Namanya Dhilla. Bukan Dhillalatin. Bukan juga Dhillaporkan ke polisi. Namanya Dhilla. Lengkapnya Dhilla Baharudin Nurulhadi.
Berdomisili di Yogyakarta. Membuka cabang Klab Rajut di Kinoki. Mencintai broadcasting dan dunia anak-anak. Meski agak pemalu dan bersuara sayup, Dhilla teman mengobrol yang sangat menyenangkan. Berikut ini adalah ngobrol-ngobrol Tobucil dengan Dhilla.
Tobucil : Suka ngerajut, ya?
Dilla : (mengangguk sambil tersenyum)
Tobucil : Apa yang bikin kamu suka ngerajut ?
Dilla : Pertamanya gara-gara kondisi. Pas Kinoki pengen buka Kelas Merajut, Mbak Tarlen bilang, “Ini ada Dilla …”. Ya udah, akhirnya saya kursus kilat sama Mbak Upi, trus minggu depannya udah ngajar …
Tobucil : Yang bikin Mbak Tarlen nunjuk kamu buat ngajar rajut ?
Dilla : Mungkin karena domisili saya di Yogya …
Tobucil : (sebetulnya ini pertanyaan pura-pura nggak tau) Terus apa, dong, yang bikin kamu sering ke sini ?
Dilla : Kebetulan teman wanita saya kerja di sini (sambil senyam-senyum).
Tobucil : Terus, tau Tobucil dari teman wanita kamu, dong, ya … ?
Dilla : Saya tau tempat ini karena teman saya cerita macem-macem tentang tempat ini, waktu itu Tobucil masih di KGU (Kyai Gede Utama). Saya jadi tertarik, soalnya tempat ini sepertinya center orang-orang unik, sering berkarya dan karyanya macem-macem …
Tobucil : Teman wanita kamu termasuk yang unik juga ?
Dilla : Unik, karena itu dia jadi teman wanita saya (senyam-senyum lagi).
Tobucil : Uniknya apa ?
Dilla : Wah, banyak … bingung … (berpikir sebentar) … dia itu … bener-bener sayang sama saya, membuat saya merasa spesial. Walaupun suka sedikit marah-marah, kemarahannya menunjukkan kalau dia perhatian. Ya … saya seneng aja.
Tobucil : (pertanyaan pura-pura nggak tahu lainnya, nih … ) Emang siapa, sih, teman wanita kamu ?
Dilla : Yang biasanya jadwal jaganya shift ke dua dari Senin sampai Jumat, namanya Larasati Tika Pratiwi ….
Tobucil : Katanya kamu suka hal-hal yang berbau kekanak-kanakan, ya ? Kenapa ?
Dilla : Apa, ya … ? Karena murni, tulus, tidak dikotori, dan itu adalah sumber inspirasi.
Tobucil : Buat ?
Dilla : Banyak. Saya suka dunia broadcasting. Saya suka banget audio, dulu saya sempet ngeband-ngeband. Saya juga suka yang berhubungan sama olah gambar, manual maupun digital. Terus saya juga pernah jadi asisten sutradara waktu bikin video klip. Kepengen bikin film, tapi masih dalam observasi. Itu (semua) kan hubungannya sama perasaan. Materinya dari situ (dunia anak-anak-red); jadikan hidup menyenangkan, jangan banyak berkeluh kesah …
Tobucil : Contoh karyanya ?
Dilla : Pas bikin viedo klip, konsepnya one take one shoot dengan konsep cerita seal time. Semuanya berjalan bersamaan, tapi nggak boleh salah. Di sana banyak bermainnya, ada muncratan cat, balon-balon sabun …
Tobucil : Waaah … kedengerannya menyenangkan sekali, ya … sekarang soal anak-anak, nih, ya, Dil … kalo disuruh nggambarin anak-anak dengan tiga kata … ?
Dilla : main, main, dan main.
Tobucil : Itu empat.
Dilla : (sambil tersenyum khas Dilla) Ya udah kalau gitu, bermain dan bermain.
Tobucil : Kalau disuruh nggambarin anak-anak dengan buah, menurut kamu anak-anak mirip buah apa ?
Dilla : Mmm … anggur kayaknya …
Tobucil : Kenapa ? Karena mereka kalau dicekek jadi ungu, ya ?
Dilla : (tersenyum) anak-anak itu jamak, anggur kan satu kesatuan yang banyak rasanya. Ada yang manis, ada yang kecut. Banyakan manisnya, dan yang kecutnya pun nggak ngeganggu.
Tobucil : Hehehehe … lucu analoginya … kalau digambarin sama lagu, menurut kamu anak-anak kayak jenis lagu apa ?
Dilla : Lagu-lagu punk rock karena punk kan tidak pernah dewasa. Walau udah tua, (jiwanya) tetep aja muda. Isinya juga macem-macem; politik, hewan, cinta, jenisnya pun luas.
Tobucil : Kalau Tobucil, ada hubungannya nggak sama anak-anak ?
Dilla : (berpikir sambil melihat-lihat sekeliling Tobucil) Benang-benangnya warna-warni. Dekornya, meskipun hijau, banyak pemanis-pemanisnya. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di sini. Ada rajut, origami, warna-warnilah di sini. Kayaknya tiap ke sini ada ajakan, “Yok … bikin apa, yok … “ Selalu ada keinginan untuk mengeksplor dan membuat sesuatu yang kita suka. Nggak komersil. Kalau kata NOFX mah, “We do it for the ‘caused”.
Tobucil : Wueissss …
Sementara kami berwawancara, Mbak Elin datang. “Kalian, kok bisik-bisik, sih ? Curhat, ya?” tuduhnya. “Enggak, dia suaranya emang begitu,” sahut Tobuciler. “Iya, Dhil, kamu, kok, suaranya pelan banget, sih?” tanya Tobuciler kemudian. Sambil tersenyum dan terus merajut, Dhilla menjawab, “Sama kayak nanya ‘macan, kamu, kok loreng ?’ Ya emang begini, Mbak …”
Namanya Dhilla. Bukan Dhillalatin. Bukan juga Dhillaporkan ke polisi. Namanya Dhilla. Lengkapnya Dhillakukan dengan senang hati. Tobuciler percaya jiwa anak-anak dalam dirinya membuat hidupnya selalu raya. Sayup suara Dhilla berbanding terbalik dengan lantang kemerdekaannya.







0 comments:
Post a Comment