"Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati). Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi. Hidup abadi itu adalah kehidupan setelah kematian jasad di dunia"Syekh Siti Jenar
Kematian adalah awal dari kehidupan. Kalimat tersebut sejenak menghentikan putaran waktu yang sedang kujalani. Kuterdiam sejenak. Merenung tentang makna kematian adalah kelahiran baru. Entah senang atau bingung mengetahui bahwasannya kematian adalah kelahiran kedua. Bila seorang Socrates saja merasa bergembira dengan kematian, “…ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian…”
Teringat pelajaran Biologi sewaktu masih pakai celana monyet, dimana dalam suatu hari semua murid disuruh membawa sepotong daging, kemudian daging tersebut dimasukan kedalam sebuah gelas dan ditutup dengan rapat. Setelah seminggu kemudian bertemu lagi dengan pelajaran Biologi, kita semua meneliti apa yang terjadi dengan daging tersebut. Benar saja, lahirlah larva dari daging tersebut dan terdapatlah kehidupan baru dari seonggok daging hewan yang telah mati. Atau ketika dari pohon yang telah ditebang dan mati keluar tumbuhan perdu dari tunggul yang masih tersisa. Apakah pemikiran tentang makna kematian adalah kelahiran baru bisa disederhanakan seperti itu ?
Menelaah lebih dalam lagi sesuai dengan kepercayaan yang aku anut, kucoba mengebet Al-quran dan hadis yang menerangkan tentang konsep kehidupan setelah kematian. Dalam Al-quran disebutkan bahwa ciri dari orang yang bertaqwa salah satunya percaya akan adanya hari kebangkitan setelah mati. Allah berfirman “Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS Al-Baqarah, 2: 4). Kemudian dalam
"Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
......."
Tiba-tiba saja terdengar suara adzan mengalun merdu di telingaku memasuki sela-sela gendang telingaku di tengah perenunganku tentang kehidupan setelah kematian bersamaan dengan alunan lagu Souljah - hanya ingin pulang yang menemani renunganku.
Tak lama berselang, juga dari balik kamarku, terdengar suara dari si mamah, "Didiiiiiii kecilin suara musiknya ada adzan dulu"
"Iyaaa..iyaaaa..." sahutku menjawab seruan si mamah. Padahal dalam hatiku apa hubungannya orang adzan sama musik yang kudengarkan, toh yang adzan jauh beberapa blok dari rumahku (heuheuheu).
Setelah melaksanakan titah dari si mamah, kulangkahkan kaki keluar dari kamar dan bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajiban-kewajiban di dunia buat bekal di kehidupan yang sempurna.
Pada akhirnya aku hanya bisa berbuat yang terbaik untuk bekal di kehidupan yang kekal dan abadi dengan harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian. Kematian adalah awal dari kehidupan. Kalimat itu semakin menyadarkanku akan makna bahwa mati itu sebenarnya untuk hidup dan bahwasannya hidup kita ini untuk yang maha hidup.
Didi Supardi, lahir di Majalengka, 22 April 1982. Selain suka menggambar, nonton film dan travelling, lulusan Desain Komunikasi Visual Unpas 2006 ini kini mulai menyukai menulis. Bekerja sebagai Graphic Designer, tidak menghalangi hobi barunya menulis di sela-sela waktu luangnya. Penikmat musik Reggae ini mempunyai cara tersendiri dalam menikmati hidup dengan cara santai namun pasti dan mengalir apa adanya sesuai dengan aliran bermusiknya. Untuk mengenal lebih jauh bisa mengunjungi rumahnya di :http://didisupardi.blogspot.com
http://didisupardesign.multiply.com
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment