-Tobucil, Senin 12 Januari 2009-
Klab Nulis
Papan tulis yang tampak berdarah-darah ini, adalah korban wabah sampar yang disebar Ophan, tutor Klab Nulis. Setelah menebar jangkar di sebuah pantai, ia membuat peserta Klab Nulis panas dingin oleh proyek “sampar” akhir. Hah ? Maksudnya … ?
Jadi begini. Senin lalu, teman-teman Klab Nulis memasuki masa-masa proyek akhirnya. Karena ada beberapa teman yang curi start, Ophan membuat start baru yang tak bisa dicuri. Tiba-tiba saja ia menggambar pantai di papan tulis dan meminta setiap peserta bercerita tentang pantai di gambar tersebut.
Sebelumnya, Ophan juga meminta tiap peserta mengarang tokoh fiksi dan menjabarkannya. Tokoh-tokoh itu kemudian ditukar-tukar. Tokoh yang didapat dari peserta lain dan tokoh yang diciptakan oleh si peserta itu sendiri, kemudian harus bertemu dalam satu paragraf bersetting pantai, terserah bagaimana caranya. Pada akhirnya paragraf itu menjadi paragraf pertama tugas akhir para peserta.
“Aduh, ini ngerusak cerita saya …,” keluh Asma, yang tampaknya sudah membuat cerita duluan sebelum hari mengerjakan tugas akhir dimulai. “Ophan sering mengganggu dengan hal yang menurut dia membantu,” sungut Syarif yang mengaku sudah mencuri start juga. Tapi ada juga, sih, yang cerdik seperti Mbak Feti. Dia sengaja menciptakan tokoh dan menulis setting pantai yang bisa berkembang luas ke mana saja.
Ophan menebar jangkar, menyebar sampar.
Cerita yang sudah direncanakan mendadak hambar. Teman-teman terpaksa berhenti berlayar …
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment