Sunday, July 12, 2009

My Beautiful Daddy

Ceritanya saya pengen membahas tentang ayah di siaran saya [biar nyambung sama Fathers Day, maka lahirlah tulisan ini]. Pas saya lagi di angkot, pulang dari Sky, tiba-tiba saya kepikiran tentang ayah saya, atau yang biasa saya sebut papa.[Gue suka banget nulis tentang papa, ini postingan ke tiga gue tentang dia. Satunya puisi. Siapa tau besok-besok gue bisa nulis otobiografinya hehe]


Begini, saya sebenarnya masih ada utang janji yang sama dia, yang belum bisa saya penuhi sampai sekarang. Kita itu mirip, bukan hanya dari segi fisik kita yang mirip, tapi juga kebiasaan membaca saya yang juga menurun darinya. Dulu banget papa beli buku gadis penjual korek api, dan itu yang akhirnya menjadi buku pertama yang saya punya. Balik ke utang, papa saya lagi nitip satu buku yang sampe sekarang belum bisa saya kirim [bukunya Men are from mars and Women are from Venus, yang rencananya awal bulan baru gue kirim, sabar ya paps ;-( ] yang bikin saya juga akhirnya kepikiran beberapa hari ini, jangan bilang saya anak kurang ajar ya temans hehe..


Papa, itu bukan sosok sempurna di mata saya. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Pas dia angkot pikiran saya kemana-mana, salah satunya tentang dia. Memang sih kita sudah jarang sekali berkomunikasi, saya jarang sekali nelpon. Tapi sosok Papa buat saya itu lebih dari apapun. Berikut ini adalah beberapa yang menarik yang nempel di kepala saya sebagai anak perempuannya:


Omongan Papa adalah omongan ke dua yang saya turutin setelah Tuhan. Papa saya adalah orang yang ngga banyak ngomong. Minim sekali. Simpel. Dan tipe yang sekali ngomong, ngga pernah basa-basi dan to the point! Ini yang membuat dia selalu di panggil sebagai mediator di keluarga besar, menyangkut keputusan penting. Kalau menyangkut urusan share dari hati ke hati [misalnya: Masa depan] dia orang pertama yang saya cari, dan semua orang dekat boleh ngomong A atau B, tapi cuman omongan Papa yang benar-benar saya pertimbangkan.


Dia tipe family man sejati. Kalau ada ungkapan yang bilang setiap anak perempuan pasti memilih tipe pasangan yang sesuai dengan ayahnya. Itu saya. Dia kiblat. Memang sih, ngga harus plek juga kali, cuman kalau menurut saya, tipe pasangan yang pastinya akan bikin saya klik adalah sedikit banyaknya mirip papa saya. Kenapa saya bilang dia tipefamily man, karena papa saya akan melakukan apapun untuk tiga anak perempuannya. Saya masih ingat, dulu dia bela-belain jalan kaki ke kantornya hanya demi menabung ongkos angkotnya. Saya masih ingat sekali, kita punya beberapa lemari buku di rumah, dan biasanya dia suka menyimpan duitnya diantara selipan-selipan buku itu. Selain itu dia tukang kayu yang handal [bukan berarti pasangan gue musti tukang kayu juga ye bo :P] tapi dia berhasil membuat rak piring sebesar tempat tidur [ini beneran gede looohh..] yang sekarang diletakkan di rumah oma saya, dan membuat beberapa lemari buku di rumah. Dan yang terakhir dia ngga pernah mengeluh kalau di rumah ngga ada makanan. Percaya atau engga, mama saya tidak pernah memasak seumur-umur perkawinan mereka sekarang [bayangkan! Tapi hubungan mereka tetap awet, jadi jangan paksa saya bisa masak ya, whoever nanti ;P]


Papa itu punya senyum yang manis. Yang ini menurun banget di saya ;-P [Hayooo ngaku, senyum gue manis kan? Udah jujur aja hihi] Dia suka sekali ngejokes, itu khasnya dia. Kadang rada garing, tapi saya selalu merindukannya. Dia juga punya gaya ketawa yang khas.


Dia punya kebiasaan yang ngga pernah saya lupa, yaitu mendengarkan radio tiap pagi dan sore [ini kali ya, yang bikin gue jadi penyiar radio sekarang] ditemani dengan teh manis. Ini bisa dibilang quality time yang ngga pernah saya lupa. Disini kita duduk dan biasanya berbagi banyak hal, dari seputar isu dunia sampai isu yang biasa-biasa saja. Waktu itu yang saya ingat adalah Dia sangat mengagumi Kovianan [Sekjen PBB waktu itu] dan bahkan dia juga bilang, jangan-jangan Kovianan itu orang kei [kei itu kampung di Maluku Tenggara, asal papa. Ahhh, papa nih ada-ada aja]


Masih banyak yang lainnya, yang akan saya bahas nantinya. Cuman yang satu ini ngga akan saya lupa sampai mati. Papa ngajarin saya tentang ketulusan! Kutipan terkenal dari dia, sampai sekarang membekas banget di kepala saya adalah “kalau ngelakuin sesuatu untuk orang lain, lakuin dengan tulus! Jangan pernah ngarepin embel-embel apapun”. Dan yang ini ngelotok. Saya jadikan sebagai prinsip hidup. Papa saya keras. Berprinsip. Tapi punya hati yang sangat lembut [yang ini gue banget! Galak! tapi Kita gampang menangis hehe]


Terakhir adalah dia cinta pertama saya. Sampai mati akan begitu. Tidak akan berubah. Banyak kenangan manis bersamanya, yang tidak sanggup saya ungkapkan lewat tulisan. Pesan saya, buat siapapun yang baca tulisan ini, jangan sampai kenangan-kenangan itu hilang dari kepalamu, dan berbagilah dengan semua orang yang kamu sayang.


Terlepas dari ini semua. Papa saya bukan sosok yang sempurna. Dia tetap punya banyak kekurangan. Tapi satu hal yang saya tahu saya bangga jadi anak perempuannya, dan tidak pernah menyesal punya ayah seperti dia. [ini kesimpulan akhir siaran gue hari itu]


Siaran tentang ayah ini saya lakuin di Kamis tanggal 25 Juni 2009 kemaren, sms yang masuk banyak. Berhasil bikin saya berkaca-kaca bacain smsnya, apalagi pas muterin lagunya dance with my father, Luther Vandross [aaahhh sediiihhh huhuhu, gue beneran nangis disini] saya berharap dia masih ada sampai saya menikah nanti. Maaf saya belum bisa kasih apa-apa. Suatu hari nanti, amin. Sebelum terlambat cintailah orang yang kamu panggil papa, seburuk apapun dia.


(30 Juni 2009, 16:02)

fototheoTheoresia Rumthe adalah penyiar Sky FM yang bergabung dengan paduan suara Glorify. Theo juga gemar menulis, terutama puisi.





Kirimkan tulisanmu tentang apaaaaaaaa ... saja ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri dan biodata singkat. Kami tunggu, ya ... =D

Google Twitter FaceBook

4 komentar:

vbi_djenggotten said...

wah...
hari senin udah disuguhi artikel mengharu biru gini...

beberapa hari belakangan ini rasanya kangen ama Bapak saya...

padahal dulu, waktu masih belum merantau, tiap hari ketemu, rasanya pingin segera mandiri aja, biar gak terlalu sering dinasehati ini-itu...dibilangin ini itu...
(klise: saya kan bukan anak kecil lagi...)

namun sekarang suara penuh nasehat itu menjadi sebuah kerinduan...
yang harus terkubur...

Bapak, maaf ya...
semoga Bapak selalu dalam ketenangan dan kebahagiaan di sisi-Nya...
amin

(sori ya, jadi melankolis gini...)

tobucil said...

Aduuuh ... Tobucil ikut terharuuuu ...
Gpp melankolis, kan itu manusiawi ...

Bapak Mas pasti diterima di sisi-Nya. Tobucil percaya dia pasti orangnya baik dan sayang sekali sama anaknya =)

vitarlenology said...

hayu ah jadiin bikin kompilasi tulisan tentang bapak..

Sundea said...

Yuuukkkkk

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin