Sunday, May 10, 2009

Klab Puisi, Riwayatmu Kini

Klab Puisi
Ketika Tobuciler menanyakan kabar Klab Puisi, Kang Iman Abda tiba-tiba tampak salah tingkah. “Kayaknya … aduh … gimana, ya ? Itu, tuh … aduh, njawabnya susah …” Lho ? Kenapa susah ?
Pernah pada suatu masa, saban Jumat sore beranda Tobucil penuh dengan pujangga. Atas prakarsa Kang Iman yang lebih dulu rajin datang ke Tobucil, mereka berkumpul untuk berpuisi ; mulai dari menulis, membaca, mengapresiasi, hingga akhirnya menyusun sebuah bunga rampai puisi.
Sempat juga Klab Puisi mendatangkan Ayanda, seorang penulis puisi dari Afrika Selatan. Dengan IBS sebagai penerjemah bahasa Inggris, Ayanda membagi pengalamannya di dunia sastra. Ia bercerita mengenai kebebasan ekspresi di negaranya, seperti apa kondisi masyarakatnya, kepercayaan yang mereka peluk, dan bagaimana semua itu berpengaruh dalam karya-karyanya. “Saya juga banyak terinspirasi dengan Tupac Shakur,” sebut Ayanda ketika itu.
Pada salah satu petemuan reguler, teman-teman Klab Puisi pernah juga membaca puisi dengan cara yang unik. Mereka memilih salah satu puisi lalu membacakannya serempak dengan suara keras dan ekspresi sebebas-bebasnya. Cukup heboh. Ada yang naik ke atas meja, ada yang bergaya teatrikal lengkap dengan kostum, ada yang tidur-tiduran …
“Terus udahannya kenapa ?” tanya Tobuciler . “Yaaa … beberapa teman punya agenda masing-masing. Dan saya sendiri juga banyak kesibukan, sempat ke Flores segala,” sahut Kang Iman.
Kini beberapa teman Klab Puisi bergabung dengan Ngopi (Ngobrolin Puisi) di Babakan Siliwangi, Majelis Sastra Bandung di Gedung Indonesia Menggugat, “Ada juga yang balik ke UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), soalnya mereka kan rata-rata anak UPI,” jelas IBS, salah satu mantan aktivis Klab Puisi yang masih terus melekat di Tobucil, terutama untuk menghadiri madrasah filsafat. “Sebelumnya (sebelum Klab Puisi berdiri) memang sudah ada ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) di UPI,” ujar Kang Iman. Lalu apakah Kang Iman juga membentuk komunitas puisi yang baru ? “Ah, saya mah kan partikel bebas,” Kang Iman tertawa kecil.
Klab Puisi di Tobucil berlangsung sejak Agustus 2007, hingga setelah Lebaran di tahun 2008 2007.
Hmmm … tampaknya Klab Puisi memanfaatkan momentum bermaaf-maafan secara maksimal. Kenapa ? Karena seusai Idul Fitri, mereka seakan-akan berkata, “Maaf, kami tidak berkumpul di Tobucil lagi …”
… lalu Jumat sore di Tobucil sempat lengang.
Di sana, deklamasi Klab Puisi hanya menyisakan gaung yang ilusif …
kangimanabda
Kang Iman Abda

Google Twitter FaceBook

2 komentar:

IBS said...

dea, sedikit ralat aja ya? klab puisi berakhirnya pada lebaran 2007, bukan 2008. Emang singkat banget, cuma beberapa bulan. Tapi, momen itu ga bisa aku lupain begitu aja, soalnya aku jadi kenal banyak banget penyair dari Bandung maupun luar Bandung. Hiks... duh, kok jadi kangen gini sih sama klab puisi? (~_~)

tobucil said...

Makasih koreksinya, ya, IBS ... udah dibenerin ...

Wah, jadi terharu. Langsung inget "Gone too Soon"-nya Michael Jackson, nggak, sih?

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin