Klab Nulis
Ada “dua bersaudara” Klab Nulis di Tobucil. Setelah “Klab Nulis Eksperimental” yang digawangi Sophan Ajie cukup stabil berdiri, lahir sang adik ; “Klab Nulis Kreatif untuk Anak-anak” bersama Sundea. Seperti apa kegiatan kakak beradik ini ? Yuk berkenalan …
Klab Nulis Eksperimental
Cikal bakal Klab Nulis dimulai pada tahun 2002 di Trimatra. “Dulu pemandunya Dien Faqri Iqbal, dosen Psikologi Unpad. Awalnya dia pengen ngembangin nulis sebagai terapi,” cerita Mbak Tarlen. Setelah Mas Iqbal pergi, Klab Nulis sempat berganti-ganti fasilitator. Akhirnya Tobucil menetapkan sistem kursus. Sejak Juni 2008, berdirilah Klab Nulis Eksperimental dibawah asuhan “Kak Ophan”
“Sampai angkatan ke dua, saya ngerasa belum nemu polanya. Baru ketemu pas angkatan ke-3,” ungkap Ophan. Kini Klab Nulis sudah memasuki angkatan ke-5. Jumlah peserta semakin banyak dan kegiatan pun semakin seru. “Yang jadi ciri khas kita sidang karya. Itu mulai ada pas angkatan ke-3,” ujar Ophan. Menjelang akhir pertemuan, setiap peserta Klab Nulis ditugaskan membuat karya sebagai tugas akhir. Setelah proses bimbingan, karya itu diuji di sidang terbuka. Juri yang didatangkan pun tidak sembarangan. Ada Mbak Anjar (penulis novel dan cerpen yang sangat produktif) dan Mas Paskalis (penggiat kesenian berlatar belakang filsafat Universitas Parahyangan).
Karena kuatnya ikatan emosional antara para peserta Klab Nulis, kini diadakan semacam ikatan alumni dan forum diskusi yang berkumpul setiap hari Kamis jam 6 sore.
di Klab Nulis eksperimental
Klab Nulis Kreatif untuk Anak
Klab Nulis Kreatif untuk Anak dimulai pada bulan April 2009. Berikut ini adalah wawancara Tobuciler dengan dirinya sendiri.
Tobuciler : Halo Sundea
Sundea : Halo …
Tobuciler : Apa kabar ?
Sundea : Ah, pura-pura nggak tau, deh … kamu kan saya-saya juga …
Tobuciler : Hehehe … iya, ya. Katanya kamu ndiriin Klab Nulis untuk anak-anak, ya ? Tujuannya apa, sih ?
Sundea : Hmm … sederhana, sih … Dea pengen bikin nulis jadi kegiatan yang menyenangkan untuk anak-anak. Anak-anak sebetulnya imajinatif dan penangkap yang baik untuk banyak hal di sekitar. Mereka juga metaforik, lho, sebab setiap kegiatan bermain itu metaforik … betul kan ? Kamu pasti setuju.
Tobuciler : Ya iyalah, pasti setuju. Terus ?
Sundea : Hmmm … tapi, kalo Dea peratiin, banyak anak yang ngenal nulis sebagai sesuatu yang formal dan akademik karena mereka kenal nulis cuma di pelajaran sekolah. Padahal nulis itu sarana bermain yang tak terbatas. Mereka bisa ngungkapin apa aja dan dengan khayalan sebebas-bebasnya. Pernah nonton “Bridge to Therabitia” ?
Tobuciler : Kalo kamu udah pernah, pasti saya juga udah pernahlah …
Sundea : Nah, iya, kayak gitu prinsipnya. Di Klab ini, Dea pengen ngerangsang anak untuk bermain dan mengungkapkan. Lagian, ya, nulis itu sarana refleksi yang baik, lho. Kalo dari kecil anak-anak udah biasa nulis, sejak dini mereka belajar ngeliat ke dalem dan keluar serta cermat menangkap berbagai makna di sekitarnya. Ada banyak hal yang baru kita sadarin setelah ditulis.
Tobuciler : Oh, gitu (ngangguk-ngangguk). Sekarang anak didikmu berapa ?
Sundea : Dua. Kayla dan Reni. Sekarang mereka lagi belajar bikin karakter dan berpura-pura jadi karakter yang mereka bikin. Seru kaaaan ….
Tobuciler : Oh, iya, iya … seru juga. Klab Nulis anak ini tiap hari apa jam berapa, sih ?
Sundea : Jumat jam tiga sampai jam lima sore. Setelah angkatan ini selesai, kita bakal buka pendaftaran lagi, lhoo. Tunggu aja, ya …
Tobuciler : Sip, sip …
Informasi lengkap mengenai biaya pendaftaran, fasilitas, dan waktu akan menyusul. Pantau terus blog Tobucil …. =D
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment