Sunday, July 5, 2009

Artifisial


Pagi ini, ketika sedang mengetik editorial blog, cahaya matahari mendobrak jendela rumah Tobuciler. Tobuciler pun mematikan lampu. Cahaya natural telah datang, maka cahaya artifisial boleh beristirahat.

Meski sudah bekerja di bawah cahaya natural, Tobuciler tak melupakan jasa sang cahaya artifisial. Tanpa dia, pukul lima pagi Tobuciler harus bekerja di tengah kegulitaan. Matahari tak dapat dipaksa terbit lebih awal hanya karena Tobuciler ingin menulis di pagi buta, bukan ?

Artifisial tak melulu bermakna negatif. Kadang ia justru melengkapi yang natural dan membuktikan perkembangan peradaban manusia. Pada proporsi yang tepat, ia menutupi kekurangan dan membuat yang mustahil jadi mungkin. Ia juga mengisi kekosongan ; ambil contoh taman artifisial di belakang rumah dan aplikasi bunga-bunga di baju dan tas. Percakapan basa-basi kadang membawa kita pada keakraban tidak terduga. Mencoba tersenyum secara artifisial pun kadang memancing senyum tulus dalam diri kita sendiri.

Minggu ini blog Tobucil mencoba memaknai artifisial secara adil. Ada bunga-bunga artifisial di Tobucil, buku petunjuk membuat figur artifisial dari lempung, matahari artifisial dari air jeruk, keindahan artifisial di kota Bandung, tugas kuliah artifsial yang dibuat secara instant, sampai artifisial yang disandingkan dengan artifiuntung.

Setiap hari kita dikelilingi oleh keartifisialan di sana-sini.

Namun apresiasi yang ditimbulkan karena hal-hal artifisal pun bisa natural sifatnya.

Semoga minggu ini jadi minggu yang penuh keindahan dan apresiasi

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

papatongpalsu

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin