Sunday, May 17, 2009

Empat K : Klab Klassik Klab Komik

Dua dari antara sekian Klab yang digelar rutin namun bukan setiap minggu di Tobucil adalah Klab Komik Manyala dan Klab Klassik. Minggu ini, mari berkenalan dengan kedua klab tersebut …
KLABKLASSIK : Pada Mulanya

Munculnya ide awal pembentukan KlabKlassik, -uniknya- justru muncul dari penggemar berat musik jazz bernama Dwi Cahya Yuniman. Mas Niman –demikian kami menyapanya- adalah koordinator KlabJazz, sebuah komunitas penyuka musik jazz yang rajin berkumpul di CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Kala itu, sekitar Januari 2005, saya datang ke acara nongkrong mereka, yang juga dalam persiapan penyelenggaraan JazzAid, sebuah konser amal penggalangan dana untuk korban tsunami. Saya tidak sendiri, ditemani oleh Royke Ng dan Christian Reza Erlangga, mendadak kami diperkenalkan sebagai KlabKlassik. Alih-alih menggunakan kata ”klasik”, Mas Niman ingin ”klassik” dengan dua huruf ”s”. Awalnya kami sempat menganggap rancu, tapi perasaan senang lebih mendominasi: kami punya identitas.

KlabKlassik kemudian ikut ditampilkan di acara JazzAid yang berlangsung pada bulan Februari 2005. Jika saya mengingat kembali, formatnya cukup menggelikan. Waktu itu ada saya, Royke Ng, Christian Reza Erlangga, dan Ahmad Indra (semuanya pemain gitar klasik). Kami tampil di panggung berempat, namun tidak dalam bentuk ensembel. Masing-masing memainkan satu lagu bergantian. Sementara yang satu bermain, yang lain duduk termangu. Rangkaian permainan reli itu ditutup oleh lagu Fuoco (karya Roland Dyens) yang ditampilkan oleh Royke Ng. Meski terbilang unik untuk sebuah kelompok musik klasik, tapi saya merasa sambutannya cukup baik. Saat itu, kami melihat secercah harapan baru: apresiasi terhadap musik klasik ternyata punya potensi.

Sejak JazzAid, kami mendapat kesempatan untuk membangun sebuah komunitas di CommonRoom. Meski ”jatah” itu tak banyak, tapi kami berusaha memanfaatkan dengan maksimal. KlabKlassik boleh mengadakan kumpul-kumpul jika dalam satu bulan ada lima minggu. Minggu kelima itulah milik kami. Setiap KlabKlassik berkumpul, suasananya kadang ramai kadang sepi. Ramai biasanya jika kami mengundang musisi ternama seperti Ammy C. Kurniawan dan I Nyoman Mahendra (keduanya violinis) atau memutar video musik yang menarik. Tapi untuk acara diskusi atau nongkrong-nongkrong biasa, peminatnya sangat sedikit. Bisa hanya empat orang atau kurang, bahkan pernah hanya tinggal saya sendirian. Naik turun nasib KlabKlassik ini sempat membuat saya dan kawan-kawan kelelahan. Maklum, saat itu kuantitas peminat masih menjadi ukuran. Padahal, KlabKlassik tidak mewajibkan iuran, semua boleh datang secara gratis. Atas dasar itu, -meniru KlabJazz- kami merasa perlu untuk membuat sebuah even. Even yang sekaligus juga soft launching akan kehadiran KlabKlassik. Lewat even tersebut, kami berharap masyarakat bisa mengenal keberadaan kami, untuk memudahkan sosialisasi visi dan misi kami. Kami memutuskan untuk membuat even bertemakan amal, yang mana judul acaranya didiskusikan bersama Mas Niman. Dalam diskusi tersebut, Mas Niman mengusulkan sebuah nama, yakni Classicares.

Sejak Classicares, kami seperti yang ketagihan membuat even. Meski tidak sesering KlabJazz, tapi kami tetap mengupayakan setidaknya dalam setahun ada minimal tiga acara yang terselenggara.
Komunitas vs Event Organizer
Beberapa konser, karena dokumentasi dan daya ingat saya yang buruk, tak bisa saya paparkan seluruhnya. Selain itu, even-even di atas, -tanpa mengecilkan arti konser yang lain- adalah yang punya kontribusi penting terhadap keberlangsungan klab hingga hari ini. Berbagai konser yang kami selenggarakan tersebut, memang tak jarang membuat kami lebih merasa sebagai event organizer (EO) ketimbang komunitas. Bujukan-bujukan halus secara internal maupun eksternal selalu menggoda kami untuk beralih profil menjadi penyelenggara acara profesional. Menjadi EO memang menggiurkan, apalagi beberapa kali penyelenggaraan konser telah menjadi semacam modal yang lumayan bagi kami. Jadi EO berarti menceburkan diri pada dunia profesionalisme, dimana kami semua berpotensi mendapatkan uang dari setiap kegiatan yang kami selenggarakan. Sebaliknya, uang juga menjadi taruhannya jika kami menemui kegagalan. Dilema ini sempat menjadi perdebatan hangat di antara kami. Ada yang mengusulkan untuk membuat EO yang independen dari KlabKlassik. Artinya, komunitas tetap jalan, tapi EO juga tersedia untuk membantu finansial.
Masukan itu memang ada benarnya juga. Saat finansial tak pernah berhenti jadi persoalan, tiba-tiba datang solusi yang sangat mungkin dilaksanakan. Tapi sebuah pendapat lain tak luput jadi pertimbangan. Katanya, KlabKlassik ini dibangun berdasarkan kecintaan. Seluruh relawan yang menjadi fundamen dalam penyelenggaraan acara, melakukannya karena ada dorongan yang jauh lebih kuat ketimbang uang. Tak dinyana uang adalah penting, tapi karena itu juga, kohesi perasaan bisa melemah, dan dasar segala tindakan lama-lama hanya demi uang semata. Tiba-tiba saja saya merasa, eh masukan yang itu juga benar.
Saat merenungkan setiap orang yang hadir dalam setiap acara kumpul-kumpul klab yang tak konstan itu, ternyata saya sulit untuk memahami alasan mereka. Ada yang sengaja datang dari Subang, ada dokter yang rela meninggalkan istri dan anaknya, ada guru gitar yang mengesampingkan kegiatan gereja, hingga anak kost yang tidak ada kerjaan, namun lebih memilih datang ngalor ngidul bersama kami, ketimbang main game atau berselancar di dunia maya. Sejak kami rajin menyelenggarakan even, kegiatan komunitas otomatis terbengkalai. Tenaga dan pikiran kami seringkali habis untuk persiapan konser. Tapi toh, saat kami memaksakan untuk tetap mengadakan kumpul komunitas dengan resiko program seadanya, mereka-mereka itu tetap datang dengan alasan yang masih tetap tidak bisa saya pahami. Yang lebih mengherankan, saat tenaga dan pikiran mereka kami ajak untuk dihabiskan dalam konser-konser kami, ternyata dengan sukarela mereka bersedia. Hal ini tentu saja mengharukan sekaligus absurd. Dari awal berdiri hingga detik ini, saya pribadi tak pernah berhenti bertanya: sebenarnya apa yang diberikan klab ini, hingga mereka mau merelakan aktivitas kesehariannya, untuk larut bersama keseharian kami yang tak punya kepastian dan kejelasan?

Tanpa perlu menjawab pertanyaan tersebut, saya kemudian memberikan pertimbangan bagi kawan-kawan, untuk membenamkan keinginan menjadi EO. Alasannya kurang lebih persis: jika uang telah menjadi perantara, maka cinta tak lagi sama. Orang-orang yang datang ke klab, pastinya tak berharap mendulang uang, tapi setidaknya mereka punya tempat untuk mengaplikasikan kecintaan mereka. Cinta, barangkali, jika tak diaplikasikan, bisa membusuk dan jadi penyakit yang berbahaya. KlabKlassik, menurut salah seorang bernama Tresna, adalah tempat melepaskan penat dari rutinitas, membantu merefleksikan diri, dan mendapatkan ilmu dari hal yang tak terduga. Konsekuensi dari pertimbangan yang saya ajukan tentu saja: konser tidak usah terlalu banyak, toh kita bukanlah EO. Berkumpul, berdiskusi, berefleksi, dan berbagi pengalaman, mestinya yang menjadi sentral. Even kemudian dibuat, hanya ketika terdapat keinginan untuk memperkuat eksistensi, yang ujung-ujungnya digunakan untuk mengajak orang bergabung di komunitas juga. Ketika kata-kata Tresna yang menjadi acuan, sontak yang lain setuju: klab mesti eksis sebagai komunitas.

Walhasil, di Tobucil, ruang nongkrong kami yang baru selepas CommonRoom, kami mencoba untuk mengkhususkan diri pada kegiatan kumpul komunitas. Terkadang kami mengadakan diskusi dengan mendatangkan narasumber, menjadikan momen tersebut untuk latihan bersama, hingga menyengajakan diri untuk ngobrol tak bertujuan. Dalam setiap kumpul-kumpul itu, saya menjadi tersadarkan juga, bahwa tak menjadi soal tema apa yang dilontarkan, selama hal itu bisa menjadi jembatan mereka untuk bersosialisasi dan berefleksi. Keinginan kami untuk konsisten di jalur komunitas ini, tentunya tak membuat godaan menjadi EO lantas surut. Hanya saja, ketika bisikan halus itu datang, tak henti-henti saya mengingatkan diri, bahwa jalur yang saya pilih ini, -meski tak populer- tetap datang dari lubuk hati saya yang terdalam.

Epilog
Berbagai kegiatan yang kami telah lakukan, ternyata membuat kami tak pernah berhenti melakukan kritik diri. Kritik diri itu berkaitan dengan identitas, visi dan misi, serta tujuan kami. Memang di tengah jalan, perubahan adalah wajar. Misal, kami pernah menginginkan KlabKlassik sebagai komunitas yang mempopulerkan musik klasik dalam gaya dan lebih lentur dan fleksibel. Dalam prosesnya, kami tiba-tiba ingin menjadi komunitas yang terdepan dalam mempertahankan musik klasik dalam akarnya yang terkuat, atau dalam bahasa lain, komunitas yang fundamentalis. Entah di sebelah mana kami kali ini, yang pasti kami menikmati kelenturan bentuk tersebut: diajak serius mangga, diajak santai hayu. Pada akhirnya, mungkin KlabKlassik lebih tepat disebut ruang ketimbang komunitas. Jika komunitas secara harfiah berarti kumpulan orang, maka ruang adalah tempat dimana orang-orang itu berkumpul. Ruang sebagaimana adanya, tak berhak mengintervensi orang-orang untuk melakukan ini-itu. Yang ada barangkali cuma koridor, yang menjaga agar kumpulan individu itu tak meliar melampaui fungsi ruang yang kami sediakan. Yang pasti, di tengah kompleksitas kehidupan manusia dewasa ini, dimana generasi MTV telah berkuasa dan berhak menentukan nilai-nilai musikalitas sesuka hati berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pasar, maka tujuan kehadiran kami sebatas menyuguhkan probabilitas pada masyarakat: musik klasik belum mati.
diskusiklabklassik
Klab Komik Manyala dan Tambak Udang Galah
“Klab Komik” adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh Komunitas Cergam Bandung Manyala. KCB Manyala sendiri adalah persataun dari komunitas-komunitas cergam di Bandung, antara lain Funco Unikom, Tribe Studio, Sekolah Komik Pipilaka, dan komunitas-komunitas cergam lainnya. “Kelemahan komikus Indonesia kan mereka sangat individualis,” ungkap Asiza, humas KCB Manyala.
Klab Komik Manyala berkegiatan di Tobucil dengan tujuan memperluas segmentasi. “Biar yang ikut nggak cuma anak-anak komik,” ungkap Asiza lagi. Klab Komik Manyala pertama kali diadakan di Tobucil pada awal tahun 2008. Apa materinya ? “Proses penambakan udang galah bagi kemajuan komikus Indonesia. Sejam cuma mbahas udang galah itu apa, hehehe,” ujar Gide. Hmmm … kok terdengar aneh, ya ?
Sampai saat ini, KCB Manyala masih terus berkegiatan. Mereka bertujuan membagi pengetahuan dan informasi mengenai dunia komik. “Banyak orang yang nggak bergabung di komunitas komik, tapi ingin belajar lebih jauh tentang komik,” ujar Harlis, salah satu peserta Klab Komik hari itu.
Kita doakan saja KCB Manyala dapat terus mendukung kemajuan dunia perkomikan.
Ingin serta di acara-acara Klab Komik Manyala ? Boleh sekali. Pantau kabarnya di blog ini ^_^
titabackinbandung
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin