Monday, August 17, 2009

Garda Depan Revolusi Bertanya

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini






Pertanyaan dari Garda Depan Revolusi (via message FB):

Selamat malam Mbah Sarap, yang selalu menggendong kemana2. Saya ada pertanyaan :
1. Dari unsur apakah seorang pria dapat dilihat sikap gentlemen-nya? Apakah dari “3 TA” (harTA, tahTA, waniTA), atau dari SARIP (Suku, Agama, Ras, IPK) ?
2. Apa yang seharusnya kita lakukan jika kita menabrak mobil dari supir angkot?
3. Saya ingin membuat sebuah karya epik berjudul “The Galau Concerto” dan “Jomblo Maning Suite”. Kemanakah saya harus berguru mengenai komposisi, agar kedua karya saya itu dapat diterima oleh khalayak ramai secara umum, dan para jombloers secara khusus?
Sekian dan terima kasih. I LOVE YOU FULL.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai, Garda Depan Revolusi. Kau ini apanya Garda Oto atau Garda Pancasila?

  1. Keseluruhan itu bukanlah ukuran ke-gentlemen-an seorang pria, baik 3TA maupun SARIP, itu adalah macam-macam racun dunia. Sebelum masuk ke ukuran ke-gentlemen-an, saya akan kasih tips untuk mengukur kesalehan, yakni dengan SARIP juga: Serahkanlah Amalanmu seolah kau akan Rest In Peace besok. Kesalehan yang lebih dalam juga bisa diukur lewat SARIP, apa itu? Ya kau liat aja si SARIP. Oke, gentlemen yah, pakai saja 3TA, Tamat Alquran, Tamat Adzan langsung solat, lalu Tamat Artinya selesai. Tapi itu masih kesalehan, maklum nih mau puasa. Ke-gentlemen-an sebenarnya tidak bisa diukur sih, sering-sering aja nonton film Gone With The Wind dan Maria Ozawa.
  2. Yang pertama, jangan salahkan wasit biarpun mereka sama-sama goblok. Tapi itu bukan berarti pekerjaan wasit lebih mulia, karena tanpa angkot, tidak ada wasit yang naik angkot. Sedangkan tanpa wasit, supir angkot masihlah eksis. Kau tahu, di bangku angkot derajat manusia sama semua. Hanya jika di hadapan Allah, yang membedakan adalah amal ibadah, sedangkan jika di angkot, yang membedakan adalah lebar pantatmu. Amal ibadah menentukan surga neraka, lebar pantat menentukan apakah sang bangku tetap relevan menampung kiri tujuh kanan lima. Jadi ketika kau menabrak angkot, ingatlah betapa mulianya sang supir menyamakan derajat para manusia. Dalam angkot, presiden dan tukang becak adalah sama, tapi presiden gendut dihitung dua, dan tukang becak kalo kalo naik angkot, becaknya dikemanakan? Setelah kau berpikir demikian, bawalah angkot yang kau tabrak ke bengkel, dan simpan umpatan goblok hanya dalam hatimu semata.
  3. Saya ingat, di Bandung ada beberapa komposer semisal Fauzie Wiriadisastra, Diecky K. Indrapradja, dan Royke B. Koapaha, dan coba kau minta sama mereka, dijamin tak akan diberi. Untuk menimbulkan efek galau, kau bisa coba dengarkan lagu-lagu Frank Zappa, ia menggunakan sedikit saja nada dan memutarnya berulang-ulang hingga selesai satu karya. Tidakkah galau adalah demikian? Kau memasalahkan persoalan yang itu-itu juga, tapi memutar-mutarkan hingga pusing kepala? Untuk jomblo maning suite, kau bisa coba dengarkan karya John Cage yang berjudul 4’33’’, yang berisi tentang keheningan selama empat menit tiga puluh tiga detik. Bukankah begitu rasanya jomblo? Hening maning? Nah sekarang tinggal kau atur waktunya tergantung lama jomblomu, bisa 1254’475000’’ atau lebih lama lagi, terserah.
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin