Sebagai seorang bad driver (baca: tidak mahir menyetir), saya sering menggunakan kendaraan umum kalau bepergian dalam jarak jauh. Angkot, bis kota, kereta api, elf, atau ojek, semua rajin saya tumpangi. Yang terakhir saya coba adalah elf. Awalnya saya tidak pernah mau naik elf karena kalau melihat jalannya, jujur saya ngeri. Ngebut dan sang supir sepertinya tidak mengutamakan kepentingan penumpang. Tapi kemudian, saya sering juga naik elf ke beberapa tempat yang susah ditempuh menggunakan kendaraan umum lainnya.
Entah sudah berapa kali saya menumpang elf yang jalannya ngebut. Anehnya, saya masih bisa cuek dan percaya kepada sang supir bahwa ia akan mengantarkan saya dan penumpang lainnya ke tujuan dengan selamat. Tapi suatu hari, ketika saya mengantar ibu saya berobat ke kawasan Mohammad Toha dengan menumpang elf, barulah terasa betapa mengerikannya naik kendaraan itu. Sang supir membawa kendaraan itu dengan kecepatan tinggi!
Saya tidak tahu apa yang dirasakan penumpang lain. Mereka tampak tenang. Mungkin sudah terbiasa menumpang elf yang jalannya seperti itu. Atau mereka sedang menyembunyikan ketakutan mereka? Satu hal yang pasti, ibu saya ketakutan. Beliau memang tidak menunjukkan ekspresi wajah yang takut dan cemas. Kami tidak duduk dalam jok yang sama. Saya agak di depan dan ibu saya menempati jok kedua dari belakang. Tapi saya tahu, beliau sedang komat-kamit membaca doa supaya kami terhindar dari marabahaya. Sementara saya sibuk menulis di dalam kepala, mendeskripsikan keadaan yang saya alami. Elf itu berjalan begitu cepat tanpa memedulikan kendaraan lain yang ada di depan, belakang, dan samping kanan atau kirinya. Sang supir menginjak pedal gas begitu dalam, memutar stir dengan cekatan sambil sesekali membunyikan klakson hendak memberitahu kendaraan lain bahwa sang raja akan lewat dan memerintah semuanya untuk minggir mengalah. Kalau mereka tidak patuh, elf itu akan menggilas mereka tanpa memberi ampun terlebih dulu.
Saya jadi teringat salah satu sekuen dalam novel Pangeran Kecil ketika si pangeran dari antah berantah itu mendatangi seorang petugas penjaga pintu lintasan kereta api. Saat lewat kereta ekspres, pangeran kecil bertanya, apa yang dicari kereta tersebut sehingga mereka harus terburu-buru. Mulanya si petugas hanya menjawab kalau masinis sendiri tidak tahu jawabannya. Pangeran kecil yang pada dasarnya gemar sekali bertanya dan akan terus bertanya selama belum mendapat jawaban, kembali bertanya pada petugas penjaga lintasan kereta itu saat lewat kereta ekspres kedua, apakah kereta itu mengejar penumpang di kereta pertama. Si petugas menjawab bahwa kereta ekspres kedua itu tidak mengejar apa-apa, dan di dalam kereta itu para penumpang hanya tidur atau menguap. Si pangeran kecil lantas berkata bahwa hanya anak-anak yang tahu apa yang mereka cari.
Apa yang sesungguhnya dicari dan dikejar Tuan Elf? Kenapa ia harus terburu-buru? Kenapa pula ia harus menjejalkan penumpang di dalam tubuhnya sampai para penumpang tersebut kehabisan napas dan tidak kebagian tempat duduk? Apakah ia menyadari perbuatannya? Akankah ia bertobat? Saya didera rasa penasaran yang lumayan akut. Tapi saya enggan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada sang supir. Soalnya yang saya lihat, tampang mereka sangar-sangar. Kernetnya? Suka nyebelin. Buntutnya, kalau kebetulan naik elf yang jalannya ngebut, selama perjalanan saya menutup mata dan berdoa supaya selamat sampai tujuan.
Rie Yanti, lahir di Bandung, Juni 1984. Menulis di beberapa blog seperti WarungFiksi.net dan www.tobucil.blogspot.com.Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment