Sore itu Tobucil tersihir. Penyihirnya adalah duo Maryam Supraba dan Cahyo Harrimurti. Meski berduet, mereka tetap menamainya satu: Saguaro. Lagu yang dimainkan amat banyak, sepuluh lagu. Namun semuanya, jujur saja, punya daya magi. Kadang lewat liriknya, kadang lewat lantunan lirih dan gemulai gerak sang penyanyi, dan kadang lewat kocokan gitar sang gitaris. Penonton yang mengapresiasi jumlahnya tak banyak, tapi terasa padat. Sepuluh lagu itu macam-macam temanya, ada tentang dedikasi Maryam pada ayahandanya, almarhum W.S. Rendra, ada tentang curhatnya pada kucing, serta, ini yang pikir Tobuciler paling menarik, lagu yang berjudul keroncong suka-suka. Ini cerita tentang seorang yang mendengarkan keroncong di radio, dan ingin meniru nyanyian tersebut namun tak bisa, jadilah Maryam, sang vokalis, menyanyikan nada-nada fals yang melengking, namun tetap, tetap, magis. Dan di bagian menjelang akhir, Maryam menyanyikan sepotong frasa dari Bengawan Solo dengan fals. Fals lazimnya tak enak, tapi ini enak. Belum lagi petikan gitar Cahyo yang perkusif, begitu komplit ia menyajikan efek bas, melodi, harmoni, hingga drum. Duo yang apik.
Saguaro berdiri tahun 1997 dari pertemanan. Awalnya jumlah personilnya berdua, lalu jadi berlima. Namun empat tahun mereka berkarya, mulailah satu persatu meninggalkan Saguaro. Dipecat? Tidak, tidak, kata Maryam, ia tak pernah pecat-pecatan. Masing-masing mundur karena suatu alasan, alasan kerjaan. Jadilah Saguaro kembali berdua, berdualah Saguaro.
Magi Saguaro
Saguaro ini sukses mengisi Musik Sore Tobucil edisi spesial. Kenapa spesial? Karena dibuat pas Crafty Days, acara tahunan Tobucil. Sebagai pembuka Saguaro, disuguhkan KlabKlassik Galau Band. Yakni penggiat komunitas musik klasik yang mendadak galau dan menampilkan lagu-lagu galau. Siapakah mereka? Yakni Afifa Ayu pada vokal-biola, Yunus pada gitar, Syarif pada gitar, dan Bery pada drum. Memainkan enam karya nostalgia maupun masa kini, membuat penonton lebih tertarik pada benang gratis. Namun ada perubahan serius kala Mbak Theo Kullit ikut menyanyikan lagu When I Fall In Love. Suaranya ternyata empuk, ringan, dan indah, tidak seperti dalam bayangan Tobuciler sebelumnya, seperti Peabo Bryson. Meski KlabKlassik Galau Band tak semagi Saguaro, tapi mereka sukses membuat lirik yang dipelesetkan dari 17 Agustus 1945, yang diusulkan Mbak Tarlen untuk jadi soundtrack Crafty Days:
16 Agustus tahun nol sembilan
Inilah hari kita merajut benang
Bikin boneka
Jual cinderamata
Asal jangan paksa memaksa agama
Crafty Days
Sekali Crafty Days tetap Crafty Days
Selama hayat masih di kandung badan
Kita rajut, kecos, semua benang
Asalkan kita semua senang
Kita rajut, kecos, semua benang
Yang penting jangan MLM
”Tapi MLM pasti ada loh, kan sekarang sore mau berakhir,” Dea nyeletuk di akhir lagu. ”Itu mah MaLeM, Deaaaaaaa...” kata semua. Gerrrrrr
Mc bocor kita mengajak hadirin ikut menyanyi
ada lebih banyak foto Crafty Days di flickr Tobucil
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment