Sunday, January 4, 2009

Para Janus di Pagi Hari


-Tobucil, Minggu 03 04 Januari 2008-


“Tahun ini adalah tahun perluasan jaringan”


Bukan seorang pimpinan partai beraliran kiri yang mengatakan demikian, melainkan Mba Tarlen, si pemilik Tobucil. Di awal tahun 2009 ini, beberapa pengurus dan instruktur klab di Tobucil mengadakan pertemuan. Tobuciler datang sesuai dengan undangan SMS yang disebar Mas Wiku. Waktu kumpulnya agak tak biasa: jam sepuluh pagi. Meski demikian, awak Tobucil, yang isinya para instruktur dan pengurus klab, datang tepat waktu di hari Minggu itu.


Setelah pembukaan rapat oleh Mas Wiku, Mbak Tarlen lalu mengajak masing-masing instruktur klab untuk evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan tahun 2008. Tobuciler mendapat giliran duluan. Klab klasik, menurut Tobuciler, tetap dianggap belum sukses dalam pembangunan komunitas. Hal tersebut salah satunya disebabkan terlalu banyaknya penyelenggaraan konser di luar. Walhasil, awak klab klasik banyak yang kelelahan dan mengabaikan kumpul-kumpul rutinnya. Lain lagi dengan Mbak Nia, koordinator klab melipat kertas. Masalahnya terletak pada ketiadaan anggota yang mau belajar rutin. Klab melipat kertas banyak menarik minat lewat workshop-workshop yang sifatnya insidental. Namun, yang patut disyukuri, lanjut Mbak Nia, adalah tawaran display karya yang cukup banyak. Karena Ophan (klab nulis) dan Ami (madrasah falsafah) urung hadir, evaluasi terakhir datang dari Mba Upi, koordinator klab rajut. Menurutnya, tahun 2008 adalah tahun yang penuh percobaan. Ini adalah konsekuensi dari pembentukan kurikulum untuk pertama kalinya.


Bak Janus, si dewa bermuka dua dari Romawi, semuanya membawa dua cara pandang yang lazim dibawa di awal pergantian tahun, yakni: masa lalu dan masa depan. Sekarang tibalah para Janus menunjukkan sisi depan wajahnya, yang dipenuhi harapan. Harapan Mbak Tarlen, sebagai owner, adalah kalimat pembuka di atas itu. Ya, memperluas jaringan. Caranya? Tentunya lewat sinergi dengan kegiatan-kegiatan klab. KlabKlassik, misalnya, harapan ke depannya adalah mengeksiskan kumpul-kumpul sebulan dua kali, dengan dua bulan sekali berupa musik sore. Musik sore ini adalah salah satu inovasi baru yang dicetuskan Mbak Tarlen untuk menghadirkan performansi akustik di Tobucil. Hmmm, terbayang betapa hangat Tobucil nantinya. Harapan tak kalah manis datang dari Mulyana alias Moel. Sang seniman Tobucil itu, akhirnya bersedia diapresiasi terang-terangan. Rencananya sekitar bulan Mei atau Juni, Mul akan menyelenggarakan pameran tunggal. Harapan Mba Upi lain lagi, ia ingin kurikulum yang dipenuhi trial and error di tahun kemarin, bisa mantap di tahun kerbau ini.


Awak Tobucil memang tak hadir semua. Tapi harapan demi harapan menyesaki setiap sudut ruangannya. Seolah tak peduli jika di akhir tahun ini nantinya terjadi lagi evaluasi dengan judul ”tak sesuai harapan”. Jika masa depan itu tak pernah memberi kepastian, maka kemampuan untuk berharap, barangkali adalah keberhasilan tersendiri. Pagi itu para Janus tak lagi melihat lewat sisi belakang wajahnya.


Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin