Sunday, March 15, 2009

Mengetik Hari Bersama Dipati Ukur



Rindang Pepohonan menemani langkah saya sore itu di kitaran Dipati Ukur seusai menemui seorang teman lama. Ia seakan hendak melawan mendung di langit yang terlihat kian pekat. Namun tak ada yang mampu menahan tetes itu, satu persatu ia kemudian mulai berjatuhan hanya dalam hitungan menit, memaksa saya untuk sekadar mencari tempat berteduh. Tak ada pilihan, jajaran kios semi permanen yang terpampang tepat beberapa meter dari tempat berpijak menjadi penyelamat saya hari itu dari guyuran hujan. Mata saya berpendar melihat sekeliling. Ah, saya baru tersadar, tempat saya berteduh ternyata adalah deretan kios yang selama ini dikenal dengan sebutan Juru Ketik Dipati Ukur. Kios-kios itu berderet sepanjang jalan Dipati Ukur sampai jalan Singa Perbangsa, Bandung. Sebuah mesin tik manual dan seperangkat komputer melengkapi tiap kios yang terlihat sedikit kusam.

Entah kapan sebenarnya jalanan ini mulai dipenuhi oleh para juru ketik yang setia menunggu para pelanggan. Kecamuk pertanyaan yang mendesak demikian hebat di impuls syaraf lalu membuat saya berkenalan dengan para lelakon di sana. Subangkit adalah salah satunya. Lelaki bertubuh tambun ini lalu berkisah bahwa kios-kios ini sebenarnya telah bermunculan semenjak tahun 80-an, nyaris tiga dekade lalu! Pantas jika ia kemudian tak hanya menjadi sebatas tempat yang menawarkan jasa pengetikan, namun tanpa disadari ia pun telah menjelma pula menjadi salah satu ikon yang dimiliki oleh kota Bandung.

Subangkit, teman baru saya itu, lalu mengakui bahwa ia termasuk generasi pertama yang menawarkan jasa mengetik di tempat ini. Alasan klasik susahnya mencari kerja adalah alasan utama Subangkit terjun ke dunia ketik-mengetik. “Umumnya yang menggunakan jasa pengetikan adalah para mahasiswa dan para pekerja kantoran. Yah… yang paling sering sih, pesanan mengetik skripsi dan surat menyurat,” jelas lelaki yang terlihat sudah mulai beruban itu.

Alasan yang sama pun dilontarkan oleh Kang Uus, lelaki asal Banjar, Ciamis yang juga mengadu nasib di tempat ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa menjadi juru ketik adalah profesi yang ternyata harus ditekuninya. Sama seperti Subangkit, Kang Uus sudah melakoni pekerjaan ini selama lebih dari 20 tahun. “kalau dulu enak kerja mengetik begini, lumayan besar pemasukan per harinya. Tapi sekarang, penghasilan saya sudah jauh berkurang. Habis, sekarang yang membuka kios ketik di sini semakin banyak saja,” ucapnya lugas, “ya, memang rejekinya seperti ini,” lanjutnya kemudian dengan nada tulus dan bijak tanpa terkesan menyesal.

Percakapan kami sore itu terasa begitu intim dengan suara “tak, tik, tuk” mesin tik yang bercampur dengan keyboard komputer. Tumpukan buku-buku dan makalah-makalah super tebal menghiasi tiap kios di sana. Aroma kecerdasan tiba-tiba saja merupakan wujudnya. Tanpa disadari, obrolan kami kemudian tak hanya membahas tentang dunia ketik-mengetik, Subangkit dan Kang Uus dengan fasih mengobral obrolan dari berbagai bidang ilmu, mulai dari politik sampai seni musik. Kekaguman lalu menyelip begitu saja mendengar para juru ketik ini bercerita, betapa berisi otak yang mereka miliki! Di tengah himpitan ekonomi dan penghasilannya yang bisa dikatakan pas-pasan, para juru ketik itu ternyata mendapatkan bayaran yang jauh lebih berharga dibandingkan lembaran rupiah. Ya, pekerjaan mereka tentu saja menuntut agar keduanya membaca tiap pesanan ketikan yang diterima. Membuat wawasan mereka berkembang, jauh melampaui kesadaran mereka sendiri.

Entah berapa lama kami berbincang, yang pasti, matahari kini perlahan mulai kembali menyembul menyuguhkan senja di batas cakrawalanya. Lambat saya kembali berjalan menapak jalan yang masih menyisakan becek di sana-sini. Mungkin hari itu saya hanya sekadar sang pejalan yang singgah di sebuah perhentian untuk sesaat, akan tetapi perhentian itu terasa begitu berharga. Menjumpai sesuatu yang sangat ikonik dengan dengan kota yang saya cintai ini dan memahami sisi lain yang dimilikinya, sebuah sisi yang mungkin hanya segelintir orang yang menyadarinya, dan saya tiba-tiba merasa sangat beruntung karena telah diperkenalkan oleh sisi lain tersebut, sebuah sisi yang menerangkan tentang hasil yang dipetik para juru ketik tersebut ketika mereka menghargai dunia yang digelutinya. Lalu sudahkah kita menghargai kehidupan yang kita miliki dan geluti? Atau kita sebenarnya hanya semata menjadi mesin di tengah deru kota yang kian padat?

Nunuws biar desperate yg penting enjoy biar enjoy yg penting desperate? yah... Pengagum hujan dan malam yang akut..

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin