-Tobucil, Selasa 7 Desember 2009-
Belakangan ini, Mbak Echie punya nama baru. “Echie Kecoswati”. Kenapa ? Karena di tengah keramaian acara apapun di Tobucil, ia sering muncul dengan seperangkat “Kecos Tools” lalu asyik mengecos (menjahit dengan tangan dengan gaya menusuk, bahasa Sunda) asesoris. Jika acara mulai riuh dan Mbak Echie Kecoswati dimintai pendapat, seringkali ia hanya menyahut, “Teuing, urang mah didieu keur ngecos (nggak tahu, saya, sih, di sini untuk njait) …” “Sebenernya ngecos ini ada hari khususnya, nggak, sih ?” tanya Tobuciler. “Ada, hari Selasa, jam 3,” sahut Mbak Kecoswati. Maka, pada hari Selasa jam 3, datanglah Tobuciler ke Tobucil untuk secara khusus meliput Klab Kecos.
“Sebenernya ini bukan Klab juga,” kata Mbak Kecoswati di tengah kesibukannya mengecos, “Ini dibuat berdasarkan ide kumpul-kumpul di facebook karena pengen bikin satu page atau group untuk bikin kerajinan tangan.” Entah sejak kapan pastinya, Mbak Echie dkk membentuk grup “Motekar” (yang artinya kreatif dalam bahasa Sunda) di facebook dan menentukan Selasa sebagai hari pertemuan. “Ini prinsipnya ‘bring your own project’, jadi di sini aku bukan pengajar,” kata Mbak Kecoswati.
Moel dan Nana datang beberapa saat setelah Mbak Kecoswati, kemudian bergabung dalam keasyikan mengecos yang tenang dan damai. Keriuhan terjadi ketika teman-teman dari AJI berkumpul dan seru mulai mengobrolkan pesawat terbang yang jatuh pada hari Senin (06/04/09) lalu.
“Ya biasa, kalo ada yang ceritanya heboh mah pasti disorot,” kata Adi Marsiella, wartawan Suara Pembaruan. Ia bercerita tentang orang gila yang sering berkeliaran di lokasi kejadian dan tahu-tahu diwawancara oleh stasiun-stasiun televisi karena ceritanya yang penuh semangat. “Tau dari mana dia orang gila ?” tanya Tobuciler. “Dari ibu warung tempat gua makan di sekitar situ. Temen gua juga sempet ngewawancara. Pas dia (orang gila itu) bilang Dani Setiawan itu cucunya, temen gua mundur teratur, abis itu wartawan tv mulai mendekat … hehehehe …” cerita Adi. “Haduuuh … kalau orang gila cerita mah jangan dikutippp,” tanggap Mas Indra prihatin.
Kedatangan Mas Frino, Nunuw, dan Mas Bebeng membuat obrolan bertambah seru. Bukan hanya peristiwa pesawat jatuh, mereka juga mengobrolkan pengalaman-pengalaman kewartawanan konyol lainnya. Mas Frino, misalnya, bercerita tentang narasumber eksentriknya yang tahu-tahu prihatin secara berlebihan pada nasib hajat kering yang tergeletak dan tak disiram.
Suara wartawan-wartawan itu mengisi kemungilan beranda Tobucil. Tawa mereka yang lepas menggelegar, bahasa tubuh mereka yang total saat bercerita, tanggapan-tanggapan mereka yang segar dan spontan, serta minat mereka pada gadis-gadis cantik yang melintas masuk ke Tobucil, menjadi nyawa pada ruang.
Di tengah keriuhan itu, Tobuciler kembali melirik pada keluarga pengecos yang masih mengecos dengan damai. Meski waktu dan ruang adalah milik mereka, mereka tidak menarik perhatian. Sama saja seperti ketika Mbak Kecoswati mengecos di hari-hari lain yang bukan officially milik acara pengecosan.
Namun, saat teringat kalimat yang kerap terlontar dari mulut kenes Mbak Kecoswati, “Teuing, urang mah didieu keur ngecos,” Tobuciler tersenyum sendiri. Mereka selalu memiliki ruang yang mereka masuki. Dengan cara mereka. Sesuai proporsinya.
Pernah memperhatikan suara gemericik air atau detik jam di tengah beragam suara yang lain ?
Mereka yang samar tapi konstan itu sesungguhnya menjaga ritme.
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment