Sunday, January 11, 2009

Obrolan Klenik Bersama Roy Voragen

“Selamat tahun baru …,” sapa Roy Voragen, budayawan Belanda dan dosen filsafat Universitas Parahyangan, yang sering mengunjungi kemungilan Tobucil. “Eh, Roy, kamu bakal lama di sini, nggak ?” tanya Tobuciler. “Oh, saya tinggal di Jalan Kanayakan,” jawabnya kurang sinkron. “Ng … maksudnya, bakal lama di Tobucil, nggak ? Kalo iya, mau saya wawancara buat ‘Teman Tobucil’, tapi harus pakai bahasa Indonesia, ya …,” Tobuciler memperjelas. Roy yang sedang belajar Bahasa Indonesia sempat ragu, namun akhirnya menyanggupi.

Berikut adalah wawancara Roy dengan Tobucil dalam bahasa (yang akhirnya) campur aduk …

Tobucil : Roy, kamu percaya hantu, nggak ?

Roy : Hantu ?

Mbak Tarlen : Do you believe in ghost ?

Roy : Oh. No. I don’t believe that (saya tidak percaya). Tapi katanya ada hatu perempuan di Jalan Nias (kampus Filsafat Universitas Parahyangan), namanya Mei, dia orang Cina. Katanya dia marah karena they cut-off (mereka menebang) pohon tempat dia tinggal.

Tobucil : Jadi kamu percaya Si Mei ada ?

Roy : No. Kalau kita terus membicarakannya, then we become to sense it (kita jadi merasakannya). Saya tidak percaya. Oh, iya, istri saya namanya Mei juga, dia orang Cina juga.

Tobucil : Hahaha … yang bener ? Menurut kamu, kira-kira ada hubungannya, nggak, istri kamu sama hantu Unpar itu ?

Roy : Mungkin ya, mungkin karena saya waktu itu sendirian di Jalan Nias dan saya kesepian … eh, jangan bilang istri saya.

Tobucil : Tapi kalo ini ditulis dan istri kamu baca blog Tobucil gimana ?

Roy : Yaaa … ok, just write it down (tulis saja).

Tobucil : Di Belanda ada hantu-hantu khas Belanda, nggak, Roy ? Kayak misalnya di Indonesia ada pocong, di Cina ada vampir …

Roy : Tidak ada.

Tobucil : Jadi rata-rata orang Belanda nggak percaya hantu ?

Roy : Yaaa … ada cerita tentang orang cuci (ternyata maksud Roy orang suci), dia Katolik, he made miracles (dia membuat mukjizat), but … don’t talk about this (jangan bicarakan ini) …

Tobucil : Kenapa ?

Roy : (tidak menjawab, namun menunjukkan gestur-gestur gelisah seperti membuang nafas, menunduk, tengok kanan dan kiri …)

Tobucil : Roy, kamu tau, nggak kenapa di Belanda nggak ada hantu ?

Roy : Kenapa ?

Tobucil : Soalnya hantu Belanda pada hijrah ke Indonesia semua. Kan di Indonesia banyak hantu Belanda. Di rumah saya aja katanya ada …

Roy : Yaaaa … just if you believe in ghost (hanya jika kamu percaya hantu) dan percaya orang yang sudah meninggal menjadi hantu. Dutch people lived so long in Indonesia (orang Belanda hidup sangat lama di Indonesia), so … (lalu Roy kembali menunjukkan gestur-gestur aneh).

Tobucil : Kamu udah berapa lama di Indonesia ?

Roy : Sudah lima tahun.

Tobucil : Bahasa Indonesianya sudah sejauh apa ?

Roy : Susah, ya … sebab orang Indonesia berbicara sangat cepat dan campur-campur; Bahasa Indonesia, Bahasa Kampung, Bahasa Sunda, bahkan Bahasa Inggris. Kalau orang berbicara dengan bahasa formal, saya mengerti. Tapi memperbaiki Bahasa Indonesia menjadi resolusi saya tahun ini.

Tobucil : Wueits… ok, dehhh …

Mbak Tarlen : Ada satu lagi yang harus kamu tanyain. Kenapa Roy mulai merokok lagi ?

Roy : Oh. Because I always try to be part of Indonesia (karena saya selalu berusaha menjadi bagian dari Indonesia). Di kelas saya memakai “we” (kami) bukan “they” (mereka). And … I’m smoking because I enjoy smoking too … (dan saya merokok karena saya menikmati merokok juga).

Tobucil : Roy,

Roy : Ya ?

Tobucil : Kalau kamu mau jadi bagian dari Indonesia, kamu harus mencoba percaya hantu. Soalnya rata-rata orang Indonesia percaya hantu, lho …

Roy : Oh, well (lalu gestur-gestur aneh itu lagi) …

Obrolan masih terus berlanjut. Tentang masyarakat Indonesia, tentang hantu “Mei” yang dibawa pulang oleh dukun, tentang pendidikan di Indonesia, dan lain sebagainya. Menjelang sore, Roy pamit.

“Saya bisa Bahasa Indonesia sejauh Bahasa Angkot,” katanya sebelum meninggalkan Tobucil untuk mencegat angkot.

Hmmm … sesungguhnya angkot adalah kotak kecil yang memuat bermacam bahasa dan budaya di Indonesia. Selamat, Roy, meski belum percaya hantu, dengan menguasai bahasa angkot, kamu sudah menjadi bagian dari Indonesia … ;p


Sundea




Google Twitter FaceBook

3 komentar:

Smaragdina said...

Hah si Roy udah Indonesia banget ya Tobucil. udah dikit2 merasakan kehadiran hantu, udah suka merokok, dan ngomongnya pake bahasa nasi rames yang campur-campur ehehhee.

tobucil said...

Hehehe ... dan udah terbiasa sama angkot, lho, Han ...

obrolan said...

Really great and interesting post, and nice work!! You do an excellent job! Thanks for posting.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin