Sunday, May 3, 2009

Balada Jiwa-jiwa Absurt

Klab Hobi

Tak semua gerak-gerik manusia mesti punya tujuan. Ada yang diawali dengan ”ah”, yakni ”ah, pengen aja”, ”ah, seneng aja”, atau ”ah, santai aja”. Semua ah ah ah itu adalah definisi hobi menurut Tobuciler. Tapi tanpa tujuan bukan berarti tanpa nilai. Seseorang yang punya hobi, bisa jadi adalah orang yang justru rajin memaknai sisi keabsurdan dalam dirinya. Kata hobi sendiri diambil dari bahasa Inggris yakni hobby, yang dipinjam dari istilah hobby-horse. Hobby horse adalah mainan kuda-kudaan dari kayu, yang jaman dahulu kala entah kapan dan dimana, digunakan orang untuk iseng saja, tak bertujuan tak berakhiran, cuma main untuk kesenangan.
Tobucil ternyata mencermati juga bahwa dalam diri setiap manusia, ada “jiwa pengendara kuda hobi”, jiwa absurd tak bertujuan, jiwa berkegiatan untuk kesenangan. Maka itu dibukalah perkumpulan orang-orang absurd, yang namanya kelas hobi. Jika sempat main-main ke Tobucil sabtu minggu siang hingga sore, maka tengoklah kelakuan orang-orang di kelas ini. Mereka bak Sisyphus mendorong batu: kata kita tersiksa, tapi kata mereka sih asyik asyik aja.

Merajut adalah kegiatan yang asyik. Kenapa Tobuciler tahu? Karena Tobuciler bisa merajut juga. Kenapa merajut asyik? Karena begitu dan begitu saja, hingga akhirnya terciptalah satu produk bikinan sendiri. Di Tobucil, kelas rajut knitting dengan alat bernama breyen ini memang dibuat dengan kurikulum. Ada sistematika belajarnya, lantas ada tujuan produknya. Namun Tobuciler sok yakin, bahwa orang-orang datang tak cuma untuk itu. Kegiatan merajut secara kolektif nampak sebagai sebuah keasyikan tersendiri.

Menilik lumayan jauh ke belakang, kelas rajut dimulai di tahun 2003, kala Tobucil belum berdiam di Aceh 56 ini (dulunya di Kyai Gede Utama no. 8). Pengajar kelas rajut bernama Palupi Kinkin alias Mba Upi yang tidak mau disebutkan namanya, kala itu menggantikan Iyuy dan Martha yang telah eksis sebelumnya. Kelas rajut sekarang ramai, dulu tak terlalu. Mba Upi mengingat-ngingat, bahwa pernah di suatu jaman, kelas rajut hanya kedatangan satu dua orang, bahkan tidak seorangpun kecuali Mba Upi itu sendiri. Mba Upi berasumsi bahwa kelabilan pendatang ini dikarenakan oleh “sistem sekali datang”. Artinya, orang bayar setiap sekali datang. Jadinya mereka-mereka datang sesuka hati saja. Pas ingin merajut mereka datang, pas punya uang mereka datang, pas kangen Mba Upi mereka datang.

Banyak hal yang dibenahi sejak Tobucil pindah ke Aceh 56 tahun 2006. Salah satunya sistem kelas rajut yang tadinya “per sesuka hati”, jadi lebih menuntut komitmen. Bukan menuntut sih tepatnya, hanya agar pola belajar lebih berkesinambungan dan tak putus di tengah jalan. Jika masih mau per datang, maka mesti membayar 25.000 rupiah. Tapi bisa saja loh bayar bulanan saja, yakni 150.000 rupiah untuk delapan kali pertemuan. Pertemuannya, itu tadi, sabtu minggu mulai jam satu hingga jam tiga-an. Mesti pada prakteknya, akhir kelas rajut itu tak jelas juga, kadang-kadang hingga tutup Tobucil pun masih ada yang merajut.

Sejak pindah itu, Mba Upi juga tak cuma mengajar di kelas rajut, tapi juga jualan stik dan benang. Jika melihat bagian belakang Tobucil, maka terlihatlah rak besar yang isinya benang semua. Bisnis ini disebut-sebut Mba Upi sebagai “lumayan”, yang entah Tobuciler tak sanggup menerka seberapa besar “lumayan” itu secara nominal. Yang pasti, dalam pengamatan Tobuciler, setiap hari banyak orang yang datang untuk membeli benang, baik datang langsung maupun on-line.

Tobucil nyaris identik dengan rajut breyen, jika Dian Rinjani tidak cepat-cepat direkrut oleh Mbak Elin, HRD Tobucil. Dian, seorang mahasiswa seni rupa UPI angkatan 2004, didaulat untuk mengajar kelas rajut crochet, yang menggunakan alat bernama hakken. Selain beda alatnya, hakken juga hanya menggunakan satu tangan, beda dengan knitting yang dua. Kata Dian, ini membuat kita lebih bebas dalam menciptakan bentuk. Tampaknya ini adalah kelas hobi Tobucil yang paling muda. Pengadaannya baru sekitar sebulan. Dalam bulan pertamanya, Dian punya dua murid, yakni Mbak Tarlen dan Yuchan. Biaya untuk belajar di kelas crochet ini sama dengan belajar knitting, yakni 25.000 per pertemuan, tapi jika ingin ikut sebulan penuh delapan kali pertemuan, maka cukup membayar 150.000 rupiah. Waktu pengadaannya juga persis dengan knitting.
Selain rajut merajut, adapun lipat melipat. Origami awalnya adalah trio, yakni Nia, Dita dan Leni. Kelas melipat kertas ini diawali tahun 2005, saat Tobucil masih di tempat sebelumnya. Awalnya, origami ini menujukan kelasnya untuk lipatan yang menghasilkan modular. Apa itu modular? Awalnya Tobuciler pun bingung, tapi akhirnya tahu juga bahwa modular adalah bentuk-bentuk modular. Nah loh? Jadi menurut Nia alias Tania Fitriyani, pengajar origami yang tinggal sendiri karena dua lainnya pergi, modular adalah bentuk-bentuk semacam bangun ruang, semisal kubus, lingkaran, jajar genjang (adakah?). Modular ini biasanya disusun dari banyak lipatan yang kemudian disatukan. Jika sempat menengok Tobucil, maka bentuk-bentuk yang menurut Tobuciler indah ini akan mudah ditemui di beberapa bagian ruangan Tobucil.
Namun belakangan, Nia memutuskan untuk mengembalikan origami pada pelajaran bentukan. Apa itu bentukan? Yakni bentuk-bentuk bentukan. Bukan itu tapinya, bentukan berarti bentuk-bentuk independen, seperti burung, bunga, kucing, mobil-mobilan, dan sebagainya. Pengembalian ini salah satunya dimaksudkan untuk menjaring kembali peminat melipat kertas yang belakangan cukup menurun. Bahkan di jam origami (tiap Sabtu jam 1 siang), Nia sendiri lebih sering terlihat ikut merajut bersama kelas rajut. Hanya saja, menurut Nia, kelas origami ini justru terlihat peminatnya setiap dia mengadakan workshop secara insidental. Kelas origami sekarang menjadi diadakan berdasarkan tema. Terakhir, tema yang diberikan adalah “Hope the Flowers” dengan biaya 50.000 rupiah untuk dua kali pertemuan. Apa tema untuk bulan Mei? Ikuti terus blog ini untuk mendapatkan infonya.
fotoklabhobi
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin