Sunday, August 2, 2009

Di Eropa, R.E Hartanto Mendengarkan Kesunyian

mainpicSekembalinya berjalan-jalan di Eropa selama hampir satu bulan, Rudolfo Eduardo Hartanto berkunjung ke Tobucil. Setelah temu kangen dan membagikan oleh-oleh untuk segenap masyarakat Tobucil, Tobuciler menanggap seniman kondang itu sebagai “Teman Tobucil”.

Wawancara yang Tobuciler pikir akan dagelan, ternyata bergulir menjadi obrolan yang serius, teoritis, dan kontemplatif. Wow !

Tobucil : Kemaren katanya abis jalan-jalan, ya, Mas Tanto ? Ke mana aja ?

Mas Tanto : Belanda, Italia, dan Spanyol.

Tobucil : Wow … seru sekali. Dalam rangka apa, nih ?

Mas Tanto : Vakansi. Saya ke Eropa sebenernya tujuan utamanya ke Itali, mau lihat pameran dua taunan, pameran besar Venice biennale. Selain itu juga pengen liat museum-museum di Eropa.

Tobucil : Hmm … menurut Mas Tanto, apa perbedaan yang paling keliatan antara museum di Eropa dan di sini ?

Mas Tanto : Barangkali di Eropa emang jantung seni rupa, jadi banyak pameran yang bagus-bagus. Tempatnya bagus, penyelenggaranya profesional, sehingga (karya) yang biasanya cuma bisa diliat di buku-buku bisa diliat langsung.

Tobucil : Contohnya karya siapa ?

Mas Tanto : Yang paling menyentuh hati Joaquin Sorolla. Dia pelukis Spanyol taun 1900 yang sangat dipengaruhi oleh aliran impresionis, tapi dari Spanyol, bukan dari Perancis. Mungkin kita bisa samain sama … ini, musik jazz kan dari Amerika. Tapi ketika Brazil bikin musik jazz, dia kan bisa menciptakan karakter tersendiri. Lukisan Perancis kan warnananya cenderung dingin dan Sorolla bisa menciptakan karakter impresionisme ala Spanyol. Persisnya ala Sorolla sendiri, sih …

Tobucil : Jadi … impresionisme itu sebenernya aliran yang gimana ?

Mas Tanto : Berusaha mencari spontanitas yang nggak ada di realisme, ini embrionya seni abstrak. Realisme itu seperti musik klasik yang harus membaca partitur. Impersionisme seperti musik jazz yang kaya improvisasi dan sangat mengandalkan intuisi. Menurut saya itu susah banget. Nah, Sorolla sendiri pendidikannya klasik. Tapi kayaknya dia bosen di studio karena udah nggak menantang lagi. Makanya dia keluar (dari studio). Dia melukis di luar, artinya sangat dipengaruhi cahaya (yang terus berubah dan bergerak). Kita harus bekerja alla prima, sekali jadi. Seniman impresionisme itu bukan sekedar menangkap obyeknya, tapi ambience-nya.

Tobucil : Kemaren jangan-jangan Mas Tanto jalan-jalan karena bosen juga sama studio, ya ?

Mas Tanto : Nih, saya terus terang aja, nih. Karya yang saya kerjakan ini udah lebih dari dua taun. Ada lebih dari 60 karya di atas kanvas, ada banyak karya gambar, video, saya ngerasa daur hidupnya udah mau bais. Saya berencana membuat seri berikutnya, tapi belum ajeg, baik landasan konsep maupun artistiknya. Jadi berkarya itu kayak manufaktur ; ada output, ada input. Jadi sebetulnya saya liburan ke Eropa untuk mendapatkan input. Saya duduk-duduk, makan di restoran, itu untuk input. Saya belum tahu mana yang akan digunakan untuk karya saya, tapi saya sudah siap bereksperimen.

Tobucil : Apa input yang paling inspiratif selama ke sana ?

Mas Tanto : Di Eropa, di Belanda, saya menemukan beberapa tempat yang sangat sepi. Ada kursi kecil-kecil, ada burung-burung … menurut saya suasananya sangat kontemplatif. Menurut saya, dari semua yang saya lihat, saya malah merasa paling terinspirasi waktu nggak ngeliat apa-apa. Saya nggak tau, sih, inspirasi apa yang saya dapatkan … tapi saya merasa kaya di tengah kesepian.

Tobucil : Coba … kira-kira apa yang bikin Mas Tanto ngerasa kaya ?

Mas Tanto : Saya pikir gini, ya. Ketika kita ada pada situasi di mana kita nggak banyak mikir, kita bener-bener konsentrasi pada saat itu, mustinya kita mendapati banyak banget yang bisa kita syukuri. Saya nggak ngerasa banyak masalah yang berarti, merasa utuh dalam artian saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar lagi. Saya merasa saat itu jiwa spiritual saya terisi, tidak banyak distraksi.

Sinar matahari yang menembus dari sela dedaunan membentuk motif di meja putih dan lengan Mas Tanto. “Nah, cahaya- cahaya yang begini, nih, impresionisme sekali,” ujar Mas Tanto. Tobuciler mengamatinya. Motif hitam-kuning yang seperti tato temporer itu memberi kesan tertentu yang entah apa. Sebuah impresi yang intuitif. Sebentuk inspirasi yang mungkin mirip dengan yang dirasakan Mas Tanto ketika duduk-duduk di tempat sepi di Belanda.

Hari itu Tobuciler mendapati betapa sederhananya hal-hal yang menampung keindahan tak berbatas …

Sundea

 

fotodua

fototiga

Biodata R.E Hartanto :

biodatamastanto

Google Twitter FaceBook

2 komentar:

XPERIMENTq said...

inspirasi di tengah kesunyian. mendapatkan banyak hal ketika tidak ada apa-apa. mungkin bisa disesuaikan dengan kata2 Wimar Witoelar : if we are nothing, we can receive everything.
itulah kenapa mungkin, saya begitu merindukan suasana sepi. Supaya bisa bercakap dengan batin. Supaya nyawa bisa tersambung. Dan karya bisa tercipta dalam benang merah yang cantik.
Saya di Surabaya. Keberadaan Tobucil ini membuat air liur saya menetes berember-ember. dengan komunitas, hobi dan sepetak ruangan penuh buku tebal [lihat di TV bbrp waktu lalu]. semoga ada Tobucil lain di kota saya ini. Saya tunggu ya...

UfukTimurNara said...

Pantes! Kalau sedang naik bus, terus ada pengamen nyanyi, entah kenapa lirik2 lagu yg sebenarnya nggak benar2 saya suka, bisa jadi terperhatikan dengan lebih baik, dan kadang aku baru sadar kalau lirik di beberapa lagu ternyata bagus2! Lebih dari itu.. merasuk meski di tengah bising Jakarta yg bikin penat..

Bagaimanapun kesunyian mungkin lebih ke situasi di mana kita sadar sedang sendiri. Kebisingan kadang bikin kita-secara otomatis menciptakan sebuah kepompong pelindung sebagai alternatif kesadaran biar otak kita bisa lebih santai di tengah bising.

Percaya nggak percaya kadang nyanyian pengamen bikin mata berkaca-kaca, lagu2nya Iwan Fals, Franky & Ebiet, mereka yg paling sadis!

"Duduk sini nak dekat sama bapak, jangan kau ganggu ibumu. Turunlah lekas dari pangkuannya, engkau lelaki kelak sendiri.."

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin