Sunday, January 4, 2009

Kembang Api Tahun Baru (bagian 2)

Bagian dua

Klik di sini untuk melihat bagian Satu

Saya menghambur ke guling dan memeluknya erat. Saya ingin menangis, berteriak, sekaligus tertawa lepas dan melompat-lompat. Saya sadar, orang bisa mencap saya gila kalau saya melakukan itu di depan mereka. Maka saya memilih tetap tinggal di kamar, menangis sampai air mata habis, tersenyum sampai wajah pegal, memeluk erat si guling sampai badannya kempes. Saya pun melempar pandang ke luar jendela. Mata saya tertuju pada langit yang mendung. Mungkin akan turun hujan. Saya memang senang melihat hujan. Tapi saya pun merindukan langit yang cerah. Tapi di musim hujan ini, matahari saja jarang tampak di siang hari. Bahkan setiap malam, saya tidak pernah melihat bulan. Langit selalu gelap. Tapi di perbatasan tiga puluh satu dan satu nanti, langit itu akan terang, meski hanya sesaat. Bukan oleh bulan, melainkan kembang api.

Terbuat dari apakah kembang api?

Saya sudah mencari jawabannya di Wikipedia. Setelah memasukkan kata ‘firework’ dan menekan tombol ‘enter’… bermunculan kalimat-kalimat yang menjelaskan kembang api. Tapi saya begitu sungkan membacanya. Saya hanya tertarik melihat gambar-gambarnya. Dan saya baru menyadari, bentuk kembang api ternyata bermacam-macam. Semuanya indah.

Lantas saya bayangkan ketika kembang api tersebut meluncur dari atas tanah lalu meledak di langit malam yang gelap. Mendadak langit terang, walau cuma dalam hitungan detik. Tapi ada sesuatu di dalamnya, yang membuat saya berpikir… saya bisa membuat kembang api sendiri!

Saya tahu caranya. Tak perlu menggunakan bahan-bahan kimia karena itu terlalu riskan. Bahan-bahan yang saya gunakan sangat sederhana dan aman, dan sebetulnya, sudah saya kumpulkan selama satu tahun terakhir ini. Hanya saya tidak menyadarinya.

Mata saya masih terpaku pada langit yang mendung, tapi hati dan pikiran saya tidak berada di sana. Keduanya kembali membuka halaman demi halaman almanak, mencermati angka demi angka yang tertera, sampai hari ini.

Di tengah keramaian suara yang sedang menghitung mundur, saya menyalakan sulut, lalu melesatlah ia ke langit yang kosong sebab bulan dan bintang tengah terlelap dalam tidur musim dingin. Sekejap kemudian… tar! Warna-warni menyala dalam kegelapan, menyebar ke segala penjuru, lalu lenyap. Cuma sesaat, tapi saya sangat menikmatinya. Saya enggan melepas pandang dari langit.

Teeeet! Teeeet! Teeeet!

Suara terompet memekakkan telinga. Seperti jam weker yang membangunkan saya dari mimpi.

-rie yanti-

Desember 2008

(Ingin tahu lebih banyak tentang kembang api sekaligus melihat gambar-gambarnya? Bisa dilihat di sini )




Rie Yanti, tinggal di Cicalengka, sebuah kota kecil di Kabupaten Bandung. Kalau ditanya, ‘Cicalengka? Di mana tuh?’, dengan senang hati Rie menjawab, ‘Itu tuh, antara Rancaekek dan Nagreg. Tau Nagreg kan? Itu tuh, yang kalau lebaran suka nongol di teve-teve, tempat favorit para wartawan buat me-report arus mudik dan arus balik. Suka nonton teve nggak?’ Kalau si penanya menggeleng, Rie akan bilang, ‘Ya sudah, anggap saja saya tinggal di Bandung.’

Tulisannya sering dimuat juga di situs www.warungfiksi.net. Kumpulan cerpen terbarunya, "Bus Kuning", dapat dilihat di sini


Kirimkan tulisanmu tentang apaaaa ... saja ke tobucil@gmail.com. Sertai juga biodata singkat dan foto dirimu. Kami tunggu, yaaa ...

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin