Sunday, August 2, 2009

Cara Mendengarkan dan Mengapresiasi Musik dengan Baik

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Pirhot Nababan (via message FB):

Kak Syarafyangselalugalau, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab demi memenuhi rasa galau sebelum mendapatkan gelar sarjana :

1. Bagaimana ciri-ciri sesungguhnya dari orang yang sedang galau?

2. Apakah kegalauan merupakan bentuk dari misorientasi? Atau ekspresi wajar dari kekecewaan individu terhadap hal-hal tertentu, misalnya percetakan…eh, percintaan?
3. Apakah kegalauan dapat berdampak positif? Jika iya, bagaimana caranya? Jika tidak, bagaimana agar tetap bisa menjadi positif? *ngotot mode=on*

4. Apakah rasa galau harus dihindari? Atau justru dibiarkan datang dan dibasmi dengan cara minum minuman beralkohol, memakan makanan haram, dan berkeliling-keliling kota sambil memaki-maki lawan jenis?

5. Sekian dulu. Mungkin Kak Syarafyangselalugalau ada pertanyaan untuk saya?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Bung Pirhot, tentang galau saya ahlinya.

1. Tahukah kau apa itu stress? Pernahkah kepikiran bedanya dengan galau? Pertama, galau dan stress itu beda, dan keduanya tidak nyambung. Stress itu pikiran gundah, galau itu hati yang gundah, sedangkan beda itu embe sama kuda, dan nyambung itu nyaman bareng babi tapi tidak dengan maung. Ketiga, ciri-ciri galau, ya yang begini nih. Yang keduanya mana?

2. Galau itu wajar, dan tidak mesti dua belas tahun seperti yang dicanangkan. Apakah ada hubungannya dengan percintaan? Saya rasa justru lebih berkaitan dengan percetakan. Penemu mesin cetak itu kan namanya Johann Galautenberg.

3. Oh, galau itu sumber inspirasi terbesar. Tuangkanlah kegalauan jadi banyak karya-karya yang inspiratif, eh ini serius, jangan ketawa kamu. Mulailah dengan menulis, menggambar, masak, bunuh orang, atau apapun bakatmu. Pastikan setelah galau berakhir, jejak-jejaknya tersisa dalam sebuah karya. Kau tahu, nabi pun galau kala menerima wahyu. Dan kau tahu pula, wahyu tidak selesai di jaman nabi, kita-kita semua masih mendapatkannya.

4. Saya rasa bung Pirhot ini galau sekali. Galau itu sungguh dekat adanya, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri, itu ada dalam Al-Quran, tapi kata galau diganti Allah. Jadi mustahil menghindari galau. Saran saya sih, nikmati saja kegalauan, anggap saja dia makanan di meja makanmu. Kalau lapar makanlah, kalau tidak lapar, makan aja kalau emang enak makanannya. Kalau lapar tapi tidak ada makanan, belilah ke luar, kalau tidak ada uang, maka mintalah sama tetangga. Itu gunanya tetangga.

5. Ada. Hidup revolusi!

Pertanyaan dari Ngodongmong (via Yahoo Messenger):

Hai Kak Syaraf, saya mau nanya tentang musik, dan mohon dijawab serius nih hehehe. Bagaimana caranya mendengarkan dan mengapresiasi musik dengan baik? Itu saja pertanyaannya, terimakasih.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, nama kamu yang bener Ngomongdong kali ya? Coba cek aktenya. Yang pertama adalah, jangan kira segala ilmu pengetahuan tentang musik akan mendekatkanmu pada apresiasi yang baik. Sungguh, seringnya, ilmu tentang musik malah menjauhkanmu pada pendengaran yang hakiki. Kau tahu, semakin banyak tahu, maka semakin banyak aspek yang diteliti, dan kadang-kadang melupakan bagaimana mendengarkan musik itu sendiri, yang mana secara common sense biasa-biasa aja hasilnya cuma dua: enak atau tidak enak. Hal terpenting dari mendengarkan adalah menghilangkan prasangka. Jadi kala mendengarkan, tak perlu tahu secara personal siapa yang main, kalaupun tahu, tak usah dipikirkan. Lalu, tak perlu dibawa-bawa itu yang namanya selera musik, itu awal mula kita susah mendengarkan yang lain. Yang, keberapa ini ya? Berempatilah. Mencoba jadi si pemain, mencoba jadi si komposer, untuk lebih memahami kira-kira apa yang dia mau, dan menghargai usahanya. Nah, ilmu pengetahuan disini akan membantu kita untuk berempati, asal jangan disalahgunakan seperti yang saya bilang tadi. Misal kita punya pengetahuan bahwa bermain biola itu sulit, maka kita akan mudah berempati pada pemain biola. Begitu saja tipsnya, niscaya jika kita memurnikan pendengaran, maka segala musik adalah baik, benar, dan berguna adanya.

---

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf Maulini akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin