Sunday, April 12, 2009

Dari Musik Sore Tobucil

Klab Klassik

-Tobucil, Minggu 12 April 2009-

Musik Sore Tobucil (MST) terbukti kontinyu. Setelah mengawali debut acaranya pada 22 Februari kemarin, janji Tobucil untuk menyelenggarakan setiap dua bulan ternyata ditepati. 12 April, bertepatan dengan hari raya Paskah, ketika anak-anak yang merayakannya sibuk mencari telur, Tobucil sibuk mencari Tesla. Siapakah Tesla? Ialah salah satu pengisi acara MST yang ternyata batal tampil akibat diopname. Seyogianya, jika ia manggung, maka MST edisi kedua ini akan bernuansakan jazz yang hadir dari keperkasaan petikan gitarnya. Namun apa daya malang tak dapat ditolak, MST akhirnya tetap jalan dengan format tanpa-Tesla, yakni tiga pengisi acara yang sehat dan tidak diopname: Trio Fandango, D’Java String Quartet, serta Angsa dan Serigala Band.

Sore itu cerah ceria. Tak seperti MST sebelumnya yang hujan gulana. Wiku dengan penuh keimanan memaparkan sebab-akibatnya, “Ini karena hari ini adalah Paskah.” Kenapapun itu, MST tak peduli, selama penonton senang, pemain senang, dan warung laku. Hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Tobuciler. Kenapa? Karena Tobuciler membuka acara, mengisi acara, dan menutup acara. Padahal ulang tahun Tobuciler yang asli ada pada 30 November. Penampil pertama adalah Trio Fandango, yang mana Tobuciler menjadi bagiannya (tidakkah tulisan ini berpotensi menjadi Tobuciler-sentris?). Ensembel tiga gitar itu menampilkan tiga buah karya musik klasik. Permainan kami, kalau boleh jujur, belum mampu mencairkan suasana yang entah kenapa terasa sungguh menegangkan. Tobuciler sudah berupaya dengan mengeluarkan garingan-garingan, tapi penonton sepakat bahwa itu memang garing.

Oke, nah ini dia, D’Java String Quartet. Perlu diceritakan panjang lebar bahwa mereka-mereka ini adalah wong Jogja yang dikutuk untuk melakukan konser di Auditorium CCF pada tanggal 17 April 2009 jam 19.30. Tiket dapat dibeli di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 dengan harga 20 ribu, atau dapat hubungi Syarif (0817-212-404). Baiklah, kembali ke liputan, kuartet gesek tersebut ternyata sukses mencairkan suasana. Dengan personel Danny (biola), Rama (biola), Dwi (biola alto), dan Adi (cello), D’Java String Quartet menghadirkan suasana yang mengasyikan di MST. Padahal, lagu-lagu yang mereka bawakan yakni karya-karya dari Mozart dan Dvorak, tergolong rumit. Inilah ajaibnya suasana MST, kerumitan nada tak terasa jika penonton merasa intim dan mesra. Kemungilan panggung MST, yang bisa jadi tak ada panggung, justru sukses meleburkan batas pemain-penonton. Musik klasik, yang notabene paling akrab dengan yang namanya batas-batas, mendapatkan eksistensi barunya dalam suasana macam MST. Ia sama sekali tak jadi turun nilainya akibat dimainkan bukan-di-gedung-mewah, tapi justru malah lebih terasa bibit bobot emosi nada-nadanya. Tidakkah Mozart, dahulunya, menyosialisasikan karya-karyanya dengan cara demikian? Yakni tampil dalam komunitas kecil, tanpa suasana formal, lantas mempresentasikan komposisinya dengan jujur dan terbuka? Silakan tengok wikipedia.

Angsa dan Serigala Band, yang sempat membuat Tobuciler bingung, apakah ini satu band atau dua band, menjadi penampil puncak. Dengan jumlah personel mencapai delapan orang, mereka menghadirkan suasana yang kontras dengan dua penampil sebelumnya. Jika Trio Fandango dan D’Java String Quartet fokus pada kompleksitas bunyi-bunyian, maka Angsa Band dan Serigala Band (sebelum koalisi) tak mau rumit: mainkan dan rasakan. Ini jelas menyejukkan bagi suasana MST yang semakin teduh menjelang maghrib. Nyanyian dua vokalis pria-wanita, gesekan biola Afifa, tiupan trombone si mas mas yang Tobuciler tidak sempat menanyakan namanya, lalu dentingan xylophone dan genjrengan gitar, sukses menutup MST dengan manis. Namun MST tak berhenti sampai disitu, selalu ada Chris, si musisi spesialis tampil sesudah pesta. Dengan gitar dan pita suaranya, ia menghibur sisa-sisa hadirin yang masih mau nongkrong-nongkrong, yang dalam pikirannya barangkali ada rasa kecewa: libur panjang ini berakhir jua.

Syarif Maulana

musiksore

Ingin menonton "D' Java" dan "Angsa dan Serigala" ? Intip posting terbawah di halaman ini ...

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin