Klab Nulis
-Tobucil, Senin, 6 April 2009-
Ingat Double Dragon? Gim Nintendo yang menampilkan dua orang pemuda Cina sebagai jagoannya, yang satu bercelana merah dan satu lagi biru? Mereka, sudah dapat ditebak, pintar kungfu. Lantas apa kaitannya dengan Evi, si peserta Klab Nulis angkatan IV? Evi, dengan perkasa, meraih double winner, lewat torehan gelar cerpen terbaik dan cerpen terfavorit. Jadi kaitannya, dua-duanya sama-sama punya kata double di depannya. Itu saja.
Senin itu adalah upacara wisuda Klab Nulis edisi IV. Tobuciler datang terlambat, maka itu banyak hal terlewat. Ketika Tobuciler datang, para wisudawan dan wisudawati telah duduk khidmat mendengarkan sepatah dua patah kata dari rektor Ophan. Entah lupa atau kenapa, tapi mereka-mereka tidak pakai toga atau kebaya. Pas Tobuciler tanya pun, mereka tampaknya tidak ada yang berencana pergi ke Jonas.
Untungnya, Tobuciler tak luput dari bagian terpenting dari wisuda, yakni pembacaan cerpen terbaik dan terfavorit, pembagian hadiah, foto-foto, serta curhat anggota. Akhirnya, dengan efek dramatis, dibacakanlah satu per satu jumlah surat suara yang dicontreng untuk memilih cerpen terfavorit. Evi pun menang dengan jumlah suara sembilan. Setelah itu dibacakan pula nominasi cerpen terbaik yakni: Evi, Mbak Fetty, Rini, dan Bu Tatty. Dramatisasi datang lagi, sekarang plus bunyi drum oleh Mas Paskalis, salah satu juri. Mas Wiku putar-putar kesana kemari sambil memegang kantong berisi hadiah untuk sang pemenang, persis Miss Universe yang mencari penerus tiara berliannya. Ophan menghitung mundur, “Tiga.. dua.. satu.. pemenangnya adalaaaaah..” Semua sudah tahu Ophan, Tobuciler sudah menuliskannya di paragraf pertama.
Tapi Tobucil maha adil, yang menang dapat hadiah, yang kalah pun. Tapi hadiahnya tidak sama, jadi Tobucil tidak adil. Tapi semua senang, karena semua dapat gelang dan sertifikat. Jadi Tobucil adil atau tidak?
Demikian. Sebelum benar-benar ditutup, tak lupa Bu Tatty, sebagai peserta tertua sepanjang sejarah Klab Nulis, menyampaikan pesan dan kesannya. Kesannya, ia bahagia, katanya, karena dari sebelumnya tidak bisa menulis jadi bisa. Tak lupa ia menyampaikan teror: bahwa kelak ia akan balas dendam dengan tulisan yang jauh lebih baik. Dan akhirnya pesan: tolong voting cerpen terfavorit dilakukan bersama-sama dalam satu waktu, misalnya secara online, agar terasa lebih adil. Selama ini, voting dilakukan tergantung daripada jumlah orang yang hadir pada saat sidang karya. Jika yang hadir adalah sembilan, maka suara yang mungkin adalah sembilan. Jika yang hadir adalah sepuluh ribu, maka suara yang mungkin adalah sepuluh ribu. Meskipun jumlah itu tidak mungkin ada di Tobucil.
Akhirnya Klab Nulis berakhir jua. Mas Wiku dan Ophan kembali berembuk. Membicarakan bagaimana caranya agar dunia ini bisa menjadi lebih baik.
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment