Sunday, May 11, 2008

Menggelisahkan Kematian

-Tobucil, Rabu, 07 Mei 2008-

Madrasah Filsafat

Madrasah Filsafat hari itu penuh sesak dengan mahasiswa Unisba (Universitas Islam Bandung) yang gelisah memenuhi syarat kuliah. Akibatnya, banyak pula hadirin yang menjadi gelisah mencari posisi duduk yang nyaman dan mapan. Sekumpulan orang gelisah tersebut lalu larut dalam topik “Gelisah” yang disuguhkan Madrasah Filsafat.

“Teman-teman lebih baik gelisah atau tenang?” tanya Mas Dauz yang memang gemar membuat gelisah orang lain. “Karena hidup kita gelisah, kita berupaya untuk tenang,” tanggap Budi, salah seorang mahasiswa. “Berarti ujung-ujungnya harus tenang juga, ya? Kalau saya, memahami tenang sebagai kematian. Rest in Peace,” ujar Mas Dauz lagi.

Pembicaraan mengenai kematian itu lalu menyentil Ibu Ane. Ia menyampaikan kegelisahannya tentang puteri kecilnya yang belakangan tiba-tiba jadi sangat takut terhadap kematian. “Takut nggak ketemu lagi katanya. Saya nggak tau gimana ngejelasin sama dia supaya dia nggak gelisah. Saya down, saya jadi lebih banyak nangis …,” ungkap Bu Ane dengan suara bergetar. ,

Mulai dari situ, kegelisahan Bu Ane menjadi kegelisahan bersama. “Mungkin masalahnya ada pengetahuan yang berlapis ketika kita menghadapi anak-anak. Sebetulnya kita nggak tahu yang mereka pertanyakan kematian yang kita pikirkan atau bukan,” Mbak Upi menanggapi. “Atau orangtua merasa harus memberi jawaban yang benar,” tambah Mas Dauz. Kali ini dia betul juga. Jangan-jangan justru tuntutan itulah yang membebani.

“Saya gelisah ketika ada keinginan yang belum tercapai,” ujar Mas Iman, peserta tetap Madrasah Filsafat. “Nah, Bu, jangan-jangan karena itu …,” sambung Mas Ami, tutor madrasah filsafat. “Atau mungkin seperti tadi Nadya (salah satu peserta madrasah filsafat-red) yang gelisah, takut kehilangan, ketika adiknya dioperasi. Nadya merasa memiliki adiknya dan punya kepentingan untuk dimaafkan oleh adiknya,” kata Mas Ami lagi.

“Pas kelas tiga SMA, saya juga pernah mempertanyakan kematian. Waktu itu yang ada di pikiran saya cuma mati. Udah nggak ada mikirin orangtua dan lain-lain. Tapi saya sempat punya pengalaman spiritual,” seorang mahasiswa berjaket abu-abu ikut angkat bicara. Selanjutnya ia menceritakan pengalamannya berjumpa dengan malaikat berjubah hitam dalam “karyawisata” ke “dunia kematian”. “Begitu kembali dari sana, yang saya pikirkan adalah bertemu lagi dengan orang-orang yang saya sayangi,” mahasiswa itu menutup kisahnya.

Pertanyaan Bu Ane yang hadir berdamping dengan Pak Eddy, suaminya tidak tuntas terjawab dalam pertemuan madrasah filsafat hari itu. Namun, moga-moga teman-teman yang berbagi wacana mampu membantu menopang beban yang menggelisahkan mereka.

Malam itu cuaca pun tampak gelisah. Hujan turun secara aneh. Deras … berhenti sebentar … deras lagi … berhenti lagi … terus begitu selama beberapa jam.

…. mungkin cuaca pun ingin sekedar mengungkapkan, “Aku juga mengerti,” kepada Pak Eddy dan Bu Ane …

Sundea

0 comments: