagelaran Karya-Karya Komponis Prancis (Auditorium CCF, 31 Maret 2006). 
Kami berhutang budi pada Yongki Nusantara (Om Yong) dari Radio Mara, Deni Sugiri (Pak Deni) dan Iswargia R. Sudarno (Pak Lendi) atas sumbangan idenya untuk penyelenggaraan acara tersebut. Bagi kami, idenya terdengar unik dan terbilang baru. Acara tersebut dibuka untuk umum. Artinya, siapapun boleh tampil asal mau mendaftar dan ikut audisi. Awalnya kami meragukan ide tersebut, karena kami pikir, adakah orang yang mau membayar untuk tampil? Apakah sedemikian mahalnya kesempatan untuk tampil? Ternyata jawabannya “ya”. Baik Om Yong, Pak Deni, dan Pak Lendi, ketiganya sudah sangat berpengalaman membaca situasi musik klasik di Bandung yang miskin kesempatan bagi musisi untuk diapresiasi. Walhasil, untuk ukuran konsep baru, pesertanya lumayan, ada sekitar tiga belas orang. Diantara ketiga belas orang tersebut, terdapat beberapa pianis jempolan seperti Isyana Sarasvati, Rara Utami, Brigitta Sistha Kamadjaja, dan Anggita Tantri. Ditambah tiga orang gitaris (acaranya berlangsung tanpa istirahat, sehingga penampilan gitaris dimaksudkan sebagai selingan) yaitu Royke Ng, Bilawa A. Respati, dan saya, malam itu acara kami berlangsung lancar. Oia, keseluruhan pengisi acara memainkan karya-karya komponis Prancis, ada Debussy, Poulenc, Faure dan Dyens. Di akhir acara, ide tersebut kami simpan baik-baik sebagai inspirasi untuk pagelaran kemudian.

Classical Guitar Fiesta 2006 (Auditorium CCF, 28 Juli 2006).
Konsep acara ini mirip sekali dengan Soiree Francaise. Hanya saja, target pesertanya adalah para gitaris klasik. Saya pribadi memberikan acungan jempol pada rekan saya, Royke Ng yang telah melaksanakan tugasnya sebagai ketua panitia dengan sangat baik. Antusiasme terhadap Classical Guitar Fiesta (CGF) kami rasakan cukup tinggi. Lebih dari empat puluh gitaris bersedia ambil bagian. Tidak hanya dari Bandung, tapi juga luar Bandung. Lewat proses audisi, berhasil dijaring tujuh pelas pengisi acara dengan format solo dan duet. Tiga belas orang itu belum ditambah dengan empat intermission dan satu orang bintang tamu. Intermission adalah pengisi acara hasil pilihan juri dan panitia, yang –karena keunikannya- tidak mungkin dijaring lewat proses audisi. John Vincent Hardijanto (gitaris berusia 13 tahun), Serafim dan Jakarta Enam Senar (ensemble gitar) serta KlabKlassik String Duo (duet gitar dan violin) didaulat sebagai intermission. Sedangkan bintang tamu kami pilih Royke B. Koapaha, gitaris asal Yogyakarta yang punya prestasi nasional maupun internasional. Keseluruhan rangkaian pengisi acara tersebut berhasil memeriahkan CGF. Bagi saya, CGF adalah salah satu even paling sukses yang pernah diselenggarakan klab, dan membuat kami ketagihan untuk merencanakan kembali.

Resital Duet Gitar Klasik: Yogyakarta Guitar Duo (Auditorium CCF, 11 Agustus 2006).
Acara tersebut adalah untuk pertama kalinya kami mengundang musisi dari luar kota. Yogyakarta Guitar Duo (YGD) dibentuk oleh duet Rahmat Rahardjo dan Andre Indrawan dengan latar belakang akademis ISI Yogyakarta. Kedua gitaris tersebut juga punya prestasi segudang di tingkat nasional maupun internasional, ketika masih menyandang status sebagai gitaris solo. Dalam proses pelaksanaan tersebut, kami belajar bagaimana menyediakan transportasi, akomodasi, serta berbagai hal lainnya untuk kepentingan pengisi acara yang bersifat tunggal. Dalam konteks even seperti resital YGD, tugas kami di hari-H tidak seberapa, karena penampilan sang resitalis menjadi kunci pagelaran. Hal itu berbeda dengan even-even sebelumnya, dimana kami ikut mengatur program dan susunan acara. Penampilan YGD kala itu memang memang memikat dan terbilang baru di blantika pergitaran nasional, hanya saja penonton yang datang tak kuasa memenuhi setengah dari kapasitas CCF. Imbasnya, secara finansial kami terpuruk. Di tengah euforia keberhasilan CGF, kami seolah mendapat teguran untuk tetap menjejakkan kaki di bumi. Kami memang seolah terlalu ambisius dengan hanya menyelenggarakan even gitar berselang empat belas hari pasca CGF.  Apapun itu, kami percaya bahwa tak ada satupun hal yang percuma. Kata-kata Pak Wenardi, pemilik pabrik gitar Secco, kala itu sangat membantuku bangkit, katanya, ”Jika kesuksesan hanya diukur lewat satu atau dua kali usaha, itu bukan kesuksesan.”

Konser Piano Ananda Sukarlan (Grand Hotel Preanger, 26 Desember 2006).
Bagi saya, ini mimpi yang menjadi kenyataan. Dahulu saya hanya bisa membayangkan kepiawaian Ananda dari koran-koran dan majalah. Ya, pianis yang berdomisili di Spanyol dengan segudang apresiasi dari seluruh dunia itu hadir di hadapan kami. Kala itu kami beranggotakan enam orang. Ada Diby, Harish, Devri, Adit, Ricky, dan saya. Maklum, KlabKlassik memang bukan penyelenggara utama, kami hanya digandeng untuk tenaga tambahan dalam bidang publikasi serta logistik. Namun, hal tersebut tidak membuat Ananda memandang kami dengan sebelah mata. Dalam sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lupakan, Ananda tiba-tiba meminta MC (Master of Ceremony) dari pihak KlabKlassik, karena MC sebelumnya dianggap tidak sreg untuk dia. Kontan saja saya langsung menyiapkan Elfina Lidya, MC andalan kami, dengan semangat. Meski akhirnya karena kekuatan birokratik Lidya gagal memandu acara, kami tetap bangga karena Ananda tetap mempercayakan pihak KlabKlassik ambil bagian. Akhirnya Diby menjadi asisten Ananda untuk membukakan partiturnya kala konser. Di akhir acara konsernya yang sangat sukses, saya mendapat kesempatan untuk memberikan bunga pada sang maestro. Setelah itu, kami diajak makan malam bersama di Paskal Hypersquare. Berbagai keikutsertaan tersebut mungkin tak seberapa untuk sebagian orang, tapi bagi kami, ”komunitas entah dari mana” itu, adalah kebahagiaan tak terlukiskan.

Seminar Musik Kontemporer (Esp’Art CCF, 2 Januari 2007).
Nama Dieter Mack selalu terdengar dalam cerita, namun tak pernah saya bayangkan bahwa beliau akan menjadi pembicara dalam salah satu acara kami. Ya, tiba-tiba saja kami terdorong untuk mengadakan seminar. Dieter Mack, seorang profesor komposisi dari Jerman, direkomendasikan jadi pembicara. Terang saja kami sulit menolaknya. Meski jadwalnya dianggap kurang menguntungkan (2 Januari, orang masih terngiang malam tahun baru), toh kami tetap nekat. Ditemani Royke B. Koapaha, jadilah kami menyelenggarakan sebuah seminar kecil di sebuah tempat di samping Auditorium CCF, dengan topik musik kontemporer. Anehnya, dengan hanya bermodalkan publikasi via SMS, ternyata peserta seminar melebihi kapasitas ruangan. Tadinya hanya dibatas hingga lima puluh, yang datang ternyata nyaris seratus! Saya bahkan heran, mereka-mereka ini tahu dari mana. Duet Dieter Mack dan Royke B. Koapaha sungguh padu. Dengan kecerdasan yang mereka miliki, plus eksentrisitas dan selera humor yang tinggi, seminar dengan topik cukup serius tersebut menjadi sangat cair. Hal yang saya catat disini adalah perilaku Dieter Mack yang menurut saya sungguh nyleneh. Pertama, ia menolak keras untuk diberi fee pembicara. Kedua, ia tidak mau menerima konsumsi makanan dan minuman dari kami sejak awal seminar hingga beberapa lama setelahnya. Ia baru mau makan saat kami ajak makan malam. Padahal, kami saja lelah melihatnya berbicara lebih dari tiga jam. ”Di Jerman, saya berbicara tentang musik kontemporer dari pagi sampai malam, disini tidak ada apa-apanya, saya tak perlu minum,” demikian kilahnya.

