Pada suatu sore, seseorang yang tampak familiar melihat-lihat buku di Tobucil. “Siapa, ya … ?” Tobuciler mencoba meningat-ingat.
Tobucil : Apa kabar ?
Martha : Baik.
Tobucil : Kamu dari mana aja, sih?
Martha : Baru selesai sekolah dan sedang melakukan retrospeksi.
Tobucil : Emang kuliah apa dan di mana ?
Martha : Arts and Cultural Management di Lasalle College of the Arts, Singapur.
Tobucil : Wooow … apa yang kamu dapet selama di Singapur ?
Martha : Yang gua alamin … orang-orangnya patuh … patuh yang mengerikan; senang diatur tapi tidak suka bertanya. Saya baik-baik saja sama mereka tapi suka kesel juga karena mereka nggak kritis. Terus, Singapur suka jadi tempat perhentian banyak budaya. Saya juga sempet kerja di Asian Civilitation Museum. Cara kerjanya beda.
Tobucil : Bedanya ?
Martha : Mereka tegas dalem kerjaan. Kalau A, ya A. Straight to the point, gitu …
Tobucil : Ooo … begitu … ngomong-ngomong, kamu udah berapa lama , sih, di Bandung ?
Martha : Tiga-empat hari. Sekarang lagi meresapi kota ini kembali, abis itu I’ll go where my feet will go …
Tobucil : Rencananya you’re feet will go ke mana ?
Martha : Pengennya, sih, jalan-jalan, mungkin travelling ke South Asia, Kamboja, mumpung masih pake Student Pass, bebas fiskal, jadi dimanfaatkan.
Tobucil : Statusnya masih student ?
Martha : Masih, sampai pengumuman kelulusan nanti.
Tobucil : Kangen, nggak, sih, sama Tobucil ?
Martha : Mmm … not really …
Tobucil : Serius lo ?
Martha : Iya. Ada satu masa ketika saya suka nongkrong, dan saya sudah melewati masa itu. Sekarang gua ada di masa seneng sendiri kali, ya, satu setengah taun di Singapur membuat saya jadi sangat memilih-milih kegiatan …
Tobucil : Kalau nggak kangen, kenapa main ke sini, dong ?
Martha : Karena hari ini, saya memang jalan-jalan kaki ke mana-mana. Barusan saya dari Vertex (terletak di jalan Lombok, dekat dengan Tobucil-red).
Tobucil : Ada, nggak, sih, yang kamu kenang dari Tobucil ?
Martha : Mm … Klab Nulis, kali, ya, Klab Nulis yang jaman baheula. Menurut gua itu tempat yang menyenangkan, bisa berbagi tanpa target dan tekanan …
Tobucil : Maksudnya ?
Martha : Iya. Di Klab Nulis waktu itu kita hanya saling berbagi, saling mendengarkan. Dulu itu tempat yang akrab, intim, menyenangkan, rasanya nggak membuang-buang waktu ngelewatin seharian di sana.
Tobucil : Kalau Klab Nulis yang sekarang ?
Martha : Ya nggak tau, saya kan nggak ngikutin Klab Nulis yang sekarang …
Tobucil : Oh iya, hehehe … apa, sih, yang bikin kamu waktu itu mulai nggak ke Tobucil lagi?
Martha : Waktu itu gua udah taun-taun terakhir kuliah, jadi pengen konsen ke tugas akhir. Abis itu dapet kesempatan ke luar negeri, ikutan kompetisi, terus setelah itu terbawa arus. Iya, saya terbawa arus. Terbawa arus kadang-kadang menyenangkan ….
Tobucil : Kenapa ?
Martha : Abis gampang, nggak usah mikir …. Hehehehe … asal kita tau aja ke mana arusnya …
Tobucil : Apa yang kamu rasain ketika pulang ke Bandung ?
Martha : Hmmm … ingatan saya ada di sini, tapi rumah saya bukan di sini. Rumah saya kecil di sini (sambil meletakkan tangan di dada).
Setelah saya tinggal di kota yang mekanis, di sini terasa lebih tenang, nggak terlalu banyak kompetisi … eh … di sini ada WC-nya kan ?
Tobucil : Ya adalah …
Tobuciler mengantar Martha ke WC. Ketika keluar dari WC, Martha tampak meringis-meringis tidak enak. Ternyata dia diare setelah jajan ayam bakar di warung setempat.
Selanjutnya Martha pulang bersama Tobuciler. Tadinya kami berencana berjalan kaki dari Jln. Aceh sampai Jln. Dago, tapi tahu-tahu Martha meringis-ringis lagi. “Mau naik angkot aja ?” tawar Tobuciler. Martha mengangguk setuju. “Makanan di Singapur nggak ada rasanya, tapi kebersihannya terjamin. Kayaknya perut saya udah terbiasa dimanja sama makanan bersihnya Singapur,” curhat Martha.
Tampaknya keindonesian jajanan telah menjalar-jalar dalam perut Martha. Mungkin itulah cara dia mengucapkan, “Wilujeng sumping, Martha … wilujeng sumping … “
Sundea








0 comments:
Post a Comment