Sunday, May 17, 2009

Wiku, Ini Wordless Comic atau Worthless Comic ?

 

-Tobucil, Kamis 14 Mei 2009-

Klab Komik Manyala

“Nggak semua komik tanpa kata harus kontemplatif,” ujar Asiza, fasilitator workshop “Wordless Comic” hari itu. Selanjutnya, ia membagikan beberapa lembar potongan kertas kepada setiap peserta workshop, meminta mereka menggambar komik tanpa kata dalam tiga panel.

Kendati bukan pengomik bahkan cenderung tak bisa menggambar, Wikupedia dan Tobuciler turut serta. “Oh, ini teh maksdunya ‘wordless’ tanpa kata? Gua kirain ‘wireless comic’,” kata Wiku pada Tobuciler. “Terus kalo ‘wireless comic’ artinya apa ?” tanya Tobuciler. “Teuing (nggak tau), gua kira bahasa komik aja … hehehe …,” sahut Wikupedia, mempertegas keawamannya akan dunia komik-mengomik.

Panel tiap peserta dioper dan dioper lagi kepada peserta yang lain. Setiap peserta ditugaskan menambah panel yang ada dengan lanjutan cerita. “Gambarnya nggak harus bagus, yang penting orang ngerti apa yang mau disampein lewat gambar itu,” ujar Asiza sambil memantau pengoperan yang sedang dilakukan.

“Yang nggak bisa nggambar harus kreatif,” tekad Wiku. Ada-ada saja idenya. Untuk memanjang-manjangkan scene, di salah satu panel komik Gide, ia menggambar sekedar pohon kelapa di tanah. “Ini maksudnya apa ?” tanya Gide. “Ya … ada setting kosong dulu sebelum aksi,” sahut Wiku ringan.

Setelah dioper beberapa kali, tiap peserta diminta membuat ending komik di hadapannya. Wiku kembali membuat kegaringan luar biasa. Sebagai ending, ia hanya menggambar sang tokoh yang marah-marah sambil menghitung jumlah seluruh panel gambar yang ada. DHIERRR !!!!

endingbywikupedia

Setelah workshop komik rampung, Wiku tersenyum-senyum sumringah, “Asik juga, ya, sekali-sekali jadi yang inferior …”

Hmmm … Wik … sebetulnya kata-kata itu tercetus karena kamu memang senang atau sekedar kompensasi, ya ? Hehehe …

 

wikupedia

Wikupedia sedang mengomik

Sundea

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin