Begitu tiba di Tobucil, Mohammad Syafari Firdaus selalu melangkah pasti menuju kasir, memesan kopi Arabika. Hari itu pun demikian. Setelah memesan kopi, ia segera duduk di beranda Tobucil dan menyalakan rokoknya.
Gondrong. Kopi. Rokok. Berapi-api. Stereotipe sastrawan sekali, bukan … ?
Tobucil : Apa pendapat Kang Dei tentang api ?
Kang Dauz : Ya … sederhana ‘kan … seperti apa yang dikatakan peribahasa kita, api kecil itu kawan, api besar itu lawan. Tapi kalau dilihat dari peribahasa itu, semua kalau berlebihan kan jadi lawan. Air juga. Seperti di Situ Gintung itu …
Tobucil : Kang Dei ngerasa kayak api, nggak ?
Kang Dauz : Seperti api, nggak, ya aku … ? Orang-orang banyak mengatakan aku sering meletup-letup seperti api. Aku ngerasa aku memang punya kecenderungan seperti itu. Tapi kalau letupan-letupan itu aku masih dapat mengontrolnya, ya … aku pikir nggak apa-apa. Kalau menurut kamu, aku kayak api, nggak ?
Tobucil : Ada, sih … tapi lebih mirip aki. Aki-aki (kakek-kakek) …. hehehehe …
Kang Dauz : Ah, kamu …
Tobucil : Eh, Kang Dei baru ulangtaun (26 Maret) kan ? Yang ke berapa, sih ?
Kang Dauz : Ke-36. Angka bagus itu, tambah “9” jadi angka sempurna. Mistis pisan, ya, urang (saya) …?
Tobucil : Hehehe … terusterus … gimana Kang Dei memaknai ulangtaun Kang Dei ?
Kang Dauz : Gimana, ya ? Saya sudah tidak lagi memaknai ulangtahun sebagai sesuatu yang istimewa. Semuanya mengalir begitu saja. Bagi saya, ulangtahun hanya sebagai penanda saja, bahwa pada hari itu usia saya bertambah.
Tobucil : Jadi, nggak ada yang meletup-letup sama sekali ? Ato, ada rencana untuk meletup-letup, nggak ?
Kang Dauz : Apa, ya ? Saya itu … agak sedikit sulit untuk mentolerir kebodohan, termasuk kebodohan yang ditimbulkan oleh aku sendiri. Dan kalaupun kebodohan itu dilakukan oleh aku sendiri, aku akan meletup-letup terhadap diri sendiri. Tapi, kebodohan itu harus dijelaskan juga, bergantung konteks.
Tobucil : Jadi contoh konteksnya gimana ?
Kang Dauz : Seperti … apa, ya? Mungkin agak kasar, ya, kalau contohnya itu … seperti … seseorang yang sudah memutuskan untuk masuk ke dalam satu lingkungan, tapi dia tidak mau memahami konsekuensi-konsekuensi yang ada di sana. Misalnya, orang yang kuliah di Sastra Indonesia, tapi tidak bisa menjelaskan apa itu fonologi, apa itu semantik, apa itu sintaksis … saya pikir itulah kebodohan, paling tidak menurut saya.
Tobucil : (mencoba menjelaskan fonolgi, semantik, dan sintaksis di dalam kepalanya sendiri. Sebagai informasi, Tobuciler lulusan Sastra Indonesia juga, 10 angkatan di bawah Kang Dauz)
Kang Dauz : Apa lagi … ?
Tobucil : Sekarang ngobrolin api asmara, deh. Gimana rasanya menjaga api asmara selama 16 tahun ?
Kang Dauz : Serius itu pertanyaannya ? Jangan itulah, yang lain aja … lagian itu kan lokal banget …
Tobucil : (dalam hati: halah, biasanya juga suka curhat colongan) Iya, itu pertanyaannya.
Kang Dauz : Kenapa harus api asmara ? Bukan tanah asmara misalnya ?
Tobucil : Karena kalo tanah asmara kesannya udah tua, udah bau tanah, gitu … ayo cepat, jawab kenapa …
Kang Dauz : Yah … itu berbeda dengan asmara yang membakar. Lagipula, itu adalah sesuatu yang tertinggal dan yang aku rasakan saat ini bukan lagi asmara.
Tobucil : Jadi apa, dong ?
Kang Dauz : Apa, ya , kalau bukan lagi asmara ? Kalo cinta, asmara, bukan ? Bukan kan ? Asmara itu bagian dari cinta.
Tobucil : Hmmm … jadi cinta. Kuatan, euy, bisa nunggu selama 16 taun …
Kang Dauz : Aku nggak menunggu juga, sih …
Tobucil : Lebih ke platonis ?
Kang Dauz : Dalam platonis itu, aku justru mendapat kesejukan.
Tobucil : Romantis, euy … terakhir … kenapa Kang Dei suka ngerokok ?
Kang Dauz : Kadang-kadang aku bingung kenapa aku harus merokok, mungkin untuk menemani kesendirian aku, ya …
Ternyata, letupan-letupan Kang Dauz terseimbangkan dengan siraman cinta platonis yang terpelihara selama 16 tahun lamanya. Seperti apa kisahnya ? Bisa kamu tanyakan sendiri jika bertemu langsung.
Gondrong. Kopi. Rokok. Kisah cinta yang dramatis. Stereotipe sastrawan sekali, bukan … ?
Bookmark this post: |
1 komentar:
gondrong, kopi, rokok, cinta dramatis, romantis....tragis...:P
Post a Comment