April String Festival (Auditorium CCF, 9 April 2007).
Setelah berasyik masyuk menyelenggarakan konser dengan sifat kolaboratif mulai dari YGD hingga seminar musik kontemporer, kami terdorong kembali untuk mengadakan konser dengan konsep mandiri. April String Festival (ASF) adalah bentuk keinginan kami untuk memberikan ruang terhadap kelompok instrumen gesek, yang memang menjadi salah satu kekuatan dalam blantika musik klasik di Kota Bandung. Pengisi acaranya adalah ensembel gesek yang beragam dari berbagai latar belakang. Ada kelompok ensembel anak (Fun-Tastic String Ensemble), ensembel yang berbasiskan kampus (ITB Student Orchestra), hingga yang independen (Ammy String Section, Sadaya Chamber Orchestra, Eya Grimonia, hingga Bohemian String Quintet). Proses penyelenggaraan konser tersebut terbilang berat bagi kami, karena personel dalam setiap kelompok instrumen gesek mempunyai kuantitas yang tidak sedikit. Kala itu juga, untuk pertama kalinya kami mengadakan konser secara gratis. Walhasil, penonton membludak parah, hingga pintu auditorium tidak bisa ditutup. Jadilah konser klasik bernuansa layar tancap. Meski demikian, sebagian besar musisi tak mempermasalahkannya. Meski protokol musik klasik telah berantakan, toh tukar menukar apresiasi antara penonton dan musisi tetap terjalin dengan baik. Yang unik dari konser ini, adalah cara Ammy C. Kurniawan mengatasi keadaan darurat dalam kelompoknya. Seyogianya Ammy tampil bertiga dengan viola dan vokal. Hanya saja, di menit-menit terakhir sang vokalis mengalami masalah tenggorokan karena minum bandrek. Berhubung sang violis adalah suaminya, maka ia juga enggan tampil. Ammy sempat menolak tampil karena alasan force majeure. Akhirnya dengan desakan dan berbagai tawaran solusi, Ammy bersedia naik ke panggung sendirian. Ia menyiapkan biola elektrik dan rangkaian efek. Karena ”ketidaklaziman” ini, dengan kilat status Ammy diubah menjadi selingan. Untungnya, dalam keadaan genting, Ammy tampil brilian dengan pesona elektrisnya. Lewat kreativitasnya dalam kesempitan itu, kami sadar bahwa form is temporary, but class is permanent.

Resital Gitar Klasik Alessio Nebiolo (Auditorium CCF, 21 April 2007).
Seperti biasa, setelah penyelenggaraan konser dengan konsep mandiri, kami selalu kehabisan tenaga. Kalaupun ada keinginan untuk menyelenggarakan even, kami berharap sifatnya kolaboratif saja. Tawaran itu ternyata datang, dan bentuknya tidak main-main. Guitar Maestros, sebuah event organizer gitar klasik berskala internasional milik pengusaha Sudirman Leman, terang-terangan mengajak kami untuk mengadakan resital gitaris asal Italia, Alessio Nebiolo. Sebelumnya, kami selalu terinspirasi dengan kegiatan-kegiatan Guitar Maestros, yang selalu sanggup menampilkan gitaris-gitaris kelas dunia ke Indonesia. Hanya saja, baru Jakarta yang dijamahnya. Mendengar keinginannya untuk coba-coba di Bandung, kami antusias luar biasa. Yang sangat membuat kami bangga adalah: logo kami bersandingan dengan logo kedutaan Italia di poster acara. Proses penyelenggaraan memang tidak terlalu berat, karena Sudirman Leman telah menyiapkan semuanya, termasuk dana dan protokol. Tapi kami tak pernah berhenti membuat diri sendiri sok sibuk, karena antusiasme tersebut. Setahu saya, gitaris asing tak pernah lagi datang ke Bandung sejak Sonya Prunnbauer, entah berapa belas tahun yang lalu. Kepercayaan Guitar Maestros tidak kami sia-siakan, di akhir acara, Sudirman Leman menyatakan puas dan berjanji akan mendatangkan gitaris-gitaris asing lainnya untuk menjadi oase di tengah gersangnya minat terhadap gitar klasik di Kota Kembang.

Resital Gitar Klasik Thibault Cauvin  (Hotel SanGria, 1 Desember 2007).
Janji Sudirman Leman ditepati tahun itu juga, kali ini gitaris asal Prancis yang mendapat giliran. Tempat penyelenggaraannya cukup jauh, yakni di Lembang. Tidak banyak memang yang kami lakukan untuk konser itu, karena seperti biasa Guitar Maestros telah mempersiapkan dengan baik. Tapi tenaga kami tetap dipakai ketika hari H, termasuk mengurusi transportasi Bandung-Lembang dan menjaga protokol acara agar berlangsung lancar. Thibault Cauvin adalah gitaris muda yang sangat hebat, penampilannya ekspresif dan tekniknya mumpuni. Orangnya pun ramah dan bersahabat. Konser tersebut ditutup dengan hangat, disertai janji Sudirman Leman untuk kesediannya kembali menyelenggarakan konser di Bandung. Kepercayaan, sesedikit apapun, adalah modal besar untuk kami.

Cello Talks: The Emmotional Connection (Auditorium CCF, 28 Maret 2008).
Sifat konser ini juga kolaboratif. Kerjasama dengan event organizer Tiga Warna dan Sekolah Musik Swara Harmoni menelurkan ide untuk membuatkan cellis Unun Supardi sebuah resital. Unun adalah salah satu cellis utama di Bandung, bahkan mungkin Indonesia. Konsep acara tersebut sebenarnya sungguh menarik, hampir dalam setiap penampilan, Unun selalu ditemani musisi lain dengan format beragam. Ada duet cello diiringi keyboard, format kuartet cello, trio dengan violin dan gitar, hingga kolaborasi dengan paduan suara. Oia, konser tersebut juga berlangsung dua babak. Babak pertama adalah konser milik Asep Hidayat, yang menampilkan murid-muridnya. Babak kedua barulah resital Unun Supardi itu. Hanya sayang memang, animo penonton tidak terlalu besar. Faktor publikasi menjadi salah satu penyebab, di samping pemilihan tanggal yang kurang menguntungkan. Tanggal 28 Maret tersebut memang dikepit beberapa hari libur. Namun tetap, Cello Talks adalah sebuah terobosan, karena di Bandung, cello adalah instrumen gesek yang masih kalah tenar dibanding violin.

Classical Guitar Fiesta 2008 (Gedung Majestic, 30 Agustus 2008).
Untuk pertama kalinya, kami mengadakan sebuah sekuel. Karena sifatnya sekuel, kami merasa punya modal pengalaman dari penyelenggaraan pertama, tidak seperti even-even lainnya yang serba baru. Walhasil, kami pun berusaha untuk membuat penyelenggaraan yang lebih baik ketimbang versi sebelumnya. Kami berhasil mengundang Jubing Kristianto, gitaris yang tengah naik daun, sebagai bintang tamu. Lalu kami juga tidak membatasi repertoar peserta pada lagu-lagu klasik saja, tapi boleh juga pop. Hasil audisi adalah dua belas orang pengisi acara, belum termasuk tiga intermission dan satu bintang tamu. Keseluruhan acara sebenarnya terbilang sukses untuk kami. Hanya saja alasan birokratik dalam penyelenggaraan menjadi hal yang cukup mengesalkan. Maklum, Gedung Majestic reputasinya belum pulih benar, setelah empat bulan sebelumnya menjadi lokasi tempat meninggalnya sepuluh orang penonton konser underground. Imbasnya, kami jadi harus sering bulak-balik ke kepolisian untuk mengurusi izin tempat. Lalu kami juga mesti menyediakan tenaga medis untuk mengantisipasi adanya kecelakaan. Saya memang ogah sesumbar, namun kecelakaan macam apakah yang bisa ditimbulkan konser musik klasik yang batuk pun dilarang? Saat penyelenggaraan berlangsung, jumlah polisi yang berjaga luar biasa banyaknya. Seolah konser kami berpotensi membumihanguskan gedung tua tersebut. Namun, sekali lagi, tak ada yang percuma. Meski lelah bercampur kesal, kami tetap memetik hikmah yang berharga dalam setiap even yang kami selenggarakan. Perjuangan membuat sekuel CGF ini bisa jadi yang paling menguras tenaga. (bersambung)

Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 1)

Arti Ibu Dalam Hidupmu

Dalam rangka hari Ibu, apa yang ingin teman-teman katakan pada ibu, tentang arti ibu dalam hidup teman-teman, sampaikan opini teman-teman.

cheers,
tobucil


Iqbal Aditya
ibu itu " AKar"



Bevi Yano
ga bisa diartiin deh hanz....gak ada yg bisa menggantikan betapa hebatnya nyokap gua,,! "KASIH IBU SEPANJANG JALAN" hidup nyokap gua!!hidup!!hidup ibu2 yg sayang anaknya!!hidup ibu pertiwi!!pokok na mah sorga dibawah telapak kaki ibu!


Roby Nugraha
ibuku perempuan



Etti Krismiasari
Ibu? Apa y? Dl seh sering protes m mama. Marah smp g mau bcr m mama jg sering. Tp setelah jd ibu, aduh, tnyt ribet+cpkny jd ibu. Ngurus suami,anak,rmh. Jd pembantu,baby sitter,pengurus rumah tangga+istri. Mang bnr 24jam g ckp buat seorg ibu. Tp yg ku lht skrg ini ribet lg jd ibu mertua. Antara blh+tdk blh dia sdkt ikut menata rmh tgg anak yg sdg ... See Moremerintis hdp. Dia hrs menjaga min 4hati, hati anak kandung, hati anak menantu, hati besan+hati dia sendiri. Pokok ibu segalanya deh. Drpd sbg teladan smp tempat sampah. Makanya hati2 m ibu.


Hanni Harahap
Ibu...
Ibuku temanku, karena beliau ga jaim di depanku, beliau tidak minta aku menghormati beliau, beliau ga sok jadi pahlawan kesiangan, ga sok tahu apa yang ku mau, tapi ....
Beliau senang berbagi cerita tentang apa yang dia sukai, mengajari bagaimana menjadi perempuan yang menyenangkan dan berbudi, tapi....
Beliau juga suka curhat.... ssstt.... it's for my eyes only, sory, ya...
Ibu, aku menerimamu apa adanya dirimu, pintar, lincah, cantik.... ^_^... lucu, cerewet, panikkan, perfeksionis... seru....... See More
Love you Mom.... from the bottom of my heart,
you inspiring me with all of yours...


Ragillia Rachmayuni
momi.
gadis ini menyayangimu.


Wasito Aji
ibuku adalah kekuatan dan sekaligus kelemahanku. Aku berhutang nyawa kepadanya ketika aku dilahirkan. Aku menyayangi ibuku lebih dari yg dapat aku pikirkan.




Melisa Sriwulandari
terlalu cepat pergi...




Boehmeria Nivea Marino
ibuku crafty sama seperti tobucil hehehe...



Haryanto Soedjatmiko
hati seluas samudera, kasih seluas lautan...(song: Bunda mode ON)




Meta Safiraputri
ibuku bu intan




Eline Chandra Bunda Arc ibu atau mamah atau bunda karena saya juga udah jadi ibu dan arc panggil saya bunda...saya ga bisa hidup tanpa ibu meski saya sering berantem juga sama ibu tapi itu hanya bumbu cinta kasih kita haha...ibu adalah nadi saya...i love u mah...



Indra Yunus S
"kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa,
hanya memberi tak harap kembali"

ibu adalah segalannya bagi ku..... See More
apa yang di berikan oleh ibu itulah yang terbaik untuk anak2 nya, meskipun terkadang menurut kita itu ga sesuai dengan keinginan kita...
tapi di balik semuannya itu
"ibu selalu memberikan yang terbaik"

hanya kata " Maaf dan Terimakasih yang bisa gw ucapkan kepada ibu saat ini"



Nana Qiut
mamih means everything for me...a very best friend of mine...




Margaretha Nita Andrianti
Aku sama mama hubungannya memang tidak semesra anak-anak lainnya, tapi itu yang membuat kami berdua saling membutuhkan. Kalo mama ga bisa marahin sopir angkot, aku yan marahin :). Gitu juga, kalo lagi jalan terus ada orang yang usil, mama yang ngegertak ;).
Kami saling membutuhkan dan saling melengkapi. Walau, kadang sering ga cocok :p.

"Ma, terima kasih karena selalu ada pada saat semua menepi."
GBU always, Ma!





Ichsan Paj
karena seorang ibu aku bisa menghargai wanita....



Bisma Suryono
ibu adalah tempat kembali. Ibu adalah sahabat berbagi.
Ibu adalah tempat dimana kehidupan ini, terefleksikan secara jernih dan lebih baik lagi.




Dienz Kalimat Tak Terbaca
ibu adalah seorang yang mulia,tak tergantikan,wanita hebat!! kasih sayangnya tak terbandingkan!!



ma, maafkan adek ...



ibu orang yang melahirkan kita menjaga kita membela kita meskipun harus mengorbankan nyawanya kadang kita suka sebel sama ibu tapi kalo ibu ga ada pasti kita kangen


IBU..bagiku ibu seperti oase dipadang pasir,penghilang dahaga ketika kita haus. Bagiku ibu seperti cahaya dalam kegelapan,penerang jalan ketika kita tersesat



Arti Ibu :)

seorang yang paling berjasa dlm hidupku
tanpa pamrih sedikitpun.
ada ketulusan di setiap hal yang Ia lakukan .
kebahagiaan nya adlh yang utama bagiku .

Ibu adlh Pahlawan.
seorang yang paling sempurna yang pernah aku miliki .

i love u mom .



Arti mama buat aku ... mmm, banyak! Intinya: She's my superstar!



Ibu datang dan pergi untk anak y.dia tak knal lelah darah yg mengalir kringat yg brcucur hanya untk anak y. Walaupun niat ibu tulus...ini akan tersampaikan untk anak y pula...ibu kau tepat mengdu sendal ku yg hilang pun kau tetap setia mendengar y ibu...


Mom,
i just wanna say i love you...u r the best thing in my life.Tanpamu aku akan jatuh, bunda. Maafkan anakmu ini yang kerap membuatmu menangis ataupun geleng-geleng kepala karena ketidak sepahaman pendapat.

Mom,
all i wanna do is to make u happy...n i know...bunda bahagia, apabila akupun berbahagia. Jadi aku akan selalu bahagia untukmu, Bunda...Bayangkan hanya untuk mengetahui betapa berharganya sebuah keluarga, aku harus merantau terlebih dahulu selama bertahun-tahun.

peluk sayang buat bunda....

dv


Aku sayang ibu....tak kan kubiarkan ibuku menderita karena masalah didunia ini,aku akan menjadi tangan dan kakimu agar selalu dapat membantumu.selamat hari ibu....




aku ingat makku yang ingin beli kulkas dan lemari es. namun sampai saat ini belum bisa aku wujudkan. duh jadi sedih. maaf mak. kulkas dan lemari es masih menjadi hiasan memuakkan di toko elektronik...


Ibu:
Without you I'm nothing..


Aku belajar banyak hal darinya...

aku belajar mengimani kata ideal darinya! Orang yang begitu perfeksionis untuk semua pekerjaannya. Bahkan kadang rela mengorbankan dirinya untuk sesuatu yang begitu diyakininya.

Aku juga belajar tentang kata total darinya. JIka berkata "ya" amini dan juga imani hal itu. Jangan setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu. Keluarkan semua kemampuan terbaikmu, jangan hanya puas dengan kata lumayan.

Aku belajar tentang kata nilai dari dia. Perlakukan orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan dan hargai nilai-nilai yang dijunjung seseorang. Tak lupa juga untuk tetap mentaati nila dan norma yang kadang tak tertulis tapi penting untuk dilakukan. Banyak hal-hal kecil yang bernilai lebih bagi orang lain jika kita lakukan.

bandung,2009-12-09
ivy



kebetulan bulan ini aku dapet beasiswa, jauh-jauh hari, aku udah niat beliin mama baju muslim yg mama impikan sejak dulu dan susu pencegah tulang keropos yg mama pengen beli. mamaku pedagang gorengan, keliling rumah tiap pagi untuk menjual gorengan kepada setiap orang.. dari hasil jerih payah itulah, sedikit demi sedikit mama membiayai kuliah aku.. dan sekarang, walaupun belum cukup membalas jasa dari jerih payah mama untuk ku, dengan sebagian uang beasiswa ini, aku akan membuat mama tersenyum dengan baju muslim dan susu pencegah tulang keropos yang aku belikan untuknya..


mother means everything,,
mother means sunshine in the morning,,
mother brings me umbrella when rain starts to pouring,,
a shoulder to lay on whenever im tired and crying,,
the way a man treats her mother would be a way he treats her wife someday in living,,
can we even part mother from love?


Ibu adlh malaikat dunia yg mengizinkanku ikut brsmanya k surga. Cinta ibu kpd anaknya ga kan trklhkn. Cinta kaka k adik sk ada bosennya.tp cinta ibu tdk ada tandinganya.



Di saat semua teman memunggungiku...ibu hadir tuk menjadi temanku yang paling setia. Terimakasih ibuku sayang...karena ibu senantiasa menjadi teman terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. :-)


arti ibu sendiri dalam benakku adalah, seorang individu yang dingin dan tidak hangat,suka atau tidak suka itu membentukku menjadi pribadi yang tidak bergantung dengan orang lain, tegas dan otoriter,secara tidak sengaja malah membentukku menjadi individu yang demokratis pada anaku karena aku rasakan itu tak enak...individu yang tidak bergantung terhadap bapak,membentukku menjadi individu yang percaya pada kemampuan diri sendiri..yang tersirat dari kesan-kesan tadi tidaklah menjadi negatif apabila kita membuka mata hati kita kenapa ibu bersikap seperti itu,,karena dia punya rencana dan dia adalah juga manusia, mulya tetapi jangan terlalu dimulyakan karena pada aksirnya kita memukul rata semua sikap ibu harus hangat, pemberi kasih sayang yang nyata dan selalu ada pada saat kita bersedih..tetapi ternyata tidak. Setiap ibu itu unik dan memberi karakter pada anak-anaknya...Selamat hari Ibu, I love You mom, with all the unique you have...^_^


ibu = hidup, ngga ada ibu = ngga ada hidup.. :D



mother awal dari segalanya




Ibu adalah sumber kehidupan bagi saya :)


Maaf Ibu...saat ini, aku belum bisa membuatmu tersenyum..tetapi aku berjanji, suatu saat nanti, aku pasti membuatmu tersenyum...



ibu adalah gabungan dari seluruh definisi yang baik2.




Pepito Praptowahyono
ibu itu rumah yang pintunya selalu terbuka kapan saja. ibu itu nama yg pertama kali muncul pas saya bikin kalimat persembahan di skripsi: itu artinya dia yg paling berjasa dalam hidup saya :)


Ibu adalah segalanya, kita tidak akan pernah ada tanpa dia, Yang Kuasa menitipkan kita kepada ibu kita masing-masing; Bahagianya ibu apabila melihat anak2nya berbahagia, berhasil; walau terkadang anak suka melupakan jasa2nya.


Warungnya Tobucil

Untuk yang belum pernah ke Tobucil, selain menjual buku dan
bahan-bahan hobi, kami juga punya "warung" kecil dimana kalian bisa
pesan minuman dan makanan ringan (sangat ringan hehe). Ini daftar
minuman yang ada di Tobucil:

Kopi Aroma Robusta
Kopi hitam. Termasuk minuman yang paling sering dipesan di Tobucil.
Harga Rp 3000.

Kopi Aroma Arabika
Kopi hitam juga, lebih asam dari Robusta. Kopi aroma sengaja kami
sajikan dengan gula terpisah. Jadi takaran gulanya bisa sesuai dengan
selera pembeli. Harga Rp 4000.

Kopi Susu
Harga Rp 2000.

Kopi 3 in 1
Harga Rp 2000.

Cappuccino
Harga Rp 2500.

Hot Lemon Tea
Suka yang asam dan kurang suka kopi? Lebih baik pesan ini. Harga Rp 2000.

Teh
Sama dengan kopi aroma, teh disajikan dengan gula terpisah. Harga Rp 1500.

Milo Panas
Harga Rp 2000.

Minuman dinginnya juga ada, seperti Teh Botol, Yakult, Pocari Sweat
dan sebagainya dengan harga yang tidak jauh beda dengan di
supermarket.

Makanan ringannya bagelen, onde, sus, bolu, sampai mie instan juga
ada, dan tentunya dengan harga yang terjangkau.

Jadi, boleh banget ikut kegiatan klabs, hotspot-an, nongkrong di
'teras' sambil beli makanan ringan dan minuman di Tobucil, apalagi
ditambah belanja. :D [Ipey]

Nonton Biola dan Film Tentang Mall

LET'S PLAY VIOLIN

Rabu, 23 Desember 2009
Auditorium CCF Jl. Purnawarman 32 Bandung
Pk.19.30 - 21.00
Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Musisi biola di Bandung, Ammy C. Kurniawan, merupakan salah satu musisi yang memperdalam Alternative Strings. Selain memperdalam, ia juga tengah berusaha mengembangkan kurikulum tersebut lewat lembaga pendidikan independen yang bernama: Ammy Alternative Strings, Ammy Alternative Strings merupakan tempat berkumpul dan belajar bagi siapapun yang tertarik pada alat musik string, khususnya biola. Harapannya adalah dapat menjadi suatu wadah pembinaan bagi para siswa dalam mempelajari biola.

Sebagai bentuk nyata upaya pengembangan dan pendalamannya, Ammy Alternative Strings menggelar sebuah konser yang bertajuk “Let’s Play Violin”. Konser tersebut nantinya menitikberatkan pada siswa yang tengah mempelajari biola dengan segala kesukaannya, keberaniannya dan kemampuan berbahasa musiknya serta pemahamannya dalam bermusik. Mereka belajar untuk mengetahui bagaimana proses latihan dan diharapkan juga untuk berani tampil di muka umum, berekspresi dan diapresiasi serta dapat mengapresiasi musik itu sendiri.

Pagelaran ini ditata dalam bentuk pertunjukan yang bersifat menghibur, sebagai ungkapan para siswa dalam mengekspresikan permainan biolanya dalam berbagai jenis musik. Mereka tampil diiringi oleh band yang terdiri dari para musisi profesional. Semoga pagelaran ini dapat menjadi ajang saling mengenal, menghargai dan bertukar informasi yang nantinya mendukung perkembangan potensi bermusik para siswa

Pengisi Acara:
Adita, Afifa, Alifia, Andani, Anggindita, Firas, Gillian, Hana, Ilham, Inggita, Izzati, Miranti, Pangestu, Tiara, Retno.
Ammy, Rudi, Ari.
Teddy A.B., Arif, Nissan, Jimmy, Heru.

Informasi Tiket (Rp. 10.000):
Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Telp. 022-4261548
Utet. 08122019152
Syarif. 0817212404

---

Cinema Politica
Minggu, 27 Desember 2009
Pk. 18.30 - 20.00
Tobucil Jl. Aceh No. 56 Bandung  

MALLS R  US 

The Malling of the planet is happening, complete with greenwashing!!

canada20.jpg

Helene Klodawsky / Canada / 2009 / 85 min

What do Al Gore, science fiction, gothic cathedrals and roller coasters have in common? All come together in MALLS-R-US, a feature documentary with a multiplex of reflections and revelations on one of North America’s most popular institutions: the enclosed shopping center. Mixing nostalgia, architectural ambition, pop culture and politics, MALLS-R-US travels from North America, the mall’s origins, to its most impressive newer hosts: Dubai, Poland, Japan and India. We meet some of the world’s most renowned contemporary retail architects and developers who explain how malls are the medium through which the 21st century will rebirth cities, inspire monument building, unite mankind and even help the planet grow green!