-Tobucil, Senin 12 Januari-
BRRSSSS …. “Huahahaha …” …. BRRRS …. “Huahahaha …”
Seperti itulah kira-kira suara yang terdengar sampai ke ruang belakang kemungilan Tobucil. Hujan turun deras, namun tanpa petir. “Mungkin karena Dewa Zeus-nya berkunjung ke sini, ya,” duga Tobuciler ketika suara “HUAHAHAHA” dari beranda membahana lagi dan lagi.
Tobuciler mengintip. Ternyata, Teman-teman, bukan Dewa Zeus yang datang. Sore itu, dua wartawan dan dua seniman tampak duduk di sekitar meja kotak Tobucil. Mereka adalah Mas Frino (berita seni.com), Mas Salahudin (mantan sekretaris jendral AJI Bandung), Kang Iman Soleh (CCL), dan Kang Mukti (penyanyi balada). Karena mereka tampak seru, dengan sok akrab Tobuciler ikut bergabung.
“Halo, saya wartawan gosip,” Tobuciler memperkenalkan diri. Seketika keempat lelaki itu diam. Suara “Huahahaha” seperti tertelan. “Ayo, dong, ketawa-ketawa lagi …,” request Tobuciler. Mereka tetap diam, Mas Salahudin malah mencabutkan diri. “Yah … aku ngeganggu, ya …?” Tobuciler jadi merasa bersalah. “Oh, enggak … enggak …,” sahut mereka pada akhirnya.

“Judulnya ‘Menertawakan Iman Soleh’, saya menertawakan Iman Soleh,” kata Kang Mukti.
“Emang apa yang diketawain ?” tanya Tobuciler.
“Wah, banyak …. Huahahahaha ….”
Tobuciler garuk-garuk kepala.
Selanjutnya, Kang Iman malah menceritakan sesuatu yang tidak lucu namun menarik. “Saya tinggal di daerah Ledeng,” ungkapnya. Daerah itu pekat dengan suasana kesenian. “Kalo kamu cari di internet, pasti ada CCL, Celah-celah Langit ato Center Culture Ledeng. Di RT saya ada 13 grup kesenian. Ada calung, longser, pencak silat … ketua RT kita juga pencipta lagu. Orangnya low profile, padahal dia banyak nyiptain lagu-lagunya Doel Sumbang,” papar Kang Iman bersemangat. Tobuciler mencatatnya, berjanji dalam hati untuk meng-googling-nya nanti.
“Mau lihat fotonya ? Sini, Eceu (semacam “Mbak”, panggilan di daerah Jawa Barat)…,” ajak Kang Iman seraya mengeluarkan handphone-nya. Tobuciler pun melihat-lihat foto yang ditunjukkan Kang Iman. Ada anak-anak yang sedang menari, ada pentas kesenian manca negara, “Mereka maunya pentas di tempat kita,” Kang Iman menjelaskan. Suasana kesenian di seputar Kang Iman menciptakan kerayaan dan kemerdekaan. Mungkin itu sebabnya “huahahaha” tawanya terbawa ke mana-mana. Setelah melihat-lihat foto, Tobuciler pamit. Kembali ke ruang belakang Tobucil.
BRRSSSS …. “Huahahaha …” …. BRRRS …. “Huahahaha …”
Suara membahana itu kembali terdengar. Kini Tobuciler bisa merasakannya lebih utuh.
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment