“Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama.”
-Dee dalam blognya-
Kamis itu, 15 Mei 2008, versi digital Perahu Kertas di-launching. Disponsori Hypermind (perusahaan content provider) dan Pro XL (perusahaan telekomunikasi), novel karya Dee ini sudah dapat diakses melalui telepon genggam.
Untuk itulah Dee berlayar ke Excelso Coffee, Dago Plaza; entah dengan perahu kertas atau kendaraan lainnya. Setiap kata yang mengalir dari mulutnya, bermuara pada novel Perahu Kertas yang dia tulis.
“Ini novel terpanjang yang saya tulis. Panjangnya satu setengah kali Supernova,” kata Dee. Naskah awal Perahu Kertas dikerjakannya sebelas tahun yang lalu. “Tapi karena sudah tidak sesuai dengan zaman, saya terpaksa membuat edisi revisi naskah ini. Dalam waktu enam puluh hari kerja, saya menulis ulang naskah ini dari nol,” papar Dee.
Tersebutlah Keenan dan Kugy yang saling mencintai namun sulit sekali menemukan jalan untuk bersama. Keenan adalah pelukis idealis dan Kugy adalah penulis dongeng yang eksentrik. Kugy sering menuliskan isi hatinya di kertas, melipatnya menjadi perahu, dan membiarkannya mengikuti alir air di mana saja. Ia berkeyakinan perahu itu akan bermuara di laut; sampai kepada Dewa Neptunus.
Sekilas cerita ini tampak seperti kisah cinta biasa. Namun, Riswan dari komunitas baca Reading Lights mengungkapkan, tulisan-tulisan Dee mengandung “arti di balik arti”. Apa betul begitu ? Setelah membacanya, kamu bebas menilai sendiri ;)
Sementara Dee terus berbicara, Tobuciler memperhatikan semacam air, persis di bawah wajah Dee. “Air” tersebut merefleksikan wajah cantik Dee; menangkap setiap ekspresi Dee dengan interpretasinya sendiri.
Meskipun Perahu Kertas mengalir lewat cerminan mimik Dee, pada “air” itu hanya ada segelas cappuccino dingin, bukan perahu kertas Kugy.
Difotokan oleh Pram

untuk tahu lebih banyak tentang Perahu Kertas, klik di sini






0 comments:
Post a Comment