-Tobucil, Kamis 5 Maret 2009-
Klab Komik
“Udah mulai belum ini teh ?” tanya Tobuciler pada teman-teman Klab Komik yang berkumpul di meja beranda. “Belum. Lagi ngomongin kerjaan dulu,” sahut Gide yang hari itu bertugas menghantarkan workshop. Tobuciler duduk di antara teman-teman Klab Komik yang sama-sama anggota Tribe Comics Studio. Bagai di kantor sendiri, mereka sibuk membahas proyek. “Ini proyek buku anak,” kata Arief. “Ini ensiklopedi tentang penemuan,” kata Endang. Tobuciler manggut-manggut.
Hingga hampir pukul setengah enam, Klab Komik yang rencananya membahas translasi inspirasi abstrak ke panel komik, tak kunjung mulai. “Jadi bakal ada workshop, nggak, nih ?” Tobuciler bertanya lagi. “Kayaknya enggak. Blame the rain,” jawab Gide. Tobuciler manggut-manggut lagi.
Di luar dugaan, sekitar pukul setengah enam, seorang gadis manis muncul menerjang hujan. “Ini acara yang Tribe Comics, ya …?” tanya gadis yang ternyata bernama Alfie itu. Selanjutnya, workshop pun jadi “agak” diadakan. Gide membagikan empat bundel contoh panel komik. Ternyata ada teknik-teknik mengakali panel untuk membuat komik jadi lebih komunikatif. Satu panel komik bisa menyampaikan waktu yang panjang. Sebaliknya, sebuah waktu yang singkat dapat juga dibagi ke dalam beberapa panel. Pembuat komik pun dapat menggambarkan perasaan melalui pemilihan obyek, jarak pandang, dan model balon dialog. Ternyata panel komik adalah bahasa yang sangat kaya eksplorasi.
Di akhir workshop, Gide membagikan cuplikan prosa. Seharusnya, peserta diberi kesempatan menerjemahkan prosa itu ke dalam panel komik. Namun, karena kurangnya waktu, prosa itu dibahas secara lisan saja. “Fie, kalo elu kebayangnya mau bikin gimana ?” tanya Gide. “Belum kebayang …,” sahut Alfie. Tahu-tahu Ronny menimpali, “Bergantung dikasihnya berapa halaman. Kalo 32 halaman mah, negok doang bisa dibikin dua halaman …”
Sebagai informasi, workshop ini seharusnya diberikan pada tanggal 29 Januari lalu. Namun, karena masalah komunikasi (baca blog Tobucil edisi 2 Februari 2009), hanya ada satu peserta “betulan” yang hadir, dan workshop pun diadakan sekilas. Pada keseharusnyaworkshopan selanjutnya, kembali hanya ada satu peserta “betulan” yang datang. Cukup komikal untuk dianggap sebagai kebetulan. Meski begitu, Gide tetap menuding hujan es yang hari itu terjun tanpa kenal lelah, “This time, blame the rain !”
Hmmm … teman-teman … silakan membuat workshop sendiri di rumah : kira-kira bagaimana kamu menerjemahkan kisah ini ke dalam panel ?
Sundea

Klab Komik
“Udah mulai belum ini teh ?” tanya Tobuciler pada teman-teman Klab Komik yang berkumpul di meja beranda. “Belum. Lagi ngomongin kerjaan dulu,” sahut Gide yang hari itu bertugas menghantarkan workshop. Tobuciler duduk di antara teman-teman Klab Komik yang sama-sama anggota Tribe Comics Studio. Bagai di kantor sendiri, mereka sibuk membahas proyek. “Ini proyek buku anak,” kata Arief. “Ini ensiklopedi tentang penemuan,” kata Endang. Tobuciler manggut-manggut.
Hingga hampir pukul setengah enam, Klab Komik yang rencananya membahas translasi inspirasi abstrak ke panel komik, tak kunjung mulai. “Jadi bakal ada workshop, nggak, nih ?” Tobuciler bertanya lagi. “Kayaknya enggak. Blame the rain,” jawab Gide. Tobuciler manggut-manggut lagi.
Di luar dugaan, sekitar pukul setengah enam, seorang gadis manis muncul menerjang hujan. “Ini acara yang Tribe Comics, ya …?” tanya gadis yang ternyata bernama Alfie itu. Selanjutnya, workshop pun jadi “agak” diadakan. Gide membagikan empat bundel contoh panel komik. Ternyata ada teknik-teknik mengakali panel untuk membuat komik jadi lebih komunikatif. Satu panel komik bisa menyampaikan waktu yang panjang. Sebaliknya, sebuah waktu yang singkat dapat juga dibagi ke dalam beberapa panel. Pembuat komik pun dapat menggambarkan perasaan melalui pemilihan obyek, jarak pandang, dan model balon dialog. Ternyata panel komik adalah bahasa yang sangat kaya eksplorasi.
Di akhir workshop, Gide membagikan cuplikan prosa. Seharusnya, peserta diberi kesempatan menerjemahkan prosa itu ke dalam panel komik. Namun, karena kurangnya waktu, prosa itu dibahas secara lisan saja. “Fie, kalo elu kebayangnya mau bikin gimana ?” tanya Gide. “Belum kebayang …,” sahut Alfie. Tahu-tahu Ronny menimpali, “Bergantung dikasihnya berapa halaman. Kalo 32 halaman mah, negok doang bisa dibikin dua halaman …”
Sebagai informasi, workshop ini seharusnya diberikan pada tanggal 29 Januari lalu. Namun, karena masalah komunikasi (baca blog Tobucil edisi 2 Februari 2009), hanya ada satu peserta “betulan” yang hadir, dan workshop pun diadakan sekilas. Pada keseharusnyaworkshopan selanjutnya, kembali hanya ada satu peserta “betulan” yang datang. Cukup komikal untuk dianggap sebagai kebetulan. Meski begitu, Gide tetap menuding hujan es yang hari itu terjun tanpa kenal lelah, “This time, blame the rain !”
Hmmm … teman-teman … silakan membuat workshop sendiri di rumah : kira-kira bagaimana kamu menerjemahkan kisah ini ke dalam panel ?
Sundea

Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment