Di tengah-tengah madrasah filsafat, hadir Mas Donny Anggoro. Penulis novel Chimera ini datang untuk memperkenalkan sains fiksinya itu. Karena madrasah filsafat dijadwalkan bertema “waktu”, Mas Donny diminta berbicara dengan pijakan tema tersebut.
“Buat Mas, waktu itu apa ?” tanya Mas Ami. “Kita kayak dikutuk sama waktu, harus menjalani waktu. Kita kadang terkungkung oleh waktu dengan mengulang kesalahan yang sama dengan kesalahan di masa lalu. Saya menulis novel ini berdasarkan harapan-harapan yang tidak tercapai hari ini. Saya membayangkan ada sesuatu baru yang diciptakan tetapi berbahaya. Masalahnya banyak kasus yang tidak terselesaikan karena kita sangat cepat melupakan,” jawab Mas Donny. Hnah, berdasarkan pernyataan itu, pemaparan Mas Donny tentang novelnya dibuka.
… secrets stolen from deep inside*
Di dalam Chimera dikisahkan, di tahun 2020, pembungkaman terhadap orang-orang kritis masih terus terjadi. Caranya lebih halus. Memori mereka dikacaukan dan sebuah kepribadian baru diciptakan dalam kesadaran. Chimera. Begitu disebutnya.
Menurut mitologi, Chimera sendiri adalah makhluk berkepala singa, berbadan kambing, dan berekor ular. “Di dalam bahasa Indonesia, ini disebut gagasan yang tak mungkin,” ujar Mas Donny. Dari sana, arah pembicaraan bermuncratan ke mana-mana.
… confusion is nothing new*
Menurut Mas Dauz, sains fiksi di Indonesia tidak terlalu berkembang. Masalahnya, banyak cerita sains-fiksi yang sesungguhnya tidak dibangun logika sains-nya. “Saya sepakat dengan Dauz, contohnya Supernova. Itu tidak (bisa) digolongkan sebagai sains fiksi karena banyak logika fisika yang tidak tepat,” timpal Mas Iman. Bumi tidak sependapat. Dia terbiasa beranggapan, cerita-cerita berlatar antah berantah dengan alien-alien, termasuk sains fiksi. “Tapi alien di cerita Mas Donny adalah diri kita sendiri, karena kita nggak tahu siapa kita,” tanggap Mas Ami. Dari sana, pembicaraan sempat berbelok ke arah eksistensi diri.
Berkenaan dengan cerita-cerita di Indonesia yang kadang kurang kuat risetnya, Mas Al-Fatri yang berlatar desain produk sekilas membahas ketekunan. “Di luar negeri, orang-orang sangat detail. Pas mau bikin film Titanic, piringnya sampai harus dibikin di pabrik yang sama dengan piring di Titanic yang dulu. Kalau di sini, saya mesen tutup aquarium aja nggak presisi.”
If you lost, you can look and you will find me … *
Setelah berkelana ke sana ke mari, akhirnya pembicaraan kembali tergiring kepada konteks. Mas Zaenal mencoba merangkumkan, “Waktu = unconscious definition. Waktu=keberlanjutan. Yang harus digarisbawahi adalah keberlanjutan. Wright Bersaudara berimajinasi tentang terbang. Awalnya (mereka) dianggap bodoh, tapi sekarang (terbang) jadi sesuatu yang ilmiah. Dengan mata rantai waktu, imajinasi akan jadi sesuatu yang ilmiah …”
Sementara itu, waktu bergerak terus. Sesungguhnya dia adalah chimera itu sendiri. Dialah gagasan yang tak mungkin ditangkap. Karena waktu terus bergerak sesudah waktu. Karena waktu terus bergerak mengejar waktu;
Time after time …
Time after time …
Time after time … *
*) diambil dari teks lagu Time After Time Tuck and Patti.
Donny Anggoro







0 comments:
Post a Comment