Monday, August 17, 2009

Bon dan Winarno

-Tobucil, Rabu 12 Agustus 2009

Klab Menulis Kreatif Anak

“Ini ‘Wisata Kuliner’. Kalian berdua Bon dan Winarno. Siapa yang Bon, siapa yang Winarno ?” tanya Tobuciler pada Reni dan Kayla. “Aku Bon ! Aku Bon !” seru Reni. “Ok. Jadi kamu Winarno, ya, Kay …” kata Tobuciler.

Singkat cerita, Bon dan Winarno menjelma menjadi Bon(a) dan Winarno(wati). Bersama Tobuciler sebagai produser acara, Bon(a) dan Winarno(wati) berwisata kuliner ke Vertex jalan Lombok. Kedua gadis kecil itu langsung memilih jajanan dengan suka ria ; cireng keraton, kaki naga, kentang bumbu, sate susis, dan Jasmine Tea sebagai pelepas dahaga. “Aku belum makan dari tadi pagi, Kak, dompet aku ketinggalan di rumah,” lapor Kayla yang masih mengenakan seragam sekolah.

“Cireng teriyaki ini rasanya … rasa teriyaki,” kata Bon(a) dengan gaya ala pembawa acara. “Teriyaki ? Emang gimana, sih, rasa teriyaki ?” tanya Tobuciler. “Enak, to, mantep, to, mak nyusss …,” sahut Reni ala Mbah Surip campur Bondan Winarno. Tobuciler tertawa, “Gini, deh … ada rasa yang gimana aja di dalem cireng teriyaki kamu ? Asin atau manis atau bahannya apa aja … boleh, lho, sambil nanya-nanya sama mas pembuat cirengnya …”

Maka dengan sukaria Bon(a) dan Winarno(wati) menghambur mewawacarai para pembuat masakan. “Boleh nanya yang lain, nggak, Kak, bukan soal makanan ?” tanya Winarno(wati). “Ya soal makanan, dong, kan ini ‘Wisata Kuliner’,” sahut Tobuciler. Winarno(wati) lalu mendekati Mbak Ani sang pembuat kentang bumbu, “Mbak, mbak, kok mau, sih, jadi penjual kentang ?” DHUERRRR …

ngewawancarambaani

Kayla, Reni, dan Mbak Ani

Hari itu Reni dan Kayla alias Bon(a) dan Winarno(wati) berlatih mendeskripsikan yang dikecap indera mereka. “Biar orang lain yang nggak pernah makan makanan kamu bisa tau rasanya,” jelas Tobuciler. Pada akhirnya kedua gadis kecil yang selalu lapar itu kompak mendeskripsikan rasa cireng. “Pedas dan krenyes-krenyes,” tulis Kayla yang lidahnya sempat terbakar cireng pedas.

Keberlari-larian Bon(a) dan Winarno(wati) tak bisa ditahan. Mereka mencicipi jajanan ini dan itu. Mencermati para pedagang sambil menanyakan apapun yang mereka mau. Mengecap segala yang ingin mereka kecap ; tak hanya dengan lidah.

Vertex sempit dan sesak, tapi bagi anak-anak lapangan tak terbatas ruang. Hari itu untuk pertama kalinya Tobuciler bertanya-tanya, “Kenapa seragam SD merah dan putih lalu tampak berkibar setiap pemakainya berlari-lari ?”

Sundea

Google Twitter FaceBook

3 komentar:

Grace Dwitiya Amianti said...

Hahahaha aku ngakak bacanya, De :D

apalagi yang ini: "Mbak, mbak kok mau jadi penjual kentang?"

Hahahahaha :D ada-ada aja emang Bon(a) dan Winarno(wati) ini...

tobucil said...

Iya, Grace, anak2 gua ini emang lucu2 dan suka surprising. Seru, deh ...

Kapan2 kalo lagi ada kelas ikutan aja, Grace, pasti lo ikut ketawa2 liat kelakuan mereka berdua ... hehehe ....

yorgita said...

hahahahahahaha, kocak bgt tuh si bon(a) ama winarno(wati)
ngakak bacanya xp

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin