Sunday, February 8, 2009

Kisah Pembawa Lentera


“Iman itu tak punya dasar. Beriman itu seperti masuk ke dalam lubang gelap. Kita tak tahu apa yang ada disana. Entah kebahagiaan atau malah malapetaka.”

- Soren Kierkegaard


Jika iman itu identik dengan percaya, maka sebelum percaya, konon berdiri keraguan. Keraguan ini katanya yang menjadi dasar segara pemikiran filsafati. Jika kata Kierkegaard iman adalah lubang gelap, maka filsafat barangkali adalah lenteranya. Lentera itu akan mati pula jika sesuatu telah diimani. Tapi setidaknya, filsafat mampu menerangi perjalanan menuju lubang gelap itu. Jika setiap manusia punya sifat ragu-ragu, maka ia juga berhak berpikir filsafati. Barangkali inilah yang menjadi dasar bagi semboyan madrasah falsafah (madfal) yang terkenal itu: semua orang adalah filsuf. Atau sekaligus juga: semua orang adalah pembawa lentera.


Rabu itu hujan mengguyur Bandung cukup deras. Bagi aktivitas madfal, waktunya terasa kurang tepat. Karena turun di sore hari, tepat ketika mereka seharusnya berkumpul. Hujan memang mereda di malamnya, namun tak cukup untuk menghadirkan para pembawa lentera itu ke tengah-tengah suasana dingin di Tobucil. Walhasil, kehangatan yang dirindukan itu pun tak jadi datang. Kehangatan khas madfal. Kehangatan yang cuma bisa diperoleh dari pijaran lentera.


Biasanya, madfal siap berlangsung sejak pukul lima. Acara dibuka oleh seorang pemasalah yang ditunjuk dengan cara entah bagaimana. Pemasalah itulah yang kelak menawarkan masalah untuk didiskusikan dengan yang lain. Tobuciler mengamati, masalah-masalah yang diangkat tak pernah jauh dari keseharian. Judulnya singkat-singkat, seperti: bahagia, idola, memori, tetangga, alienasi, dan sebagainya. Namun masalah ini tak pernah dibahas dengan singkat pula, selalu ada perdebatan yang alot dan padat. Meski demikian, madfal tak pernah lupa dengan asyiknya filsafat. Lentera itu dimainkan di tengah suasana Tobucil. Pendaran cahayanya diputar-putar sehingga gelap-terang silih berganti. Ada yang saling melempar lentera satu sama lain. Yang tertangkap bersorak hore. Yang jatuh dan pecah tak perlu meratapi. Karena ada sesama pelentera yang siap berbagi.


Demikianlah jika madfal berkumpul. Tobucil sekonyong-konyong jadi hangat dan bercahaya. Namun barangkali lentera-lentera itu tak selamanya mampu berbinar. Ia sesekali mesti dimatikan. Selain untuk istirahat, tapi juga sebagai pengingat, bahwa kegelapan juga punya makna. Maka di akhir madfal, tepat setelah pemasalah atau apapun namanya menutup acara, lentera-lentara itu ditiup secara nyaris bersamaan. Mereka mungkin sadar, jika iman tak dihadirkan, selamanya mereka takkan pulang. Iman itu setidaknya berkata tentang: kami percaya, bahwa kami harus pulang. Maka bubarlah para pembawa lentera. Dengan lentera yang gelap dan kosong. Yang akan mereka nyalakan lagi jika mata sudah bosan dengan kepekatan. Begitulah.

Syarif Maulana


Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin