Sunday, July 5, 2009

Cantik Itu Matematika (h?)

 

-Tobucil, Rabu 1 Juli 2009-

Madrasah filsafat

mashehi Mas Heru Hikayat membawa kegelisahannya tentang kecantikan ke tengah madrasah filsafat. “Saya terinspirasi dari film yang judulnya Human Face dengan anak judul ‘Beauty’,” ungkap Mas Heru. Menurut film tersebut, kecantikan bisa diukur secara matematis. Perhitungan idealnya disebut “the golden proportion” ; 1:1,618. Perbandingan ini dapat diterapkan pada tubuh, juga kecantikan wajah. “Pelari cepat itu enak dilihat, setelah diperhatikan, karena tubuh mereka simetris,” ujar Mas Heru. Dalam film Human Face-pun dilakukan percobaan terhadap bayi. Bayi-bayi yang diperlihatkan wajah “simetris” cenderung lebih tenang. Lalu bagaimana dengan paham “cantik bisa dikonstruksi” yang marak beredar ? Bagaimana dengan Sophia Loren, Devon Aoki, dan Julia Roberts yang secara wajah dianggap tak proporsional namun tetap menjadi ikon kecantikan ? Ketika wacana dilepas, peserta madrasah filsafat berkesempatan mengungkapkan pendapat mereka.

“Mungkin yang dilihat para bayi adalah rekaman ekspresi,” Mbak Echie mengungkapkan kecurigaannya. Menurut Mbak Echie, dalam film pada umumnya, orang-orang yang berwajah “buruk” ditampilkan sebagai penjahat yang otomatis berekspresi tidak ramah. Sementara, orang-orang dengan wajah “enak dilihat” menjadi sosok protagonis yang senantiasa ramah secara ekspresi. “Lagian yang diteliti bayinya siapa ? Kalo bayinya ‘orang proporsional’, dia nangis karena yang ‘buruk’ itu asing aja buat dia,” tambah Tobuciler.

Menurut Theo, cantik juga berkenaan dengan attitude. “Misalnya Miranda Kerr, model Victoria Secret. Dia dipilih karena juga pintar,” ujar Theo. Sependapat dengan Theo, Mbak Tenny berkomentar mengenai inner beauty. “Awalnya biasa saja. Sesudah kenal, menyukai cara dia bersikap, tau-tau seperti ada yang bersinar-sinar dan seseorang itu jadi tampak ganteng sekali.”

“Menurut saya, cantik bisa berubah-ubah. Hari ini bisa cantik, besok bisa lain lagi,” pendapat Mas Dauz. Rudy pun sependapat dengan Mas Dauz. Lalu apa tolok ukur kecantikan ? “Pada akhirnya gimana keberanian kita mengambil sikap menentukan apa itu cantik menurut persepsi kita, bukan berdasarkan refrensi saja,” kata Mas Ami, sang kepala sekolah, dengan gaya yang sangat kekepalasekolahkepalasekolahan … hehehe …

Tahu-tahu dari pojok beranda Tobucil, Mas Frino yang selama madrasah filsafat berlangsung sibuk mempercantik motor CB-nya, bernyanyi-nyanyi lantang, “Benci-benci-benci, tapi rindu juaaaa ….” “Nah itu. Ada benci tapi ada rindunya. Ada cantik, lalu tidak menarik,” tanggap Mas Iman Abda. Jangan-jangan itulah pemahahaman “proporsional“ yang sesungguhnya dari kecantikan. Ia diidentifikasi dengan pemaknaan yang terus bergerak mencari titik seimbang.

“To me the most important thing is the sense of going on. You know how beautiful things are when you're traveling,” kata Edward Hopper.

Sesungguhnya, kecantikan itu tidak statis.

Sundea

penyanyi benci tapi rindu

 

 

 

 

 

 

Mas Frino

2 komentar:

Elsara said...

Hehe.. mungkn sitilah yg tepat bukan simetris. Karena saya juga pernah baca tentang 'teori' ini, kalau bayi lebih tenang/suka jika diperlihatkan wajah cantik dan tampan.

Kalau masalah simetris, sebenarnya tubuh setiap orang pasti berbeda antara sisi kiri dan kanan, termasuk jg wajah. Ada satu buku menarik (saya lupa judulnya) yg memperlihatkan bagaimana jadinya kalo sisi kanan dan kiri wajah kita benar2 persis sama (simetris). Kebetulan dlm buku itu salah satu model yg dijadikan contoh adalah Hillary Clinton. Dan menurut saya, hasilnya justru menyeramkan! Tapi gak tau juga ya kalau ternyata memang ada orang yg terlihat cantik/tampan dan kebetulan wajahnya simetris. Hehe

tobucil said...

Makasih, ya, Mbak Elsara ... =D

Bagaimana MHH alias Mas Heru Hikayat ? Mau menanggapi ... ? ;)