-Tobucil, Sabtu 14 Maret 2009-
Kursus Menjahit Totebag
Seseorang yang cukup sering hadir di hidup Tobuciler pada masa lalu, terlihat sibuk menjahit di beranda Tobucil. “Ah, nggak mungkin, cuma halusinasi,” gumam Tobuciler sambil terus berjalan. Namun, ketika Tobuciler melintas …
“Eh, kamu … “
“Eh … Ibu ! Kok bisa di sini, Bu ?”
Ternyata, ibu yang sedang sibuk menjahit totebag itu memang Ibu Lina Meilinawati, dosen Tobuciler semasa kuliah. Beliau mengaku belajar menjahit untuk persiapan pensiun kelak. “Enakan mana, Bu, ngajar sama njait ?” tanya Tobuciler. “Ya enakan ini. Kalo ini teu kudu (tidak harus) mikir … hehehehe,” seloroh Bu Lina yang sekretaris Pasca-Sarjana Universitas Padjadjaran tersebut.
Ibu Lina datang bersama karibnya, Ibu Safrina Noorman. Doktor yang kerap tampil serius dan analitik di tengah diskusi itu, ternyata sangat asal saat bersama Bu Lina. Menonton kedua dosen itu berdialog, bagaikan menonton acara “Bukan Empat Mata” di televisi.
“Tolong diberitakan, jaitan saya nggak selesai-selesai karena Ibu yang bodo itu dari tadi ngejait lama banget, nggak selesai-selesai, jadi saya diam saja nungguin dia,” kata Bu Lina sambil melirik Bu Safrina. “Eh, tolong dicatat, ya, dosen kamu yang capetan itu hanya gagal mendominasi Tarlen. Lagian liat, jaitan saya mah selesai, jaitan dia belum selesai-selesai,” tanggap Ibu Safrina. “Ah, itu juga (totebagnya) kan dibikinin sama Tarlen,” Bu Lina membalas lagi. Saat Bu Lina menjahit sambil menyampirkan sebagian bahan jahitannya di bahu, Bu Safrina langsung berkomentar, “Liat, tuh, beda gayanya yang penjahit profesional … ketrampilan-ketrampilan kelas pekerja begini cocoklah sama kamu. Eh … da Tarlen mah bageur (Tarlen baik), ya … ini cuma buat menghina Lina, kok …”
Menjelang jam makan siang, Kru Tobucil memesan makanan di Legoh, restoran kesayangan. Bu Safrina dan Bu Lina turut memesan.
“Eh, kita teh belum bayar (kursus), ya … naha (kenapa), ya, kita malah pesen cumi, lagi …,” Bu Lina tersadar. Akan tetapi kesadaran tersebut tak menyurutkan niat mereka memesan makan siang. Menjahit dan melawak tentunya membuat lapar, bukan ? Hehehehe …
Setelah makan siang, kedua ibu tersebut bersiap-siap untuk pulang. “Bu, foto dulu sama jaitannya,” request Tobuciler. “Tapi punya saya kan belum selesai, masih rawis-rawis gini,” kata Bu Lina. “Pura-pura weh (saja) udah selesai,” tanggap Bu Safrina sambil segera berpose dengan totebagnya. Akhirnya Bu Lina ikut berpose. Dan … *cekrek*
Teman-teman, ini dia Bu Safrina (berkerudung) dan Bu Lina (berkacamata), bergaya bagai model tabloid wanita …
Sundea

Bookmark this post: |
2 komentar:
ternyata dosen juga manusia ya...:p
Begitulah, hehehe ...
Post a Comment