Sunday, June 7, 2009

Antara Harvey Pekar dan Rudi Rajut

-Tobucil, 6 Juni 2009-

Klab Nonton

Namanya Harvey Pekar. Ia sering sekali menggerutu. Penyebabnya, karena hidupnya selalu dalam celaan, dan kebahagiaan seolah urung menghampirinya. Pekar nyaris kehilangan arah, sebelum ia bertemu Robert Crumb, seorang komikus. Dalam keputusasaan, Pekar ternyata jeli menangkap absurditas kehidupannya sebagai sesuatu yang pantas diangkat. Di masanya, tahun 70-an, Pekar melihat bahwa komik kebanyakan hanya menceritakan dunia fantasi atau superhero. Lantas Pekar menawarkan idenya pada Crumb: untuk mengomikkan kehidupan kesehariannya. Crumb setuju, dan lahirlah komik American Splendor, yang mana pada awalnya, Pekar sendiri yang menerbitkan.

”Rud, tontonlah film ieu, maneh pisan lah.” Itu kata Wiku pada Rudi Rajut sebelum acara pemutaran film di Klab Nonton Sabtu kemarin. ”Kenapa, Mas Wiku?” tanya Rudi. ”Nya pokona nonton we lah, pokona maneh pisan,” kata Wiku yang artinya jangan banyak tanya, Rud. Klab Nonton hari itu yang datang ada lima orang termasuk Tobuciler. Filmnya berjudul American Splendor, yakni kisah nyata mengenai, ya itu tadi, Harvey Pekar. Kisahnya dikomikkan, lalu diangkat menjadi film oleh sutradara Shari Springer Berman. Pekar dalam film ini diperankan oleh Paul Giamatti, biarpun kadang-kadang Pekar yang asli juga ditampilkan.

Lewat komik American Splendor –isinya betul-betul kegiatan harian, seperti masalahnya dengan mobil, wanita, bosnya, hingga berbagai kecemasan dan gerutuannya secara detil-, Pekar berkembang menjadi seorang yang dikenal. Komiknya laku dan ia sering diundang ke acara-acara talkshow yang terkenal di Amerika. Lewat kelarisan komiknya itu pula, Pekar menemukan wanita yang kelak menjadi istrinya, yaitu Joyce Brabner. Keduanya kemudian mengadopsi anak bernama Danielle, yang mana akhirnya mereka semua hidup bahagia selama-lamanya. Oh, itu klise sekali, tidak-tidak seperti itu, Pekar masih Pekar, masih penggerutu dan pecinta absurditas, karena itulah barangkali ia dikenal.

Seperti halnya komiknya, film American Splendor pun tak lebih dari sekumpulan pengalaman harian Pekar. Tak ada lonjakan konflik berarti, kecuali pergulatan antara Pekar dan absurditasnya sendiri. Tapi barangkali, sebagai sebuah sajian eksistensialis dan anti-hero, tema ini justru menarik. Ditambah gaya tutur yang sesekali mengadopsi gaya komik, American Splendor sungguh sebuah tontonan yang penting bagi Rudi Rajut. Benarkah begitu Rud? Sudahkah bertemu apa kesamaanmu dengan Harvey Pekar? Ada Klab Komik Manyala, Rud, jika dirimu kelak ingin menggambarkan keseharianmu

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin