-Gedung Indonesia Menggugat, Jumat 29 Mei 2009-
“Naaah ... ini merupakan karya pribadi saya yang mendapat sponsor benang dari Tobucil,” ujar Moel saat foto diri dan boneka karyanya tampil di slide, “Namanya Mogu, yang singkatan dari monster gurita sebenarnya …”
Meski baru mengalami kecelakaan motor, Moel, yang sudah berlatih dengan sungguh-sungguh, tetap datang untuk mempresentasikan Klab Hobi di ajang Pecha Kucha. Dua puluh slide yang ditampilkan hanya dalam tempo dua puluh detik saja tampak cukup efektif menjejakkan kesan. Selain karena pembawaan Moel yang ringan dan lugu, foto pria bertato yang asyik merajut rupanya mengejutkan hadirin. Ada yang tertawa, ada yang terkesiap, ada pula yang langsung berkomentar macam-macam. Stereotipe “merajut hanya untuk perempuan dan nenek-nenek” sepertinya masih lekat. Padahal apa yang salah dengan pria merajut ?
Di Tobucil, pria dari berbagai profesi dan latar belakang merajut tanpa beban. Mereka yang pemusik, pengusaha, mahasiswa, sampai wartawan harian umum menjalin benang silaturahim sambil menjalin benang-benang rajutan mereka. Dengan bangga mereka menamakan diri mereka “The Men Who Knit”.
Pssst …hari itu seorang pria bernama Rano mendapat hadiah door prize sumbangan Tobucil. Isinya antara lain seperangkat peralatan merajut. Meski sempat tampak terkejut, pada akhirnya Mas Rano tersenyum sumringah. “Gimana, Mas, rasanya dapet hadiah ini ?” tanya Tobuciler. “Senang. Unik,” sahutnya.
Hmmm … kira-kira apakah Mas Rano akan menjadi anggota “The Men Who Knit” yang berikutnya … ?
Mas Rano (tengah) bersama kawan-kawan
The Man Who Crashed
“Moel kecelakaan,” Mbak Upi mengabarkan. Beberapa jenak kemudian, Mbak Upi dan Tobuciler sudah berada di atas motor, berangkat menjenguk Moel dengan perasaan cemas. Jangan-jangan keadaan Moel cukup parah …
Ternyata, Teman-teman, Moel terlihat baik-baik saja. Meski tangannya kaku terkilir, Moel tampak cengar-cengir dan bahagia-bahagia saja. “Gimana, sih, kecelakaannya ?” tanya Mbak Upi. Moel pun bercerita tentang ketidakhati-hatiannya mengendarai motor hingga tertabrak oleh motor lain di dekat Kantor Kursus Pajak, tidak jauh dari Tobucil.
“Terus kenapa bukan balik ke Tobucil aja ? Bisa jalan kan ?” tanya Mbak Upi lagi. Moel cengar-cengir. Rupanya ia yang terkapar dramatis di pinggir jalan membuat seorang yang baik hati melarikannya ke Rumah Sakit Sariningsih. “Ih, bukannya balik ke Tobucil aja. Jelas-jelas Rumah Sakit Sariningsih lebih jauh daripada Tobucil,” tukas Tobuciler, entah harus geli atau sebal.
Meski sempat memutuskan untuk langsung pulang dan menyerahkan tugas presentasi kepada Wikupedia, secara impulsif Moel tiba-tiba mucul bagai hantu di Gedung Indonesia Menggugat.
Malam itu, Moel Sang Seniman kerajinan tangan itu jadi juga menularkan semangat crafty-nya.
Meski satu dari tangan terampilnya terpaksa menggantung kaku …
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment