Perempuan dibentuk konstruksi menjadi obyek yang diamati. Mereka diajari mempersolek diri dan menunggu untuk dipilih. Kesadaran menjadi display yang pasif, diadaptasi sebagai kehormatan. “Ini kami,” ungkap para Kart-ini, memamerkan diri sendiri.
Hingga pada suatu masa, dari antara para Kart-ini, lahir seorang Kart-itu. Ia punya kesadaran untuk berdiri di tempat lain. Bukan sebagai obyek yang diamati, ia memilih menjadi subyek yang mengamati. Posisinya memungkinkan ia membaca cermin-cerminnya secara kritis. Melalui para Kart-ini, Kart-itu pun membaca dirinya sendiri, “Apa itu ? Mengapa harus begitu ?”
Perempuan yang berani menjadi subyek adalah perempuan yang mempunyai kesadaran untuk berbalik badan dan keluar dari mainstream. Itu sebabnya, Raden Ajeng Kartini yang sesungguhnya telah menjelma jadi Raden Ajeng Kartitu layak dirayakan.
Selamat menyambut Hari Kartini, 21 April,
dan selamat menyambut Hari Bumi, 22 April.
Omong-omong soal perempuan, bukankah bumi pun dikenali sebagai “Mother Earth” ?
Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat,
Tobuciler
Bookmark this post: |
7 komentar:
I LOVE THE POST!!! That's the spirit ya tobucil, perempuan harus berani mendobrak tradisi 'diamati' menjadi 'pengamat'...Apalah arti perjuangan tanpa keberanian :D Selamat Hari Kart-ini Kart-itu
Makasih, Haniii ...
Amiiiin ... ^_^
sebentar lagi kayaknya bakal ada Kar-T2 dan Kar-T.A.T.U.. ^_^
Wah, bisa jadi, Mas, Dona ... hehehe ...
met hari kartini dan met hari bumi :)
tobucil.... mantab!!!
happy kartini day..!!!
but, kartini gak cuma buat perempuan...
ayo para lelaki, munculkan semangat kartini kaliaaan..!!! *ngelantur*
semangat terus!!!
@ Lynn : Makasih, ya, Lynn
@ Agito-Chan : Betul, Git, sebenernya Kartini itu pejuang hak azazi manusia. Jadi perjuangan dia relevan buat siapa pun yg ngerasa diperlakuin nggak adil secara hak azazi. Ayo, laki-laki juga harus, lho, punya "semangat Kartini" ... =)
Post a Comment