Sunday, July 12, 2009

Orang-orang Terkasih

 

“Pol, kamu kalau di rumah makannya disuapin gitu juga, nggak ?” tanya Tobuciler pada Polita, salah satu peserta Crafty Kids Club yang sedang makan siang disuapi sang ayah. “Enggak,” sahut Polita. Ayah Polita tersenyum simpul, “Kalau aku bilang iya, gimana ?” “Aku bilang aja papa juga di rumah tidurnya masih dikelonin,” tanggap Polita. Tobuciler tertawa.

Kedekatan keduanya membangun kekenalan istimewa. Yang satu tahu bagaimana membuat yang lain merasa nyaman. Yang satu menjadi utuh karena diterima oleh keutuhan yang lainnya. Sebelum meninggalkan Polita, sang ayah berpesan sambil melirik hp puteri tunggalnya yang tergeletak di meja, “Hp-nya jangan ditinggal-tinggal sembarangan !” Polita menyeringai. Ia meraih hp-nya lalu memeluk sang ayah. “Take care, be a good girl, ya,” pesan ayah Polita seraya mencium kepala gadis kecilnya.

Beberapa saat sesudah meninggalkan Tobucil, ayah Polita kembali lagi. Rupanya justru dialah yang meninggalkan hp-nya di meja beranda. Kekenalan itu saling berikat. Tobuciler tak dapat menahan senyum.

Peristiwa kecil tersebut menginspirasi Tobuciler untuk mengangkat tema “Orang-orang Terkasih” pada blog minggu ini. Ada persahabatan bangsawan Melayu dan asisten residen Belanda di “Rak Tobucil”, ada Ananda Badudu, “Teman Tobucil” yang sangat menyayangi ibunya, ada Theo yang bertutur tentang ayahnya di “Papan Tulis”, ada cerita cinta dalam komik Markus, dan “Salamatahari” mengisahkan teman Sundea yang mirip jendela.

Hari ini, mari membaca orang-orang terkasih di sekitar kita.

Cermati seberapa banyak kita menjadi bagian mereka dan mereka menjadi bagian kita.

Teman-teman, terima kasih karena telah menjadi orang-orang terkasih kami.

Karena kalianlah kami selalu merasa utuh … ^_^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

politadanpapa

Ayah dan Polita

4 komentar:

rana rona said...

bahwa semua rasa kasih dalam diri kita pada orang lain akan membuat kita juga dikasihi?

tobucil said...

Biasanya iya ... ^_^

donlenon said...

Anehnya masih banyak orang yang sepertinya belum merasakan kasih di dunia ini hingga tega meletupkan nyawa sesamanya...

tobucil said...

Iya, betul, Mas Dona ... mungkin kita yg harus sayang duluan, ya, ke mereka, biar mereka tau rasanya ...