Sunday, May 10, 2009

Tobucil Tak Hanya Toko Buku

 

Tobucil seyogianya adalah toko buku. Tapi jika sempat-sempat berkunjung, maka istilah “toko buku” yang selama ini dalam bayangan mungkin langsung saja hilang. Mana ada di toko buku ada kegiatan rajut merajut, ada manajer yang merangkap kasir, dan komunitas yang nongkrong-nongkrong membincangkan apapun mulai dari perempuan hingga Tuhan. Di bawah ini akan dibahas, mengapa Tobucil jadi demikian. Dan oleh karena ketiga orang itu, maka Tobucil tidak akan sedemikian lekat dengan merknya selama ini yang erat dengan berbagai kegiatan. Siapakah mereka? Mari kita sama-sama kenalan.

 

Palupi Sri Kinkin dan Tahi Lalatnya

Namanya Palupi Sri Kinkin. Kami biasa memanggilnya Mba Upi, tentunya bukan karena dia lahir pada 19 Juli 1978. Anak bungsu dari empat bersaudara yang mana salah satu kakanya bernama Tarlen Handayani ini, menulangpunggungi Tobucil dengan berbagai aktivitas barang dan jasanya. Sejak belajar merajut tahun 2000 di Indotrio pada guru yang Mba Upi sendiri lupa namanya, rajut seolah menjadi tahi lalatnya Mba Upi. Seolah menampik hal itu, maka Mba Upi menceritakan bahwa ia juga senang mengajar di Semi Palar, senang Vivaldi, dan pepatah Bob Marley: ”Everything will gonna be all right”. Apa pendapat Mba Upi tentang Tuhan? Katanya Tuhan itu ada. Jika ingin belajar rajut dan membeli benang serta stik rajut, maka datang saja ke Tobucil dan hubungi Mba Upi. Tapi sebelumnya akan diceritakan bahwa Mba Upi mengajar rajut sejak tahun 2003 kala Tobucil masih di Kyai Gede Utama no. 8. Setelah Tobucil pindah ke Aceh no. 56 tahun 2006, Mba Upi tak hanya mengajar, tapi juga berdagang. Apa barang yang ia dagangkan? Stik rajut dan benang, ya itu tadi. Jika melihat ke ruang belakang kasir Tobucil, maka kita akan disuguhi pemandangan mengerikan yakni benang-benang bergelimpangan. Lalu ketika kita menengok ke sebelah kasir Tobucil, maka kita akan saksikan pemandangan mengharukan yakni stik-stik rajut bertelentangan. Semuanya dijual, dan alhamdulillah laku kata Mba Upi. Maka wajar bukan jika Tobuciler menyimpulkan aktivitas Mba Upi menulangpunggungi Tobucil? Tidakkah semestinya jika Tobuciler menganggap rajut sebagai tahi lalatnya Mba Upi? Tidakkah juga seharusnya jika Mba Upi berpendapat bahwa muridnya, Rudi, adalah anak yang pintar sekaligus bandel dan susah diatur?

 

resizedipake Mbak Upi (kiri) dan muridnya

 

Elin Purwanti Ibunya Angga

Anggaraksa Rizky Chandra. Itu nama anaknya. Ibunya adalah Elin Purwanti alias Mba Elin alias Elin Dolores (red). Lahir pada tanggal 25 Mei tahun 1979, ia memulai karirnya di Tobucil sebagai administrasi freelance. Di tahun 2005 itu, Mba Elin hanya bertahan beberapa bulan sebagai freelancer, jadilah ia datang cukup sering dan boleh dibilang bekerja tetap. Tak cuma membereskan administrasi, tapi Mba Elin juga menjebakkan dirinya pada situasi yang nampaknya akan menghantuinya sepanjang masa, yakni urusan sumber daya manusia alias para kasir Tobucil. Awalnya, para penjaga Tobucil tak terjadwal macam sekarang ini, semuanya menanti panggilan Mba Elin. Niken, Dini, dan Pam adalah nama-nama yang kala itu harap-harap cemas menanti telepon dari Mba Elin untuk ditentukan nasib giliran jaganya. Prahara ini berakhir ketika Mba Elin menemukan Tanti dan Manda. Tanti punya waktu untuk bekerja penuh Senin hingga Jumat, sedangkan Manda Sabtu Minggunya. Oia, cerita tadi adalah kisah Tobucil di Kyai Gede Utama no. 8. Pindah ke Aceh? Hantu SDM ini masih bergentayangan. Setelah kehilangan duet Tanti-Manda, Tobucil diganti kuartet Laras – Ocha – Andre dan Mba Elin sendiri. Keempatnya cukup kompak, sebelum Mba Elin memutuskan untuk cuti hamil. Kenapa hamil? Tak perlu dijelaskan. Trio yang ditinggalkan itu kadang kompak kadang tidak, tapi intinya akhirnya ketiganya bubar satu per satu sama dengan satu. Sekiranya Tobucil pernah empat kali mengadakan perekrutan resmi, yakni lewat prosedur iklan, lalu interview. Sayangnya, menurut Mba Elin, hasil perekrutan ini biasanya kurang memuaskan. Alasannya? ”Yang bisa bekerja disini, adalah orang yang Tobucil banget,” katanya. Tobuciler buka di kamus, apa definisi ”Tobucil banget”? Tak ada, jadi bertanyalah pada Mba Elin. Jawabnya, ”Orang yang senang dengan kegiatan Tobucil, dan merasa Tobucil adalah rumah keduanya.” Siapkah kuartet terkini kasir Tobucil yakni Ipey – Harish – Yuchan – Moel menyandang predikat ”Tobucil banget”, dan mengusir hantu SDM dari tubuh Mba Elin untuk selama-lamanya?

Wiku Pedia dan Hubungannya dengan Wikipedia

Jika mengetik www.wikipedia.org di kolom web address, maka akan keluar situs wikipedia. Kali ini Tobuciler akan membahas itu. Wikipedia ini lahir pada tanggal 7 September 2009, dan namanya Wiku Pedia. Adakah hubungannya? Sepertinya tidak. Benarkah lahir tahun 2009? Sepertinya juga tidak. Apakah namanya juga Wiku Pedia? Jangan-jangan iya, tapi sebenarnya bukan. Wiku Baskoro adalah koordinator berbagai aktivitas komunitas di Tobucil alias koordinator klab. Perannya cukup sentral, dan membuat nama Tobucil & Klabs terasa relevan. Wiku mulai nongkrong di Tobucil sejak tahun 2004, pastinya kala Tobucil masih di Kyai Gede Utama no. 8. Selama tiga tahun nongkrong, ia ditawari jabatan mulia ini oleh Mba Tarlen, pemilik Tobucil. Menurut Wiku, semua klab yang ada di Tobucil kooperatif. Tapi ia memberi kredit pada Klab Nulis, karena hak dan kewajibannya yang jelas. Serta Klab Rajut, yang banyak peminat dan bisa cross support ke jualan barang-barang hobi. Selama bekerja, tentunya ia juga punya pengalaman pahit dan manis. Pahitnya, katanya, jika ia sedang minum jamu. Tapi tidak pernah ada tukang jamu datang ke Tobucil, jadinya ia bilang saja bahwa pengalaman pahitnya adalah jika ada yang mengkritik asal-asalan tentang klab tanpa tahu apa-apa. Tapi sebaliknya, yang manisnya, adalah jika ada yang merasa klab yang ia ikuti bermanfaat dan apalagi jika di klab-klab tersebut ada yang benar-benar manis, tahu kan maksudnya? Wiku pun punya moto hidup yang mirip-mirip dengan Socrates, yakni ”hidup yang tidak teruji, tidak layak untuk dijalani” ini sehari-harinya bekerja sebagai owner lawang buku distributor, manajer LAB design, penikmat komunitas, free lance blogger, dan wartawan foto gadungan. Pesan sponsor: ”Kalo punya facebook, ikutan wikupedia donk, dan juga fans wikupedia juga.. hahahaha…”

mbakelindanwiku Mbak Elin dan Wikupedia

 

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

2 komentar:

vbi_djenggotten said...

oalah...gitu to...
(sambil mantuk-mantuk)...

tobucil said...

Iya, gitu ... (ikutan mantuk-mantuk)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin