“Aku menatap lekat pada cermin di hadapanku dan berkata:
‘kamu adalah aku yang tak ada dalam diriku !‘
dan akan terus kucari ”
-status Facebook Andreas Anex -
Cermin adalah benda yang kaya metafor dan misteri. Ia hadir dalam tulisan-tulisan; mulai dari kisah mistik hingga esei. Sifatnya yang memantulkan kembali bayangan benda di hadapannya, menggambarkan kesediaan untuk terus memeriksa dan memperbaiki diri. Secara umum, cermin kita adalah orang-orang di sekitar kita. Rajin bercermin pada mereka, membuat kita pun banyak menemukan diri sendiri.
Namun, Teman-teman, Ibu Tiri Puteri Salju dan Narsisius justru lupa memperbaiki diri karena terlalu banyak bercermin. Kadang kita pun begitu. Pernahkah kamu ada dalam situasi berpikir semacam ini terlalu lama : “Dia orangnya begitu, ya. Kalau saya, sih, enggak.” atau “Untung saya nggak seperti dia”?
Ada kalanya bercermin justru membuat kita luput mencari. Dunia sempit dan semu yang dikungkungnya di balik sekat permukaan dingin, membuat kita lupa pada dunia luas dan nyata yang melingkupi kita tanpa sekat. Terlalu banyak bercermin membuat kita kadang tak ingat, bahwa untuk memperbaiki, bukan bayang dalam cermin yang perlu didandani.
Teman-teman, pada akhirnya Narsisius dan Ibu Tiri Puteri Salju dikhianati cermin mereka. Namun … tunggu, tunggu … siapa yang sebetulnya berkhianat, ya ?
Semoga kita dapat saling bercermin secara semestinya
Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat,
Tobuciler
Bookmark this post: |
5 komentar:
ini charlie ST 12 yah?
Cermin memiliki bagian belakang yang berwarna hitam. Pasti mengartikan sesuatu..
@ Wiku : Ternyata Charlie ST 12 emang punya kembaran yg dari bayi dibuang orangtuanya. Ini dia orangnya, baru ditemuin di event2 seni rupa terdekat ... hehehehe ...
@Nia : Menurut kamu artinya apa kira2 ?
Mungkin bagian hitam berguna untuk menyimpan kejadian2 yang pernah dilihat cermin, kejadian2 yang disimpan sendiri dan tidak akan dipantulkan lagi.
Good point, Ni ... =)
Post a Comment