Sunday, April 19, 2009

Membuat Hidup R.E Hartanto Berbudaya

-Dago, Sabtu 18 April 2009-

Berbondong-bondong pasukan dari Tobucil menyambangi rumah R.E Hartanto sang pelukis kondang. Di hari ulangtahun Mas Tanto itu, tim Tobucil membawa hadiah ; D’ Java String Quartet. Empat mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya yang baru saja tampil di auditorium CCF Jumat (17/4) lalu, secara khusus ditanggap untuk Mas Tanto. “Pasti akan sangat berkesan. Saya ngerasa idup saya jadi berbudaya …,” tanggap Mas Tanto bungah.

mastanto

Setelah mengaso sejenak, AdI Ade, Dwi, Dani, dan Rama langsung mempersiapkan “perlengkapan perang” mereka. “Kita nggak bawa stand plat, nih, pake apa, ya, buat partiturnya ?” tanya Syarif, sang manager yang tampak lebih heboh daripada artis-artisnya. “Pake ini aja bisa ?” Mas Tanto mengajukan meja ruang tamu. Proposal diterima. Artis-artis kita pun menjajar partitur mereka di meja ruang tamu.

D’Java String Quartet membawakan dua nomor ceria. Yang pertama sebuah komposisi dari W.A Mozart dan yang berikutnya komposisi dari Beethoven. “Ini dibuat sebelum Beethoven tuli,” kata Adi Ade sang pemain cello. Dibanding komposisi-komposisi yang dibuatnya setelah tuli, lagu tersebut terdengar lebih positif dan ceria.

hadiahulangtaun

Meski partitur ketat mendikte nada-nada yang harus dibunyikan, keempat teman kita tidak menjadi kehilangan ekspresi. Mereka mengoptimalkan ruang improvisasi yang mungkin, sehingga musik mereka tetap dapat berkomunikasi dengan pemirsa. Suara empat alat musik string mereka yang padu terdengar seperti derap kuda sembrani yang mengajak setiap penonton naik ke atas punggungnya. Penonton diajak merasakan derap; ikut berlari; lalu terbang. “Saya jadi meletup-letup,” kata Mas Tanto dengan mata berbinar.

Setelah kedua lagu selesai, penonton bertepuk tanga dengan riuh. “Aduh, makasih, ya, saya seneng banget. Bener, lho, saya jadi merasa berbudaya,” kata Mas Tanto sambil menyalami keempat personil D’Java String Quartet lalu memeluk Mbak Tarlen, bos Tobucil.

Ketika D’Java String Quartet sedang mengemas alat musik mereka, Tobuciler menghampiri. “Sebelumnya udah pernah main untuk ulangtaunan belum ?” tanya Tobuciler. “Belum,” sahut mereka hampir bersamaan. “Gimana rasanya main buat ulangtaunan ?” tanya Tobuciler lagi. “Lebih nyantai, lebih banyak makanan dan minuman,” seloroh Dwi, pemegang viola. “Ekspresi-ekspresinya lebih insidental. Yang liatnya ada yang lagi minum, ada yang lagi ngapain, kalo di konser kan lebih tegang, kayaknya semua udah pasti begitu,” ungkap Rama, pemain biola. Hmm … mungkin secara esensial, setiap musik memang milik ruang kecil, ya. Sebab sepertinya musik adalah bahasa yang selalu mencari lawan bicara personal untuk berkomunikasi.

Di sela-sela obrolan tersebut, Mas Tanto muncul. “Ini rokok siapa, sih ? Bagi, ya …,” katanya sambil mencomot rokok yang tergeletak di hadapan keempat artis kita. Suasana berbudaya ala bangsawan pun pulang kepada realitas; pada budaya negara berkembang dunia ke tiga.

Anyway, selamat ulang tahun, ya, Mas Tanto …

Semoga ada letup-letup musik D’Java String Quartet yang tetap tinggal; membuat karya-karyamu terus meletup penuh kejutan seperti soda yang tak pernah surut …

Sundea

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin