Sebelumnya saya minta maaf karena tidak menggunakan istilah bahasa Indonesia untuk judul ini. Alasannya, karena saya tidak menemukan istilah yang lebih tepat daripada kata “pup”. Simpel, manis, dan “ear-catching”. Begitulah kesan saya dapat dari istilah tersebut. Kata “ee” meski simpel namun tidak manis didengar. ”berak” terkesan kasar. ”beol” apalagi. ”buang hajat” nampak sangat mistis. Sementara ”buang air besar” jelas tidak simpel sama sekali. Maka dari itu izinkanlah saya untuk menggunakan kata ”pup”
Berbicara tentang pup, banyak sekali kebiasaan yang terjadi saat orang melakukannya. Misalnya, ada yang pup-nya berdiam diri seperti semedi, ada juga yang sambil bernyanyi, atau ada juga yang harus merokok saat pup seperti kawan saya. Pendapat orang mengenai pup juga macam-macam. Umumnya pup itu dianggap bau. Tapi ada juga yang bilang baunya menyenangkan dan memberi gairah hidup. Bahkan ada kawan saya yang melihat pup dari segi medis. Dia bilang, kalau kepala sedang pusing segeralah pup, maka akan sembuh. Namun teori ini masih belum konsisten. Saya pernah mencobanya, suatu waktu berhasil, tapi di waktu lainnya tidak berhasil. Untuk membuktikan konsistensinya, mungkin patut dicoba. Saya sendiri tidak ingin membedah teori pup dari sisi pandang tersebut di sini.
Sebelum saya memaparkan teori yang saya maksud, terdapat isu penting mengenai durasi pup. Durasi pup ini mempunyai penganut yang berbeda pula. Saya membagi aliran pup ini menjadi dua, yaitu penganut pup cepat dan penganut pup lama.
Penganut pup cepat adalah orang-orang yang menjadikan waktu pup sekedar waktu untuk membuang sisa-sisa makanan dalam perut. Pup hanyalah bagian dari mekanisme untuk hidup, masuk - keluar. Durasi pup tidak dihitung sebagai waktu yang bermakna. Karena itu, penganut aliran ini, tidak senang membuang waktunya untuk pup. Ia lebih senang menyegerakan pup-nya karena baginya pup hanyalah waktu untuk membuang. ”Plung!” selesai deh..
Kebalikan dari penganut pup cepat, orang-orang yang menganut pup lama percaya bahwa waktu pup adalah waktu yang mempunyai nilai spiritual tertentu. Baginya, waktu pup memberi jeda dalam kehidupan. Pup seperti juga waktu ibadah memberi ruang untuk merenung. Penganut ini sering mendapatkan ide-ide segar dalam keadaan pup. Kenikmatan inilah yang membuat penganut ini menjadi lama ketika pup.
Saya sendiri adalah penganut pup lama. Saya menganggap pup sebagai waktu yang sakral, sehingga seringkali sayang terganggu bila diburu-buru saat pup. Saya paling tidak suka kalau ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi saat saya pup. Saya menikmati waktu pup karena seringkali saya mendapatkan ide ketika pup. Misalnya saja, tulisan ini, idenya berawal ketika saya pup. Saya pernah memberi hadiah teman yang idenya keluar saat saya pup. Satu nama blog saya tercetus saat saya pup. Beberapa cerpen dan puisi saya juga menjadi matang karena pup. Saya juga sempat membuat lagu anak-anak di saat pup.
Pendapat saya ini juga diamini oleh kawan saya. Dia juga merasa saat pup, meski bau, namun memberi hasrat untuk beride. Maka dari itu tidak jarang dia membawa coret-coretan kerjanya saat pup. Karena itu pula, dia tidak bisa pup di sembarang tempat. Karena pupnya lama, dia merasa memerlukan tempat yang nyaman sehingga ia dapat pup dengan tenang.
Sebagai penganut pup lama, penting buat saya untuk mempunyai teori sendiri yang menyebabkan waktu pup menjadi hal yang cukup penting diperhatikan dalam hidup. Teori ini, seperti teori teman saya mengenai pup dari sisi pandang medis, mungkin belum matang. Namun untuk saya sudah cukup menjawab pertanyaan ”Mengapa saat-saat pup bisa menghasilkan ide?”
Untuk memahami teori ini, saya membutuhkan tiga unsur: yaitu makanan sebagai bibit bahagia, kenyang sebagai kebahagiaan, dan pup sebagai sisa kebahagiaan. Awalnya makanan dikunyah lalu masuk perut sehingga menghasilkan rasa kenyang. Kemudian makanan lain masuk lagi dan akan membuat makanan sebelumnya harus dikeluarkan. Simpel sekali memahaminya bukan? Bahwa kebahagiaan seperti makanan juga harus tidak bisa berlebihan. Berlebihan atau terlalu bahagia justru akan menghasilkan ketidakbahagiaan seperti kekenyangan atau muntah. Untuk tidak berlebihan maka ia harus menghasilkan sisa yaitu pup. Karena itu pup menjadi penting. Lalu apa hubungannya pup dengan ide?
Begini, dulu saya sempat mendapat sebuah pesan dari teman yang bunyinya ”kita terlalu bahagia karenanya kita tidak menulis”. Saya lupa dia mengutip darimana. Saya pikir-pikir ada benarnya juga. Banyak penulis besar yang hidupnya memang tidak bahagia namun justru ia menelurkan karya yang bagus. Pramoedya Ananta Toer terus-terusan menghadapi teror tapi terus-terusan menghasilkan karya. H.C. Andersen sepanjang hidupnya merasa menjadi si itik yang buruk rupa. Paulo Frarire jelas menulis karena tidak bahagia dengan sistem pendidikan yang ada.
Nah, menulis di sini saya samakan artinya sebagai ide. Sehingga kalau diubah, pesan yang teman saya kutip itu menjadi demikian, ”kita terlalu bahagia, karena itu kita tidak beride”.
Sampai sini, saya rasa cukup jelas. Kita bisa menghasilkan ide saat pup karena saat pup kita sedang membuang sisa kebahagiaan. Sisa kebahagiaan yang tidak dibuang akan membuat kita menjadi terlalu bahagia. Dengan demikian, pup berusaha membuat kita untuk tidak menjadi terlalu bahagia. Karenanya saat pup, ide bisa keluar, sebab kita dalam kondisi segar setelah membuang sisa kebahagiaan demi untuk tidak menjadi terlalu bahagia. Ide mungkin bisa keluar di waktu lain, namun kondisi saat pup adalah kondisi membuang sisa kebahagiaan yang paling nyata karena bersifat materil. Begitulah kira-kira teori pup dari penganut pup lama.
Mungkin ada yang berpikir bahwa dia bisa beride justru ketika dalam kondisi bahagia. Saya pikir bisa jadi juga. Namun perlu ditekankan di sini bahwa yang sedang diperdebatkan bukan kondisi ”bahagia” melainkan ”terlalu bahagia” atau kebahagiaan yang berlebihan.
Saya rasa pembahasan mengenai teori pup ini sudah cukup. Dan karena ini hanyalah teori. Masih mungkin semua orang mendebatnya dan menghasilkan teori-teori baru yang lebih seru. Saya sendiri masih belum mendapat jawaban teori pup versi penganut pup cepat. Mungkin karena saya memang penganut pup lama sejati, jadi sulit bagi saya untuk tidak berlama-lama saat pup. Sebagai penggambaran saja, 50% waktu mandi saya adalah waktu pup, 30 % mandi, 10% gosok gigi, 5 % handukan, dan 5% sisanya adalah waktu orang menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Kasihan deh lu!"
-em-
Putra Betawi yang gak suka daging ini, lahir pada tanggal 6 Agustus 1982. Hobi bernyanyinya suka bikin orang di sekitarnya gerah dan kangen. Punya kebiasaan iseng berjalan kaki di malam hari bersama sohib sambil mencari tempat asik wat ngopi atau ngeteh sambil diskusi. Bekerja sebagai pustakawan di sekolah Cikal serta aktif sebagai relawan Forum Indonesia Membaca. Di sela-sela penulisan novel anaknya yang tidak kunjung rampung, Em menulis tentang hidupnya dalam beberapa blog. PenggemarAstrid Lindgern ini bisa dijumpai di multiply, friendster, facebook dengan alamat imel mudination@yahoo.com.
kirimkan tulisanmu tentang apa saja ke tobucil@yahoo.com dengan subject "papan tulis". Sertai foto dan biodata singkatmu. Ditunggu, yaaaa ....
Bookmark this post: |
1 komentar:
saya penganut pup lama! XD
Post a Comment