Petang sedang cerlang ketika Theoresia Laratwaty Rumthe datang. Pemandu acara Book Club di Sky 90,50 FM ini duduk-duduk di beranda. Sambil menanti madrasah filsafat dimulai, Tobucil dan Theo mengobrol banyak ; mulai dari kesukaannya terhadap warna-warni sampai puisi.
Tobucil : Pertama kali ke Tobucil kapan, The ?
Theo : Umhh … sebelum Tobucil pindah, kali, sekitar dua taunan yang lalu, waktu masih di KGU (Kyai Gede Utama). Pas gua interview Mbak Tarlen, kan Mbak Tarlen ngejelasin tentang Tobucil. Gua tertarik, ‘ada tempat lucu, nih’. Ga berapa lama kemudian, gua kunjungan.
Tobucil : Terus, gimana kesan lo ?
Theo : Yang paling catchy lukisan sama warna-warna bukunya. Terus di ruang yang sempit itu ada syal warna-warni. Waktu pertama kali dateng, gua langsung nyoba-nyobain syal gitu, Bo, terus … udah. Gua emang seneng warna.
Tobucil : Kenapa seneng warna ?
Theo : Warna itu gua banget. I’m colorful. Contohnya, ketika gua lagi nggak mood dan buntu untuk ngelakuin sesuatu, warna itu akan bikin gua bergairah lagi. Jadi yang gua lakuin adalah, gua ambil majalah, cuma untuk liat warna-warna di majalah itu, terus udah.
Tobucil : Apa yang bikin warna-warni ngasih lo gairah ?
Theo : Apa, ya … ? (berpikir) Ada … semangat aja di warna. Contohnya … gimana, ya … ? Jadi kayak misalnya … waktu ngeliat si warna, mata gua berbinar-binar. Untuk keseharian gua, gua memilih untuk memakai asesoris yang berwarna. Pas bangun, kalo nggak semangat, gua akan mengambil asesoris berwarna dan itu akan membantu mood gua sepanjang hari.
Tobucil : Wah … lucu juga, ya. Terusterus, selain suka warna, kan lo juga suka puisi. Menurut lo, puisi sama warna ada hubungannya, nggak ?
Theo : Puisi itu … berwarna kalau menurut gua, soalnya puisi bisa merepresentasikan hati gua yang berwarna … cieeee …. (tertawa renyah).
Tobucil : Hehehe … tapi, ya, yang bisa berwarna kan banyak. Misalnya nggambar, berkebun, terus kenapa yang ngerepresentasiin hati lo itu puisi ? Apa yang istimewa dari si puisi itu ?
Theo : Pada dasarnya, gua seneng sesuatu yang nggak ribet, simple, tapi berbicara lebih keras dibanding apa yang gua rasa. Mungkin gua nggak suka berkebun karena ribet kali, ya …
Tobucil : Terus, katanya lo kan mau bikin acara puisi, nih … cerita dikit, dong …
Theo : Oh, iya. Acaranya di Potluck (Jl. H. Wahid No 31 Bandung), tanggal 22 April jam lima sore sampai dengan selesai. Judulnya “Puisi untuk Perempuan”. Berawal dari kita (Theo dan teman-teman di Sky FM) mikir, ‘Pokoknya Book Club harus eksis. Harus bikin sesuatu’. Kita mulai dari yang gua suka dulu. Puisilah yang gua suka, makanya tercetuslah ide ‘Puisi untuk Perempuan’, dua hal yang gua suka … hahaha … narsis …
Tobucil : Hehehe … gapapa. Untuk gini-ginian narsis masih halal, kok. Btw, kenapa ‘perempuan’ ?
Theo : Dari dulu gua emang punya hati sama perempuan. Bukan berarti gua penyukan perempuan,ya, tapi gua emang pengen menyediakan wadah dalam kehidupan gua, bagi para perempuan, supaya kita bisa belajar dari kehidupan mereka.
Tobucil : Cieee … menurut lo, apa yang spesial dari perempuan ?
Theo : Perempuan diciptakan setelah laki-laki. Biasanya, yang diciptakan setelahnya itu lebih aja …
Tobucil : Hmmm… gitu, ya. Siapa aja yang bisa dateng ke acara lo ?
Theo : Siapapun. Penikmat puisi dan penyuka perempuan pastinya. Kita nyediain 50 tiket bagi siapapun yang mendaftar ke Sky; tiket ini berharga minuman. Tapi acara ini terbuka untuk umum, kok …
Tobucil : Terus, kira-kira format acara ‘Puisi untuk Perempuan’ ini gimana ?
Theo : Simple banget. Kita mengundang tiga orang perempuan : Violetta Simatupang, dosen, penulis juga, terus Anjar, penulis, terus Desiyanti Wirabrata, penyiar PR FM dan penikmat puisi. Mereka diharapkan akan membacakan karya pribadi mereka tentang perempuan, terus … dibahas, deh … waktu mereka nulis, kira-kira ada, nggak, perasaan pribadi yang masuk, pengalaman pribadi yang masuk …
Tobucil : Pasti adalah, The … puisi kan personal dan sentimentil. Kalo orang lagi sedih ato jatuh cinta misalnya, rata-rata nulisnya kan puisi, bukan esei … hehehe … menurut gue, sih, esei biasanya tahap selanjtunya, pas orang udah agak berjarak dari perasaan sentimentil tertentu itu …
Theo : Wah … bener banget. Berarti gua sentimentil setiap saat, dong … hahaha …
Tobucil : Oh, iya, ya, secara elo kan nulis puisi mulu … jadi iya, The ?
Theo : Hahaha … enggak, enggak … mustinya pertanyaannya gini, ‘Berarti elo orangnya personal, dong, The ?’ Cieee … gua emang orang yang intim. Misalnya, gua bisa berteman lamaaaa … banget sama seseorang. Kayak gua masih deket sama temen-temen kecil gua di Ambon, gua masih sering nelfon, tanya kabar. Gua jarang deket banget sama orang, tapi kalo udah deket, pasti dalem banget. Itu juga … aduh … nggak usah aja, deh … (mendadak tersipu-sipu)
Tobucil : Eh, usah … nanggung, The … apaan ?
Theo : Ada Si Mang … (melirik Mang Cuankie yang juga duduk di kursi beranda menonton kami mengobrol).
Tobucil : Ah, nyantai aja sama dia mah, The … hehehe …
Theo : Ng … sebenernya sama kayak yang tadi itu. Gua jarang deket banget sama orang, tapi kalo udah deket intim banget. Gua juga susah jatuh cinta, tapi kalo udah jatuh cinta daleeemmm … banget.
Tobucil : Sekarang lagi jatuh cinta, nggak ?
Theo : Iiii … kok gitu, sih, pertanyaannya ? (tersipu lagi) Ya … gitu, deh … sedang. Lagi. Tiap hari.
Tobucil : Huhuy … kepada siapa, niii … ?
Theo : Seseorang berbaju putih di luar sana.
Tobucil : Nggak warna-warni, dong …
Theo : Karena gua udah warna-warni juga, kali, ya … jadi gua seneng aja liat seseorang yang beda sama gua.
Tobucil : Wah, siapa, ya, yang berbaju putih itu … ?
Theo : Pokoknya dia berbaju putih. Gua selalu nyebut dia gitu. Itu aja clue-nya.
Tobucil : Hehehe … baiklah, baiklah …
Warna-warni selalu mencari bidang kosong untuk dilimpahi kehadirannya. Tak heran jika Theo yang secara natural berwarna-warni seperti bias pelangi, tertambat pada “seseorang berbaju putih di luar sana”.
Eh … tapi, ya … hari itu Mang Dadang the Cuankie Man juga berbaju putih, lho … apakah itu berarti … (senyum kegosip-gosipan)
Bookmark this post: |
3 komentar:
hmmm...
sound intresting!
puisi buat perempuan ? mau dunk ikutan! kudu daftar dulu kah?
tiket na brp ya?
hehe...
For information : Warna putih di cahaya adalah campuran dari semua warna cahaya. wkwkw...
Tapi kalau warna cat yang dicampur jadi na itemm! ^^
So.. jdlah cahaya bkn cat yg hanya memantul cahaya! (halahh... jd ngajarin Fisika deh.. )
piss...
Salam kenal ya! ^^
Salam kenal juga ....
Wah, berarti Theo seneng "seseorang berbaju putih itu " karena "si baju putih" itu representasi dia sendiri, yak ...
Informasi tentang acara Puisi untuk Perempuan ada di postingan paling bawah halaman ini. Tapi kalo mau tau lebih banyak lagi, telp. aja ke Sky : 022-426 52 55
bagus-bagus
Post a Comment