Sunday, April 5, 2009

Bos

-Tobucil, Rabu 01 April 2009-

Madrasah Filsafat

Umar bin Khotib adalah sahabat nabi yang mempunyai pedang hebat. Pada suatu hari, teman Umar meminjam pedang tersebut. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kecewa, “Umar, ternyata pedang kamu sama saja dengan pedang-pedang lainnya.” Umar pun menjawab, “Itu karena kamu hanya meminjam pedangnya. Akan berbeda kalau kamu meminjam tangannya juga …”

“Bos bukan sekedar masalah struktural. Ia justru orang yang dapat memanfaatkan kemampuannya untuk berkuasa,” pendapat Mas Dauz. “Yang jelas, jadi bos harus bisa semua pekerjaan, mulai dari menyapu sampai menerima untung. Bapak saya pernah menasehati : kalau jadi bos, kamu harus tahu pekerjaan yang paling rendah sampai yang paling tinggi, supaya kamu bisa netapin standar kamu,” timpal Mbak Tarlen, bos Tobucil.

Hari itu, madrasah filsafat mengangkat judul “Bos, Kok Berkuasa ?” . Entah sengaja atau tidak, secara lokasi, pemirsa terbagi menjadi dua kubu. Di seputar meja yang dekat dengan pintu Tobucil, meriung pekerja-pekerja lepas dan di seputar meja yang dekat ke gerbang, meriung pekerja-pekerja tetap. Menariknya lagi, para pekerja lepas tampak lebih aktif mengungkapkan pendapat mereka. “Pemegang kekuasaan adalah pemilik modal. Tapi pemilik modal butuh keahlian orang-orang seperti kurator. Enaknya kerja lepas, kalau udah nggak enak, ya nggak usah diterusin,” papar Mas Heru, kurator independen. “I have nothing to loose. Bos saya juga udah tau kelakuan saya. Saya kerja di radio hanya untuk memenuhi kebetuhan sehari-hari dan membiayai saya bersenang-senang,” ungkap Mbak Echie, penyiar radio PR FM. “Kalau sama bos, saya malah lebih berusaha memaksakan kehendak saya,” kata Mbak Upi yang kini telah sepenuhnya menjadi perajut lepas. “Kalau kantor saya balek (beres) mah kayaknya saya udah dipecat dari dulu … hehehehe …,” kelakar Mas Bebeng, stringer photographer di Kantor Berita Antara.

fotodipake

Setelah dipancing-pancing, kubu pekerja tetap yang seharusnya punya bos lebih konkret, akhirnya bersuara. “Saya memilih jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena waktu luangnya banyak …,” ungkap Pemuda A. Ia mengaku menggunakan waktu luang itu untuk mencari pekerjaan-pekerjaan sampingan. Dan menurut pengakuannya juga, PNS pun mendapat bayaran saat mengikuti upacara bendera. Wow ! “Saya dilatarbelakangi oleh orangtua wiraswasta. Justru karena itulah sejak lama saya memutuskan untuk menjadi pegawai saja. Saya melihat bagaimana orangtua saya harus memikirkan karyawan. Menurut saya, itu semua terlalu pelik,” ujar Mbak Feti, pegawai sebuah perusahaan swasta. Pemudi N, yang pernah bermasalah dengan bos namun akhirnya memilih tetap tinggal di bawah instansi, berujar, “Pada akhirnya saya bekerja sekedar untuk melakukan yang terbaik, yang penting saya bisa tetap berkarya, bukan untuk menyenangkan bos.” Mas Oyeah, pegawai seputar dunia mie instant, berpendapat, “Saya, sih, mau ngerjain ini karena ada untungnya juga buat saya. Daya tawarnya, ya … selama kita bekerja dengan cinta.” Setelah diam beberapa saat, akhirnya ia menyimpulkan, “Yang menjadi bos sebetulnya adalah uang itu sendiri. Untuk pekerja tetap, maupun pekerja lepas …”

Simpulan ini memenuhi persyaratan polling. Kuorum dua per tiga menyetujui.

Di tengah diskusi, telpon genggam Mas Ami berbunyi. Lagu Red Hot Chili Pepper berkumandang, “Scar tissue ‘cause I miss you so…”. Tampaknya istri Mas Ami sudah rindu. Segenap pemirsa menyoraki, “Huuu …””Udah dipanggil …” “Wah, telpon dari bos yang lain …” . Dan sesaat kemudian, Mas Ami berkemas, “Saya duluan, ya …,”

Sambil menatap punggung Mas Ami, sebuah pemikiran melintas di kepala Tobuciler.

Untuk orang yang bekerja dengan cinta, mungkin bos mereka adalah rasa cinta itu sendiri.

Sundea

Google Twitter FaceBook

2 komentar:

IBS said...

wow.... endingnya so deep!! hehehe... duh, nyesel nih gak dateng pada episode "Bos" dan "Moody"... :(

vbi_djenggotten said...

mengena...mengena...

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin