Sunday, June 1, 2008

Agus Firmansah dan Semangat Sila ke Tiga Pancasila

Namanya Argus Firmansah. Sekilas, Mas yang satu ini tampak The Beatles sekali; potongan rambut khas pemuda zaman itu dan kacamata bulat ala John Lennon. Tobuciler pun segera menanggapnya untuk rubrik “Teman Tobucil” minggu ini.


Mas Argus adalah anggota AJI. Sore itu, sambil menonton Mas
Argus mengupload blog di ruang AJI, wawancara dilakukan.

Tobucil : Mas wartawan, ya ?

Mas Argus : Iya, tapi statusnya masih kontributor.

Tobucil : Di mana aja?

Mas Argus : Di Harian Jurnal Nasional Jakarta, majalah Arti Jakarta …

Tobucil : Jakarta? Terus, kok, di sini ?

Mas Argus : Ya kan kontributor Bandung …

Tobucil : Ooo … hehehehe … Mas tau, nggak, Mas itu rambutnya kayak Paul McCartney, kacamatanya kayak John Lennon. Emang seneng The Beatles, ya ?

Mas Argus : Iya. Dulu punya band waktu SMA, maininnya lagu-lagu The Beatles. Saya suka The Beatles karena konon mereka pendobrak. Mereka membawa perdamaian lewat musik mereka. Syair-syair lagu mereka tidak sembarangan dan sangat beragam. Tentang apapun ada.

Tobucil : Terus lagu The Beatles yang Mas paling suka ?

Mas Argus : We Can Work It Out. Lagu itu mengandung motivasi yang meningkatkan semangat kebersamaan. Di sana ada tema cinta, persahabatan, pertemanan, apapun hubungan itu kalau dikerjakan bareng-bareng pasti bisa diselesaikan.

Tobucil : Wah … kayaknya Mas Argus orangnya paguyuban, deh …

Mas Argus : Paguyuban ? Sebetulnya saya hanya tipe orang yang di manapun saya berusaha bisa masuk. Dengan begitu saya jadi banyak teman, banyak saudara juga. Berkomunitas itu baik, dengan adanya berserikat dan berkumpul ada banyak hal yang bisa dibuat.

Tobucil : Hiyaaaa … kayak UUD ’45 …

Mas Argus : Iya, seperti Penataran P4 itu, ya ? Sebetulnya Penataran P4 itu baik untuk penanaman kesadaran untuk menjadi bangsa yang besar.

Tobucil : Kalau penanaman harusnya di kebun, ya, Mas, kalau di ruangan gitu kan nggak ada tanahnya …

Mas Argus : (tanpa menanggapi Tobuciler) Bangsa kita itu kadang sifatnya masih kedaerahan. Coba, waktu kamu bertemu dengan orang lain, kadang pertanyaannya kan “dari mana?” padahal itu bukan sesuatu yang penting juga. Sifat kedaerahan itu yang banyak menimbulkan korupsi.

Tobucil : Kok ?

Mas Argus : Orang korupsi karena nasionalismenya hanya di mulut. Mereka korupsi untuk kepentingan kelompoknya saja. Rakyat mereka hanya anggota konstituennya, anggota partai politiknya. Bagi mereka, rakyat Indonesia bukan keseluruhan rakyat yang ada di Indonesia, tapi rakyat mereka yang ada di Indonesia. Megawati pernah membuat upacara sendiri dan terang-terangan bilang, ‘saya punya rakyat sendiri’. Itu adalah sebuah indikasi.

Tobucil : Ooo ...

Mas Argus : Kamu tahu, nggak, kalau bahaya laten perpecahan Indonesia adalah disintergrasi. Sekarang ini banyak sekali daerah yang ingin melepaskan diri dari NKRI.

Tobucil : (mengangguk-angguk)

Mas Argus : Itulah pentingnya nasionalisme. Bapak saya Cirebon Keraton, Ibu saya Soreang, tapi saya tidak fasih berbahasa Sunda. Sejak kecil saya malah lebih senang bermain dengan teman-teman dari luar Jawa dan selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Selain sekedar bergaul, kita harus sadar untuk punya self defense yaitu nasionalisme itu sendiri.

Tobucil : Jadi udah nasionalis dari anak-anak, ya, Mas ?

Mas Argus : Sebetulnya waktu kecil saya nggak sadar, tapi mungkin karena di keluarga saya banyak yang militer. Itu merupakan reminder supaya kita punya kesadaran untuk mempunyai rasa cinta terhadap tanah air.

Tobucil : Apa, Mas ? Keluarganya banyak yang dari Blitar?

Mas Argus : (dengan suara lebih jelas dan tegas) MILITER.

Tobucil : (sambil mencoret-coret catatan) Oh … hehehehe … maaf ….

Mas Argus : Saya bicara begini karena ingat Sukarno.

Tobucil : Makanya, Mas, ingetnya sama Mudahno aja, jangan yang sukar-sukar, pasti obrolannya jadi lebih ringan, deh … hehehehe …..jadi Mas seneng sama Sukarno, nih ?

Mas Argus : Apanya? Kalau kepribadiannya, sih, enggak, tapi kalau soal perannya untuk sejarah iya. Sejak remaja dia sudah punya obsesi bagaimana menjadi pemimpin. Tahun 2001 saya masuk LSM Bandung Jurnal. Di sana kami membuat program kegiatan yang bercirikan Indonesia. Programnya diadakan di Gedung Indonesia Menggugat, Lanrad. Di tempat itu kan Sukarno membacakan pembelaan dirinya untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari pemerintahan kolonial … ingat, nih, bangsa, ya, bukan negara ….

Tobucil : Menurut Mas sendiri, “bangsa” dan “negara” bedanya apa ?

Mas Argus : Bangsa lebih ke ethnic community, lebih luas, tidak terbatas teritorial. Sementara negara kan lebih jelas batas teritorialnya; berapa lintang utara, berapa lintang selatan …

Tobucil : (mengangguk-angguk sambil mencatat) Eh, Mas, mumpung wawancaranya modelnya udah begini, nih, menurut Mas, Pancasila itu gimana? Kan tanggal 1 Juni hari lahirnya Pancasila …

Mas Argus : (agak sinis) Pancasila sekarang sudah banyak dijual untuk judul proyek ! Pesan terakhir dari saya, nasionalisme harus dipertanyakan kembali.

Mas Argus menerima telpon. Setelah itu dia memakai jaketnya dan bersiap-siap meninggalkan Jln. Aceh no. 56. Entah sadar entah tidak, dia juga meninggalkan kepusingan di kepala Tobuciler; pasca-wawancara, Tobuciler merasa seperti baru selesai menonton program khusus Sumpah Pemuda atau Kebangkitan Nasional.

Sepeninggal Mas Argus, Tobuciler mencoba merenungkan keseluruhan wawancara. Tahu-tahu Tobuciler malah sadar sesuatu yang membuat Tobuciler nyengir-nyengir sendiri. Tampilan Mas Argus mirip The Beatles dan dia lumayan mengagumi Sukarno. Padahal dulu, Sukarno pernah mencekal Koes Plus karena dianggap mirip The Beatles.

Sundea



3 comments:

vitarlenology said...

hahahah.. wawancara paling serius nih...

Love For Beginner said...

Hidup Argus!

Just For Music said...

mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis www.kumpulblogger.com yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran