oleh : Andika Budiman
“Diskusinya jadi seru ya, Mas?” tanya Intan sembari cengengesan.
“Iya!” Aku turut tersenyum. “Tapi kamu kok nggak ikut bertanya?”
“Aku kan belum baca bukunya!” sahut Intan. “Tapi Mas juga kok nggak ikut bertanya?”
“Aku kan nggak kritis, Tan.”
WENDY: (Nada tinggi dan telinga merah) Saya beda pendapat, sebagai editornya saya pikir Sarcastic Romance sangat layak terbit. Buku ini berani mengangkat sesuatu yang jarang diangkat oleh penulis lainnya, dan itu cukup! Saya melihat potensi dalam cara menulis Reza dan saya mempercayainya. Selera baca masyarakat Indonesia menurut saya cukup tinggi dan beragam. Kalau buku ini nggak cocok dengan selera Mas Wilku ya nggak apa-apa. Di toko buku sekarang ini kan ada banyak pilihan, tinggal cari mana yang cocok sama seleranya Mas Wilku saja.
WILKU: Yang saya khawatirkan adalah apabila buku-buku seperti Sarcastic Romance menutup kesempatan bagi buku yang lain. Saya setuju dengan Mbak Wendy, minat baca masyarakat Indonesia nggak kecil. Tapi kalau yang terus muncul adalah buku-buku seperti ini, apa ini bukan pelan-pelan membunuh minat baca? Saya sering mendengar kesulitan para penulis bagus yang karyanya kalah bersaing dengan teenlit dan chicklit spesialisasinya Gragas!
WENDY: Penulis bagus? Penulis yang menurut Mas Wilku bagus?
WILKU: (Mengangguk) Penulis yang menurut saya bagus.
REZA: (Menyalakan rokok keduanya) Saya mau menanggapi pertanyaan Mas Milku, (“WILKUU!” ralat pengunjung) Gollum adalah karakter dari trilogi Lord of the Ring. Saya sengaja nggak memberi referensi karena saya kira Gollum sudah sangat umum, ya? Apalagi sejak difilmkan siapa sih yang nggak tahu Lord of the Ring? (Wilku senyam-senyum) Mengenai Sarcastic Romance yang menurut Mas nggak bisa disebut sebagai novel, mungkin di awal-awal tadi Mas nggak menyimak, mulanya tulisan ini saya maksudkan sebagai sebuah cerpen. Namun buat memenuhi permintaan penerbit, saya membuatnya jadi agak panjang. Mungkin ini yang membuat tulisan saya bisa dibilang banyak lubangnya.
ERHA: Mas Wilku puas? Ada lagi yang mau bertanya?
Arden, anak Tobucil jangkung, berkacamata, dan terkenal tega menghardik customer service Telkom Speedy yang dianggapnya tak kompeten, mengacungkan jari.
“Silakan, Mas!” sambut Erha.
ARDEN: Saya Arden. Sama seperti yang lain, saya juga baru baca Sarcastic Romance. Saya mau berkomentar tapi sebelumnya saya tanya dulu, Mas Reza berharap tulisan ini jadi seperti apa?
REZA: (Mengepul-ngepulkan asap rokok) Saya berharap karya ini menjadi karya yang (Diam sejenak) jujur? Jujur dan jadi representasi dari realita yang ada di masyarakat.
ARDEN: (Mendengus) Sekarang saya mau berkomentar, apa buku yang seperti ini yang kamu anggap jujur? Kamu menceritakan tokoh kamu sebagai bagian dari high society Jakarta. Tapi bahasanya kok nggak banget? ‘Nafsu-kuda-ranjang’, ‘Cairan-nano-nano’. Lalu si tokoh menggesek-gesekan kemaluan ke orang yang berdiri di depannya waktu lomba paduan suara, aduh! Saya tanya teman saya yang ikut paduan suara, katanya nggak sampai segitunya, deh!
ERHA: (Memotong) Aku juga ikut paduan suara! Menurutku masuk akal-masuk akal saja!
REZA: (Menunjuk Erha) Tuh, kan? Saya juga ikut choir, dan menurut saya itu masuk akal. Apalagi kalau anggotanya besar dan panggungnya sempit. Masturbasi saat lomba sangatlah mungkin!
ARDEN: Sekali lagi saya mempertanyakan, apa ini yang kamu bilang karya jujur? Di bagian belakang buku ditulis bahwa kamu adalah translator sastra Indonesia ke Bahasa Inggris, tapi di buku ini kamu menulis therapy dengan huruf h, theraphy! Saya sudah lihat di kamus dan yang betul itu therapy! Lalu kalimat yang mengambil referensi dari Sex and the City, Miranda faking orgasm? Well, saya memang nggak tahu paduan suara atau kehidupan high society Jakarta! Tapi saya tahu Sex and the City! Sebagai penggemar saya tahu persis Miranda nggak bakal faking orgasm! (Mengambil napas) Samantha-lah yang faking orgasm!
Meledaklah tawa geli hadirin berkat ketepatan Arden mengobservasi karakter serial Sex and the City. Beberapa hadirin yang kurang tega, seperti Mirta dan Ani, terombang-ambing antara ingin tertawa atau bersimpati kepada Reza. Wendy melongo. Buda dan Toni bertukar pandang prihatin. Reza tampak seperti ayam yang bulunya dicabuti.
REZA: (Suara pelan) Seingat saya, yang saya tulis memang Samantha .... (Hadirin tertawa makin keras)
WENDY: (Memotong Reza) Sekarang giliran saya yang tanya Mas Arden bisa nggak menyebutkan satu buku saja yang nggak ada kesalahannya? Nggak bisa, kan? Saya pikir kesalahan itu wajar.
ARDEN: (Mengabaikan Wendy) Lalu bagaimana bisa kamu bilang ini karya yang jujur? Kita semua tahu logika cerita kamu itu bermasalah. Tapi bukannya menyelesaikan masalah, kamu malah menulis satu bab tentang bagaimana teman perempuan si tokoh utama beli g-string dan tokoh utama ikut masuk ke ruang ganti melihat g-string itu bagus atau nggak? Satu bab penuh! Kampungan sekali high society Jakarta! Belum lagi pada bagian terakhir, waktu si tokoh yang putus cinta memutuskan bunuh diri pakai Baygon! Saya menempatkan diri di posisi tokoh utama dan menjerit sendiri, OMAIGAT! apa kata high society Jakarta kalau saya bunuh diri pakai Baygon! Dan lagi I’m a gay man. Saya juga pernah patah hati. Saya tahu sakitnya seperti apa. Tapi kalau cuma patah hati lalu bunuh diri kok kayaknya nggak tough banget, ya?
REZA: Don’t you see the irony? (Suara bergetar) Justru itu! Di sana ….
Bersambung …
Sundea






0 comments:
Post a Comment