Acara-Acara Berikutnya
Sejak Classicares, kami seperti yang ketagihan membuat even. Meski tidak sesering KlabJazz, tapi kami tetap mengupayakan setidaknya dalam setahun ada minimal tiga acara yang terselenggara. Berikut ini adalah even-even yang kami selenggarakan pasca Classicares:
Soiree Francaise: Malam Pagelaran Karya-Karya Komponis Prancis (Auditorium CCF, 31 Maret 2006).
Kami berhutang budi pada Yongki Nusantara (Om Yong) dari Radio Mara, Deni Sugiri (Pak Deni) dan Iswargia R. Sudarno (Pak Lendi) atas sumbangan idenya untuk penyelenggaraan acara tersebut. Bagi kami, idenya terdengar unik dan terbilang baru. Acara tersebut dibuka untuk umum. Artinya, siapapun boleh tampil asal mau mendaftar dan ikut audisi. Awalnya kami meragukan ide tersebut, karena kami pikir, adakah orang yang mau membayar untuk tampil? Apakah sedemikian mahalnya kesempatan untuk tampil? Ternyata jawabannya “ya”. Baik Om Yong, Pak Deni, dan Pak Lendi, ketiganya sudah sangat berpengalaman membaca situasi musik klasik di Bandung yang miskin kesempatan bagi musisi untuk diapresiasi. Walhasil, untuk ukuran konsep baru, pesertanya lumayan, ada sekitar tiga belas orang. Diantara ketiga belas orang tersebut, terdapat beberapa pianis jempolan seperti Isyana Sarasvati, Rara Utami, Brigitta Sistha Kamadjaja, dan Anggita Tantri. Ditambah tiga orang gitaris (acaranya berlangsung tanpa istirahat, sehingga penampilan gitaris dimaksudkan sebagai selingan) yaitu Royke Ng, Bilawa A. Respati, dan saya, malam itu acara kami berlangsung lancar. Oia, keseluruhan pengisi acara memainkan karya-karya komponis Prancis, ada Debussy, Poulenc, Faure dan Dyens. Di akhir acara, ide tersebut kami simpan baik-baik sebagai inspirasi untuk pagelaran kemudian.
Classical Guitar Fiesta 2006 (Auditorium CCF, 28 Juli 2006).
Konsep acara ini mirip sekali dengan Soiree Francaise. Hanya saja, target pesertanya adalah para gitaris klasik. Saya pribadi memberikan acungan jempol pada rekan saya, Royke Ng yang telah melaksanakan tugasnya sebagai ketua panitia dengan sangat baik. Antusiasme terhadap Classical Guitar Fiesta (CGF) kami rasakan cukup tinggi. Lebih dari empat puluh gitaris bersedia ambil bagian. Tidak hanya dari Bandung, tapi juga luar Bandung. Lewat proses audisi, berhasil dijaring tujuh pelas pengisi acara dengan format solo dan duet. Tiga belas orang itu belum ditambah dengan empat intermission dan satu orang bintang tamu. Intermission adalah pengisi acara hasil pilihan juri dan panitia, yang –karena keunikannya- tidak mungkin dijaring lewat proses audisi. John Vincent Hardijanto (gitaris berusia 13 tahun), Serafim dan Jakarta Enam Senar (ensemble gitar) serta KlabKlassik String Duo (duet gitar dan violin) didaulat sebagai intermission. Sedangkan bintang tamu kami pilih Royke B. Koapaha, gitaris asal Yogyakarta yang punya prestasi nasional maupun internasional. Keseluruhan rangkaian pengisi acara tersebut berhasil memeriahkan CGF. Bagi saya, CGF adalah salah satu even paling sukses yang pernah diselenggarakan klab, dan membuat kami ketagihan untuk merencanakan kembali.
Resital Duet Gitar Klasik: Yogyakarta Guitar Duo (Auditorium CCF, 11 Agustus 2006).
Acara tersebut adalah untuk pertama kalinya kami mengundang musisi dari luar kota. Yogyakarta Guitar Duo (YGD) dibentuk oleh duet Rahmat Rahardjo dan Andre Indrawan dengan latar belakang akademis ISI Yogyakarta. Kedua gitaris tersebut juga punya prestasi segudang di tingkat nasional maupun internasional, ketika masih menyandang status sebagai gitaris solo. Dalam proses pelaksanaan tersebut, kami belajar bagaimana menyediakan transportasi, akomodasi, serta berbagai hal lainnya untuk kepentingan pengisi acara yang bersifat tunggal. Dalam konteks even seperti resital YGD, tugas kami di hari-H tidak seberapa, karena penampilan sang resitalis menjadi kunci pagelaran. Hal itu berbeda dengan even-even sebelumnya, dimana kami ikut mengatur program dan susunan acara. Penampilan YGD kala itu memang memang memikat dan terbilang baru di blantika pergitaran nasional, hanya saja penonton yang datang tak kuasa memenuhi setengah dari kapasitas CCF. Imbasnya, secara finansial kami terpuruk. Di tengah euforia keberhasilan CGF, kami seolah mendapat teguran untuk tetap menjejakkan kaki di bumi. Kami memang seolah terlalu ambisius dengan hanya menyelenggarakan even gitar berselang empat belas hari pasca CGF. Apapun itu, kami percaya bahwa tak ada satupun hal yang percuma. Kata-kata Pak Wenardi, pemilik pabrik gitar Secco, kala itu sangat membantuku bangkit, katanya, ”Jika kesuksesan hanya diukur lewat satu atau dua kali usaha, itu bukan kesuksesan.”
Konser Piano Ananda Sukarlan (Grand Hotel Preanger, 26 Desember 2006).
Bagi saya, ini mimpi yang menjadi kenyataan. Dahulu saya hanya bisa membayangkan kepiawaian Ananda dari koran-koran dan majalah. Ya, pianis yang berdomisili di Spanyol dengan segudang apresiasi dari seluruh dunia itu hadir di hadapan kami. Kala itu kami beranggotakan enam orang. Ada Diby, Harish, Devri, Adit, Ricky, dan saya. Maklum, KlabKlassik memang bukan penyelenggara utama, kami hanya digandeng untuk tenaga tambahan dalam bidang publikasi serta logistik. Namun, hal tersebut tidak membuat Ananda memandang kami dengan sebelah mata. Dalam sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lupakan, Ananda tiba-tiba meminta MC (Master of Ceremony) dari pihak KlabKlassik, karena MC sebelumnya dianggap tidak sreg untuk dia. Kontan saja saya langsung menyiapkan Elfina Lidya, MC andalan kami, dengan semangat. Meski akhirnya karena kekuatan birokratik Lidya gagal memandu acara, kami tetap bangga karena Ananda tetap mempercayakan pihak KlabKlassik ambil bagian. Akhirnya Diby menjadi asisten Ananda untuk membukakan partiturnya kala konser. Di akhir acara konsernya yang sangat sukses, saya mendapat kesempatan untuk memberikan bunga pada sang maestro. Setelah itu, kami diajak makan malam bersama di Paskal Hypersquare. Berbagai keikutsertaan tersebut mungkin tak seberapa untuk sebagian orang, tapi bagi kami, ”komunitas entah dari mana” itu, adalah kebahagiaan tak terlukiskan.
Seminar Musik Kontemporer (Esp’Art CCF, 2 Januari 2007).
Nama Dieter Mack selalu terdengar dalam cerita, namun tak pernah saya bayangkan bahwa beliau akan menjadi pembicara dalam salah satu acara kami. Ya, tiba-tiba saja kami terdorong untuk mengadakan seminar. Dieter Mack, seorang profesor komposisi dari Jerman, direkomendasikan jadi pembicara. Terang saja kami sulit menolaknya. Meski jadwalnya dianggap kurang menguntungkan (2 Januari, orang masih terngiang malam tahun baru), toh kami tetap nekat. Ditemani Royke B. Koapaha, jadilah kami menyelenggarakan sebuah seminar kecil di sebuah tempat di samping Auditorium CCF, dengan topik musik kontemporer. Anehnya, dengan hanya bermodalkan publikasi via SMS, ternyata peserta seminar melebihi kapasitas ruangan. Tadinya hanya dibatas hingga lima puluh, yang datang ternyata nyaris seratus! Saya bahkan heran, mereka-mereka ini tahu dari mana. Duet Dieter Mack dan Royke B. Koapaha sungguh padu. Dengan kecerdasan yang mereka miliki, plus eksentrisitas dan selera humor yang tinggi, seminar dengan topik cukup serius tersebut menjadi sangat cair. Hal yang saya catat disini adalah perilaku Dieter Mack yang menurut saya sungguh nyleneh. Pertama, ia menolak keras untuk diberi fee pembicara. Kedua, ia tidak mau menerima konsumsi makanan dan minuman dari kami sejak awal seminar hingga beberapa lama setelahnya. Ia baru mau makan saat kami ajak makan malam. Padahal, kami saja lelah melihatnya berbicara lebih dari tiga jam. ”Di Jerman, saya berbicara tentang musik kontemporer dari pagi sampai malam, disini tidak ada apa-apanya, saya tak perlu minum,” demikian kilahnya.
April String Festival (Auditorium CCF, 9 April 2007).
Setelah berasyik masyuk menyelenggarakan konser dengan sifat kolaboratif mulai dari YGD hingga seminar musik kontemporer, kami terdorong kembali untuk mengadakan konser dengan konsep mandiri. April String Festival (ASF) adalah bentuk keinginan kami untuk memberikan ruang terhadap kelompok instrumen gesek, yang memang menjadi salah satu kekuatan dalam blantika musik klasik di Kota Bandung. Pengisi acaranya adalah ensembel gesek yang beragam dari berbagai latar belakang. Ada kelompok ensembel anak (Fun-Tastic String Ensemble), ensembel yang berbasiskan kampus (ITB Student Orchestra), hingga yang independen (Ammy String Section, Sadaya Chamber Orchestra, Eya Grimonia, hingga Bohemian String Quintet). Proses penyelenggaraan konser tersebut terbilang berat bagi kami, karena personel dalam setiap kelompok instrumen gesek mempunyai kuantitas yang tidak sedikit. Kala itu juga, untuk pertama kalinya kami mengadakan konser secara gratis. Walhasil, penonton membludak parah, hingga pintu auditorium tidak bisa ditutup. Jadilah konser klasik bernuansa layar tancap. Meski demikian, sebagian besar musisi tak mempermasalahkannya. Meski protokol musik klasik telah berantakan, toh tukar menukar apresiasi antara penonton dan musisi tetap terjalin dengan baik. Yang unik dari konser ini, adalah cara Ammy C. Kurniawan mengatasi keadaan darurat dalam kelompoknya. Seyogianya Ammy tampil bertiga dengan viola dan vokal. Hanya saja, di menit-menit terakhir sang vokalis mengalami masalah tenggorokan karena minum bandrek. Berhubung sang violis adalah suaminya, maka ia juga enggan tampil. Ammy sempat menolak tampil karena alasan force majeure. Akhirnya dengan desakan dan berbagai tawaran solusi, Ammy bersedia naik ke panggung sendirian. Ia menyiapkan biola elektrik dan rangkaian efek. Karena ”ketidaklaziman” ini, dengan kilat status Ammy diubah menjadi selingan. Untungnya, dalam keadaan genting, Ammy tampil brilian dengan pesona elektrisnya. Lewat kreativitasnya dalam kesempitan itu, kami sadar bahwa form is temporary, but class is permanent.
Resital Gitar Klasik Alessio Nebiolo (Auditorium CCF, 21 April 2007).
Seperti biasa, setelah penyelenggaraan konser dengan konsep mandiri, kami selalu kehabisan tenaga. Kalaupun ada keinginan untuk menyelenggarakan even, kami berharap sifatnya kolaboratif saja. Tawaran itu ternyata datang, dan bentuknya tidak main-main. Guitar Maestros, sebuah event organizer gitar klasik berskala internasional milik pengusaha Sudirman Leman, terang-terangan mengajak kami untuk mengadakan resital gitaris asal Italia, Alessio Nebiolo. Sebelumnya, kami selalu terinspirasi dengan kegiatan-kegiatan Guitar Maestros, yang selalu sanggup menampilkan gitaris-gitaris kelas dunia ke Indonesia. Hanya saja, baru Jakarta yang dijamahnya. Mendengar keinginannya untuk coba-coba di Bandung, kami antusias luar biasa. Yang sangat membuat kami bangga adalah: logo kami bersandingan dengan logo kedutaan Italia di poster acara. Proses penyelenggaraan memang tidak terlalu berat, karena Sudirman Leman telah menyiapkan semuanya, termasuk dana dan protokol. Tapi kami tak pernah berhenti membuat diri sendiri sok sibuk, karena antusiasme tersebut. Setahu saya, gitaris asing tak pernah lagi datang ke Bandung sejak Sonya Prunnbauer, entah berapa belas tahun yang lalu. Kepercayaan Guitar Maestros tidak kami sia-siakan, di akhir acara, Sudirman Leman menyatakan puas dan berjanji akan mendatangkan gitaris-gitaris asing lainnya untuk menjadi oase di tengah gersangnya minat terhadap gitar klasik di Kota Kembang.
Resital Gitar Klasik Thibault Cauvin (Hotel SanGria, 1 Desember 2007).
Janji Sudirman Leman ditepati tahun itu juga, kali ini gitaris asal Prancis yang mendapat giliran. Tempat penyelenggaraannya cukup jauh, yakni di Lembang. Tidak banyak memang yang kami lakukan untuk konser itu, karena seperti biasa Guitar Maestros telah mempersiapkan dengan baik. Tapi tenaga kami tetap dipakai ketika hari H, termasuk mengurusi transportasi Bandung-Lembang dan menjaga protokol acara agar berlangsung lancar. Thibault Cauvin adalah gitaris muda yang sangat hebat, penampilannya ekspresif dan tekniknya mumpuni. Orangnya pun ramah dan bersahabat. Konser tersebut ditutup dengan hangat, disertai janji Sudirman Leman untuk kesediannya kembali menyelenggarakan konser di Bandung. Kepercayaan, sesedikit apapun, adalah modal besar untuk kami.
Cello Talks: The Emmotional Connection (Auditorium CCF, 28 Maret 2008).
Sifat konser ini juga kolaboratif. Kerjasama dengan event organizer Tiga Warna dan Sekolah Musik Swara Harmoni menelurkan ide untuk membuatkan cellis Unun Supardi sebuah resital. Unun adalah salah satu cellis utama di Bandung, bahkan mungkin Indonesia. Konsep acara tersebut sebenarnya sungguh menarik, hampir dalam setiap penampilan, Unun selalu ditemani musisi lain dengan format beragam. Ada duet cello diiringi keyboard, format kuartet cello, trio dengan violin dan gitar, hingga kolaborasi dengan paduan suara. Oia, konser tersebut juga berlangsung dua babak. Babak pertama adalah konser milik Asep Hidayat, yang menampilkan murid-muridnya. Babak kedua barulah resital Unun Supardi itu. Hanya sayang memang, animo penonton tidak terlalu besar. Faktor publikasi menjadi salah satu penyebab, di samping pemilihan tanggal yang kurang menguntungkan. Tanggal 28 Maret tersebut memang dikepit beberapa hari libur. Namun tetap, Cello Talks adalah sebuah terobosan, karena di Bandung, cello adalah instrumen gesek yang masih kalah tenar dibanding violin.
Classical Guitar Fiesta 2008 (Gedung Majestic, 30 Agustus 2008).
Untuk pertama kalinya, kami mengadakan sebuah sekuel. Karena sifatnya sekuel, kami merasa punya modal pengalaman dari penyelenggaraan pertama, tidak seperti even-even lainnya yang serba baru. Walhasil, kami pun berusaha untuk membuat penyelenggaraan yang lebih baik ketimbang versi sebelumnya. Kami berhasil mengundang Jubing Kristianto, gitaris yang tengah naik daun, sebagai bintang tamu. Lalu kami juga tidak membatasi repertoar peserta pada lagu-lagu klasik saja, tapi boleh juga pop. Hasil audisi adalah dua belas orang pengisi acara, belum termasuk tiga intermission dan satu bintang tamu. Keseluruhan acara sebenarnya terbilang sukses untuk kami. Hanya saja alasan birokratik dalam penyelenggaraan menjadi hal yang cukup mengesalkan. Maklum, Gedung Majestic reputasinya belum pulih benar, setelah empat bulan sebelumnya menjadi lokasi tempat meninggalnya sepuluh orang penonton konser underground. Imbasnya, kami jadi harus sering bulak-balik ke kepolisian untuk mengurusi izin tempat. Lalu kami juga mesti menyediakan tenaga medis untuk mengantisipasi adanya kecelakaan. Saya memang ogah sesumbar, namun kecelakaan macam apakah yang bisa ditimbulkan konser musik klasik yang batuk pun dilarang? Saat penyelenggaraan berlangsung, jumlah polisi yang berjaga luar biasa banyaknya. Seolah konser kami berpotensi membumihanguskan gedung tua tersebut. Namun, sekali lagi, tak ada yang percuma. Meski lelah bercampur kesal, kami tetap memetik hikmah yang berharga dalam setiap even yang kami selenggarakan. Perjuangan membuat sekuel CGF ini bisa jadi yang paling menguras tenaga. (bersambung)
Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 1)