-Tobucil, Kamis 29 Mei 2008-
Klab Klasik ?
“Lho? Kok ada Klab Klasik, sih ? Ini kan bukan Minggu,” pikir Tobuciler saat melihat Syarif dan Bil bermain gitar di beranda Tobucil. Sambil garuk-garuk kepala Tobuciler masuk ke dalam Tobucil. Sementara itu, Carawitta and Fugue yang gulana dan mendayu mengalun dari gitar Syarif dan Bil.
Saat Tobuciler keluar, Syarif, Bil, ketambahan Mas Rosgani dan Mas Trisna, sudah mengobrol serius. “Kenapa, ya, orang kalau ngerenung atau ngerefleksiin sesuatu jatohnya selalu ke dark side?” tanya Syarif dengan wajah lelah menanggung permasalahan hidup. “Ah, enggak juga,” sanggah Bil. “Iya. Kok lo bisa mikir gitu?” tanya Tobuciler. “Gue baru mikir, kayaknya enak, ya jadi Reni. Sementara murid gua (Syarif mengajar gitar klasik-red) cerita, dia seneng di Kidzania karena bisa jadi orang gede. Waktu kecil kita pengen jadi orang gede, pas udah gede pengen jadi anak-anak. Anak-anak kayaknya memandang segala sesuatu dari sisi terangnya terus,” curhat Syarif . Dari sana, “Klab Klasik salah hari” itu menjelma menjadi Klab Filsafat yang … salah hari juga. Syarif, Bil, Mas Rosgani, dan Mas Trisna berdiskusi serius tentang anak-anak, hidup, dan intuisi.
“Kalau misalnya saya tanya, apa yang ada di pikiran kalian tentang ‘jalan’, kalian jawab apa,” Mas Rosgani tahu-tahu mengajukan pertanyaan.
“Jalan berbatu, jalan beraspal …,” kata Bil.
“Jalan Dago …,” kata Syarif.
“Itulah bedanya. Ketika saya tanya sama anak-anak, mereka bilangnya ‘jalan itu kabel’, ‘jalan itu pohon’,” ujar Mas Rosgani. Selanjutnya, terjadi pembicaraan mengenai cara berpikir yang intuitif. “Nietzche juga percaya pada intuisi. Dia bilang sains yang serba pasti itu pun diturunkan dari penelitian yang penelitinya menggunakan intuisi,” ungkap Syarif. “Sains sendiri nggak lepas dari intuisi. Euclides pernah bicara tentang aksioma; dalil yang tidak bisa dibantah, tapi tidak bisa dibuktikan secara matematis. Misalnya, dua titik yang dihubungkan pasti adalah sebuah garis, “papar Bil yang mahasiswa ITB itu.
Diskusi berat itu terputus ketika Mas Trisna yang sejak awal hanya mesem-mesem sambil main gitar, tahu-tahu angkat bicara, “Pulang dulu …,” pamitnya sambil masih mesem-mesem. Kemudian dia dan Mas Rosgani pun meninggalkan arena.
“Mungkin gua lagi stress karena skripsi, ya, makanya gua jadi mellow,” ujar Syarif sambil tersenyum satir. “Ooo … jadi kalian gigitaran hari ini karena lagi stress?” tanya Tobuciler pada Syarif dan Bil. “Kaga, gua, sih pengen maen-maen aja abis ujian sekalian nemenin Syarif yang lagi stress,” sangkal Bil.
Carawitta and Fugue karya Fauzie Wiriadisastra mengalun lagi.
Syarif dan Bil memetik gitar dengan raut serius.
Siang itu mendung.
Suasana malam Jumat jadi terasa benar;
entah memeluk, entah mencengkram.






0 comments:
Post a Comment