Sunday, April 20, 2008

Mengukuti Diskusi Buku di Tobucil

oleh : Andikha Budiman

Titik air kecil-kecil berjatuhan di kepala saat aku dan adik perempuanku, Intan, turun dari angkutan kota. “Ya Tuhan mudah-mudahan jangan sampai deras, nanti kami repot pulang,” aku mengeluh. Setelah membayar, kami masuk ke pekarangan Tobucil—kependekan dari toko buku kecil.

“Doa yang egois!” omel Intan menyebalkan. “Buat apa takut hujan. Kita kan sama-sama bawa payung!”

“Cuma bercanda, kok!” tukasku, cemberut pada ketidakmampuan Intan membedakan mana yang serius dan mana yang kurang serius. “Paling juga nggak dikabulkan. Awannya juga sudah abu-abu begitu.”

“Cepat, Mas! Jangan-jangan kita nggak kebagian tempat duduk!” ajak Intan, mempercepat langkah. Ia benar, sore ini suasana Tobucil lebih ramai dari biasanya. Riuh rendah obrolan dari toko terdengar sampai ke pekarangan. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Diskusi buku bersama penulis di serambi Tobucil akan segera dimulai.

Mataku menangkap poster besar menempel di salah satu pintu serambi. Poster itu memuat sebuah potret para pria dan wanita yang berpose dalam pakaian yang tak menuruti identitas kelamin masing-masing. Di atas potret tertulis, ‘Qmunity proudly present: Q! Film Festival. Aku dan Intan bertukar pandang. Di pintu yang lain tertempel poster sampul buku-buku yang akan dibahas: Mengalami Taik dan Sarcastic Romance. Sebenarnya ada satu buku lagi, Joker, Misery Loves Company, tetapi berhubung pintu sudah penuh tempelan, poster Joker ditempatkan di belakang tempat duduk para penulis. Ketiga buku ini sama-sama mengangkat tema lesbian, gay, bisexual, dan transgender, disingkat LGBT.

Lalu kami masuk ke serambi Tobucil yang serba hijau. Bangku-bangku panjang yang berderet sudah setengah penuh diduduki pengunjung. Ada laki-laki flamboyan, perempuan berambut cepak, sampai sepasang perempuan berjilbab. Selain itu aku mengenali beberapa wajah: Mirta, Ani, dan Ian, ketiganya teman sesama anggota Klab Nulis. “Halo!” sapa Mirta yang pertama kali melihatku. “Sudah isi buku tamu?”

“Belum.” Aku menggeleng. “Teman-teman ini Intan, adikku. Intan ini Mirta, Ani, sama Ian. Siapa tahu di masa depan salah satu di antara kami bakal menang Penghargaan Pulitzer?”

“Siapa tahu?” sahut Ani, menyambut uluran tangan Intan.

Pasangan perempuan berjaket coklat dan lelaki berambut gimbal lewat di dekat kami. “Eda!” panggilku dan Intan berbarengan.

Si perempuan menoleh. “Hei,” sapanya agak lesu. “Aku flu, nih!”

Setelah melalui serangkaian ‘Halo!’, aku dan Intan menghampiri gadis berkacamata yang duduk dekat meja tamu. “Mau ikut diskusi? Isi buku tamu dulu, dong!” pintanya sembari membuka buku tamu dan menyediakan bolpen. Kami pun mengisi nama, nomor telepon, dan alamat e-mail. Lalu aku dan Intan diberi masing-masing sebuah poster, kalender, majalah, katalog film, dan penggalan buku. Kerepotan membawanya, kami cepat-cepat duduk dan bersiap untuk mengikuti diskusi buku.

***

Sebagai kutu-kutu buku yang gemar meloncat dari satu toko buku ke toko buku lainnya, aku dan Intan tak pernah puas dengan hanya satu toko buku langganan. Hati kami sering terbelah antara tempat yang menawarkan harga murah dan tempat yang menawarkan kenyamanan berbelanja. Meskipun begitu, ada satu toko buku yang rutin aku dan Intan kunjungi: Tobucil. Kunjungan kami kebanyakan tak untuk beli buku—baik koleksi maupun diskon buku Tobucil sebetulnya tak terlalu istimewa. Namun berhubung di sana diadakan kegiatan mingguan yang menarik, paling tidak aku dan Intan datang ke Tobucil sekali dalam seminggu. Aku ikut Klab Nulis dan Intan ikut Madrasah Falsafah Sophia. Tobucil beroperasi di paviliun salah satu rumah tua di Jalan Aceh, Bandung. Toko buku ini menegaskan statusnya sebagai toko buku kecil sejati dengan berbagi paviliun bersama sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Bandung dan sebuah kantor konsultan pajak. Cukup akrab dengan Tobucil, aku dan Intan langsung mengiyakan ketika Wilku, .... (bersambung)

* Papan Tulis adalah rubrik yang memuat tulisan kreatif dalam bentuk apapun

0 comments: