Sunday, February 1, 2009

Perjalanan Mandi Matahari


Bagian tiga

Klikdi sini untuk membaca bagian satu, dan di sini untuk membaca bagian dua

Mari berjalan-jalan menyusuri kota Bandung bersama Andika Budiman

jembatan sudah selesai diperbaiki! Artinya pilihan rute saya menuju ke kampus kembali menjadi dua. Setelah mendapati Reading Lights ternyata buka, dengan perasaan lega saya memutuskan untuk pulang. Rencana mandi sinar matahari saya gagal total, tetapi siapa sangka mandi hujan gerimis bisa sama menyenangkannya?




Rupanya ‘perjalanan’ saya belum selesai. Di depan pom bensin Suci, tanpa sengaja saya menabrak sedan putih. Lampu motor hancur dan pintu kiri depan dan belakang mobil yang tertabrak catnya tergores. Pengendara-pengendaranya pun menepi. Saya disalahkan pengendara mobil. Kemudian kami berunding soal ganti rugi, dan berakhir pada nominal 800 ribu. Saya sangat sedih. Apalagi kondisi keuangan tengah cekak, dan harus membebankannya kepada ibu. Mungkin bagi saya 800 ribu merupakan sepotong jaket Fred Perry; mentraktir teman makan di The Wind Chimes; 30 novel paperback; biaya kuliah 5 SKS; atau 160 DVD bajakan. 800 ribu yang bisa saya habiskan untuk membeli Friends, Chocolate, and Lover-nya Alexander McCall Smith, setengah lusin donat untuk teman lingkaran menulis saya, Ice Hazelchoco yang diminum sembari mencemil donat, oleh-oleh untuk kunjungan ke tempat kakak, bahkan membeli jaket kulit palsu di Babe. Namun bagi orang lain, 800 ribu adalah gaji bekerja selama satu bulan. 800 ribu digunakan untuk membeli beras, membayar uang kos, bayar listrik, air, biaya sekolah anak, sampai membeli bahan makanan. Saya menyesali bisa sampai kehilangan 800 ribu sebelum merasakan maknanya yang lain.


Masalah tabrakan selesai petang ini, dan saya berniat untuk terus mengingatnya agar selalu berhati-hati. Perasaan sedih belum hilang, meskipun saya sudah berulangkali mengucapkan maaf kepada ibu. Ketika bersedih, saya teringat perjalanan yang saya lalui sebelum menabrak mobil, dan bertanya-tanya, Saya baru saja mengalami sebuah kejadian yang buruk setelah melalui sebuah perjalanan yang menyenangkan, apakah perjalanan itu tetap eksis? Apakah pengalaman buruk setelahnya lantas membuat perjalanan itu jadi tidak ada? Tidak. Saya tahu bahwa perasaan hangat yang dirasakan di atas motor sambil mendengarkan musik dengan mata jelalatan kemana-mana adalah perasaan yang nyata, yang akan saya ingat-ingat terus setiap mendapat pengalaman yang buruk.


Satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk melindungi diri sendiri hanyalah ikhlas menerima keadaan. Things happen randomly, with reasons(?). Di rumah, saya menyalakan komputer dan mengumumkan berita bahwa saya menabrak mobil kepada siapapun yang sedang online. Ketika saya chatting dengan seorang teman baik dan mengeluhkan tentang bagaimana tabrakan ini terjadi karena saya bepergian dengan ‘nggak meaning(ful), si teman itu lantas bertanya, "Emang lu abis dari mana?"


"Keliling-keliling doang. Tadi siang cuacanya cerah banget. I just felt like soaking up the sun."


"Itu MEANING ANDIKA," sahut teman baik saya.

Tamat

Andika Budiman tinggal di Bandung sejak kelas 1 SD. Ia mulai menggunakan angkutan kota pada kelas 3 SD, dan mulai rutin menggunakan motor sejak menjadi mahasiswa tingkat 1. Andika senang berjalan kaki sore-sore di kawasan permukiman yang sudah agak tua. Sejauh ini jalanan favoritnya di Bandung antara lain Jalan Pagergunung, Jalan Hegarmanah, Jalan Cipunagara, Jalan Progo, dll.





Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin