Sunday, January 18, 2009

Bangku Kosong


Pernah dengar legenda Nancy dari SMA 5? Cerita mistis dari sekolah di jalan Belitung itu melahirkan desas-desus tentang daun jendela yang tak pernah bisa ditutup, serta bangku kosong dalam sebuah kelas yang sengaja disisakan sebagai tempat duduknya. Tak jauh dari sekolah tersebut, masih di kawasan yang sama, ada cerita tentang bangku kosong yang lain. Yang ini eks penduduknya adalah Tarlen, atau Tobuciler biasa memanggilnya Mba Tarlen. Bangku yang terletak diantara meja kasir Tobucil dan ruang AJI tersebut, punya cerita yang bisa menjadi legenda. Dari jam sembilan pagi hingga delapan malam setiap harinya, Mba Tarlen selalu duduk disana. Ia bercengkrama dengan laptopnya, atau apapun pernak-pernak penghias Tobucil. Sesekali ia memutar bangkunya ke arah meja kasir, atau ke belakang, ke gudang benang, untuk berinteraksi dengan awak Tobucil. Kejadian rutin tersebut memang tak tergolong istimewa.


Namun segalanya menjadi berbeda, tatkala Mba Tarlen pergi ke Kalimantan sejak tanggal 15 kemarin. Mba Tarlen memang hanya akan pergi satu bulan, tapi bangku itu tiba-tiba saja punya cerita. Ceritanya, tak ada yang beda, masih tentang sang empunya yang rajin menongkrongi laptop dan memutar bangkunya. Tapi kekosongan, selalu merupakan ruang yang besar untuk sebuah kesan. Jika Mba Tarlen hadir dan duduk disana, kesan menjadi terbatas. Terbatas pada eksistensi, yakni sosok Mba Tarlen itu sendiri.


Mba Tarlen pergi untuk satu bulan lamanya. Menyisakan kekosongan pada bangku. Pun menyisakan kesan yang besar tentang kekosongan bangku. Kadang Tobuciler terkesiap jika memandangi bangku kosong itu. Merasa Mba Tarlen benar-benar berada disana. Tapi saat sadar bangku itu kosong. Imajinasi Tobuciler bebas pergi. Membayangkan kucing duduk disana. Kucing duduk di pangkuan Mba Tarlen. Bangku bicara sendiri. Bangku memutar liar. Bebas, benar-benar bebas. Barangkali cerita-cerita legenda lahir dari sana, dari kebebasan imaji tentang sebuah kekosongan. Begitulah.


Dikembangkan dari ide cerita Rudi Rajut

Syarif Maulana



Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin